Extreme Measure – Tentang Etika Riset


“Kalau kamu bisa menyembuhkan penyakit kanker dengan membunuh satu orang, tidaklah kamu akan melakukannya?”, kata Dr. Lawrence Myrick , seorang dokter ahli saraf dan bedah RS Gramercy yang melakukan riset regenerasi syaraf lengkap, kepada Dr. Guy Luthan. Dialog tersebut dapat kita temukan dalam film “Extreme Measure”, sebuah thriller tahun 90-an yang bukunya dibuat oleh Michael Palmer.

Riset Dr Myrick tersebut diilhami oleh tayangan TV yang memperlihatkan tikus-tikus yang mengalami kerusakan saraf tulang punggung belakang dan berhasil di-regenerasi. Dr Myrick berguman,” Lima milyar tikus-tikus pasti akan bersukaria karena berita ini”. Dengan dibantu oleh Dr. Mingus, Dr. Myrick memulai riset dan experimennya dengan menggunakan tubuh manusia yang masih hidup (dalam istilah kedokteran dikenal dengan nama “vivisection”).

Dr. Guy Luthan (diperankan oleh Hugh Grant) adalah dokter Inggris yang bekerja di sebuah RS New York dan American Health Care System. Dia sedang bertugas ketika seorang gelandangan dibawa ke rumah sakit dengan denyut jantung yang naik turun dengan sangat tajam, memiliki gelang (sebagai tanda pengenal) medis yang tidak teridenttikasi dan akhirnya meninggal di meja dokter. Dr . Luthan tidak dapat sepenuhnya memahami kematian tersebut, dan memutuskan untuk mencari tahu lebih lanjut tentang penyebab kematian tersebut. Tetapi dia hanya menemukan para staff yang menghalang-halangi observasi yang dilakukannya dan banyaknya catatan-catatan yang hilang.

Dalam usaha mencari kebenaran tersebut, akhirnya Dr. Luthan mendapati menemukan penyimpangan hukum yang dilakukan oleh Dr Myrick dalam risetnya, karena menggunakan manusia (gelandangan dan pengemis) sebagai eksperimennya, dan bukan binatang. Dr. Luthan memutuskan untuk menghentikan rencana riset tersebut.

Dalam usaha menghentikan riset tersebut, Dr. Luthan harus berhadapan dengan agen-agen FBI yang melindungi riset penting tersebut, sebelum akhirnya tertembak dan dibawa ke Rumah Sakit tempat Dr. Myrick melakukan risetnya.

Setelah satu minggu berada di RS Gramercy, Dr. Luthan siuman dan mendapati dirinya tidak bisa menggerakkan anggota tubuhnya. Air matanya mengalir ketika Dr. Mingus menjelaskan tentang kelumpuhan yang dideritanya karena tulang punggungnya keenamnya telah patah. Dr Luthan akhirnya bertemu dengan Dr Myrick, dan terjadilah dialog.

“Berikan aku 500 g pottasium klorida di jarum infus”, kata Dr. Luthan dengan wajah putus asa

“Bagaimana jika kamu punya harapan untuk disembuhkan?”, kata Dr. Myrick sambil pura-pura memeriksa catatan medis.

“Apa maksud kamu?”, tanya Dr. Luthan dengan wajah penuh tanda tanya.

“Dr. Luthan, apa yang akan kamu korbankan, untuk mendapatkan harapan itu?”, tanya Dr. Myrick sambil menatap tajam wajah Dr. Luthan.

“Apapun”, kata Dr. Luthan dengan lirih dan tatapan mata yang kosong.

“Apapun”, tegas Dr Myrick sambil berlalu meninggalkan Dr. Luthan.

Kelumpuhan yang dialami oleh Dr. Luthan ternyata bersifat sementara dan hanya diakibatkan oleh obat bius. Dalam usahanya untuk lari dan keluar dari rumah sakit tersebut, setelah melewati para pengawal, akhirnya Dr. Luthan bertemu kembali dengan Dr. Myrick di lobby rumah sakit.

“Kenapa kamu lakukan percobaan ini?”, tanya Dr. Luthan sambil memegang lengan kirinya yang terluka, sementara tangan kirinya memegang pistol yang berhasil direbut dari pengawal rumah sakit.

“Dr. Luthan, aku menemukan pola regenerasi syaraf lengkap. Dan kalau riset ini berhasil dilakukan, maka akan semua penyakit akan disembuhkan. Helen sudah 12 tahun lumpuh, dan sekarang harapannya untuk berjalan normal tergantung pada hasil riset ini”, kata Dr. Myrick berjalan perlahan dan memegang kursi roda Helen, resepsionis rumah sakit tersebut.

“Tetapi kenapa kamu menggunakan manusia untuk riset kamu?” seru Dr. Luthan

“Aku perlu percobaan manusia, karena setiap spesies berbeda. 3 tahun dengan tikus, 5 tahun dengan simpanse, dan sekarang aku perlu manusia”, jawab Dr.Myrick.

