Kecian Deh Yu dan Empati Sosial (Sebuah Refleksi menjelang Natal)


“Kecian deh yu”, teriak anak saya yang baru berumur dua tahun lima bulan dalam suatu kesempatan. Untuk sesaat saya dibuat kaget dan terbengong dengan teriakan anak saya itu. Setiap minggu saya pasti dibuat terbengong dengan penguasaan kosa kata baru anak saya itu. Karena penasaran ingin tahu darimana anak saya mendapatkan kosa kata itu, saya menanyakan ke perawat anak saya. “Oh, itu dari anak-anak tetangga. Kemarin mereka saling mengolok-olok”, ujar perawat anak saya. Anak saya masih kesulitan untuk mengucapkan huruf “L”, sehingga berbunyi “Y”. Maka dalam suatu kesempatan ketika anak saya bilang ingin makan pecel “yeye”, tentu saja maksudnya pecel lele.

“Kecian deh lu” dewasa ini sudah menjadi idiom umum yang dipakai oleh masyarakat untuk memperolok-olok orang lain. Banyak yang menggunakannya sekedar untuk bercanda dengan orang lain tentang ketidakmujuran orang tersebut. Namanya juga olok-olokan, semestinya orang yang terkena olokan tersebut tidak perlu marah dan jengkel karenanya.
Tetapi juga tidak sedikit yang menggunakannya untuk memperolok-olok orang secara serius, dan mentertawakan ketidakmujuran atau kesialan orang lain. Serius disini tentu maksudnya tidak berarti harus diucapkan dengan mimik serius, tetapi diucapkan dengan perasaan yang menyatakan ketidakpedulian terhadap apa yang dialami orang lain. “Ah itu khan urusan orang lain, kenapa mesti ikut mikirin ?”, mungkin seperti itulah pikirannya.

Barangkali ketika Yesus lahirpun, orang-orang juga hanya bisa berolok-olok,”Kasihan ya, harus lahir ditempat yang tidak layak”. Seperti layaknya pemilik penginapan yang menolak memberikan tempat kepada Maria dan Yusuf untuk bermalam. Penolakan tentu saja bagian dari olok-olokan tentang ketidakmujuran yang dialami oleh Maria dan Yusuf. Tak ada rasa empati dari orang-orang yang melihat kesulitan Maria dan Yusuf ketika mencari penginapan. Tentu saja bukan karena Maria dan Yusuf telah di-“predestinasi”-kan oleh Nabi Micha untuk melahirkan bayi mereka di kandang domba, yang membuat kedua pasangan ini kesulitan mendapatkan penginapan tersebut. Tetapi karena situasi masyarakat kota yang dijuluki “Kota Roti” itu yang berada dibawah kekuasaan Romawi. Sikap saling mencurigai antar masyarakat yang sangat tinggi dengan dibarengi oleh perbedaan tingkat sosial masyarakat menjadi salah satu ciri daerah jajahan.

Hanya orang-orang yang memiliki kedudukan, kekuasaan, dan akses perekonomian yang dihargai dan mendapatkan tempat terhormat dalam masyarakat.
Maka ungkapan “siapa kamu?” dan “apa yang kamu punya?” akan menjadi dasar pertimbangan bagi masyarakat kota bethlehem dalam