“Mereka bukan korban, tetapi mereka itu pahlawan. Para gelandangan ini tidak punya harapan hidup yang baik. Mereka kesepian, dan tidak punya apa-apa. Jadi kalau aku menggunakan tubuh mereka untuk eksperimenku, aku menjadikan mereka pahlawan. Setiap tahun ribuan orang tewas secara sia-sia, akibat perang, bencana, dan kecelakaan. Umurku sudah 68 tahun, aku ingin melakukan hal yang baik bagi kehidupan manusia ke depan”, lanjut Dr. Myrick dengan tenang.

“Dr. Luthan, ketika aku bertanya kepada kamu, apa yang akan kamu lakukan untuk mendapatkan harapan hidup?. Apapun. Itu jawaban kamu bukan?”, lanjut Dr. Myrick sambil menatap tajam Dr. Luthan. “Kalau kamu bisa menyembuhkan penyakit kanker dengan membunuh satu orang, tidaklah kamu akan melakukannya?”.

“Yah..mungkin kamu benar. Mereka mungkin memang tidak punya harapan. Mereka adalah pahlawan, mereka lakukan hal yang hebat”, kata Dr. Luthan sambil menghela nafas.

“Tetapi itu bukan pilihan mereka,” tegas Dr. Luthan. ” Kamu yang memilih mereka. Mereka tidak memilih secara sukarela. Kamu membunuh mereka. Kamu tidak bisa lakukan itu. Karena kamu adalah dokter, kamu terikat sumpah. Kamu bukan TUHAN. Kamu seharusnya dihukum”.

Terjadilah perebutan pistol, ketika pengawal RS siuman dari pingsannya, dan Dr. Myrickpun tertembak. Sebelum meninggal, Dr. Myrick memegang tangan Dr. Luthan, sambil berkata lirih “Tolong bantu aku. Kumohon”.

Adegan film ini ditutup ketika di depan RS New York, seorang wanita separo baya menemui Dr. Luthan, dan memperkenalkan dirinya sebagai Ruth Myrick, istri Dr. Myrick.

“Beberapa hari setelah suamiku meninggal, aku sedang menimbang-nimbang akan aku apakan kertas-kertas ini. Dan aku memutuskan untuk memberikannya kepadamu”, kata Ruth Myrick sambil menyerahkan data-data riset suaminya kepada Dr. Luthan.

“Kenapa aku?”, tanya Dr. Luthan dengan wajah tidak mengerti.

“Aku percaya ada harapan. Suamiku coba melakukan hal yang baik dengan cara yang salah. Mungkin kamu bisa lakukan dengan cara yang benar”, kata Ruth Myrick. Kemudian dia meninggalkan Dr. Luthan yang masih terpaku di tempatnya berdiri.

Film ini sangat menarik karena berbicara tentang masalah etika dalam research community. Riset yang bertujuan baik, tetapi dilakukan dengan membunuh manusia yang hidup tentu saja bertentangan dengan hukum. Jangankan manusia yang hidup, menggunakan mayat untuk eksperimen dan riset masih menjadi perdebatan soal etika dan hukum.

Tahun 2001 terjadi skandal mayat di Sydney, ketika TV lokal memberitakan adanya penjarahan organ manusia untuk kepentingan riset. Digambarkan kamar mayat Glebe, Sydney, sebagai “swalayan” organ tubuh untuk para peneliti medis. Mereka bisa mendapatkan apapun yang dibutuhkan untuk riset. Prof. John Hilton, mantan kepala kamar mayat dan Ketua Lembaga Kedokteran Forensik NSW mengatakan, sekitar 1.000 jenazah setiap tahun yang keluar dari kamar mayat untuk dikubur – tidak memiliki otak lagi.

Tetapi yang dipersoalkan pada saat itu bukan dari aspek etika, tetapi lebih kepada aspek legalitas dari kacamata hukum yaitu tidak adanya ijin dari yang berhak atau yang berkepentingan dengan mayat-mayat itu.

Perdebatan lebih kanjut yang bisa terjadi- terkait dengan film tersebut – terkait dengan isu: jika orang secara sukarela ingin menjadikan dirinya eksperimen untuk keperluan riset, apakah secara etika diperbolehkan.

Jawabannya tentu akan memerlukan perdebatan yang luar biasa seru dan panjang, karena harus dilihat dari berbagai aspek hukum, sosial, budaya, dan agama. Tetapi inilah yang harus menjadi tantangan dan pergumulan bagi agama-agama untuk memberikan jawaban terhadap kebutuhan ilmu pengetahuan tersebut.

2 responses to “Extreme Measure – Tentang Etika Riset

  1. Nice!!!
    Just make more reading…………

  2. sometimes, the goal must be save for a long time

Leave a reply to rita luther Cancel reply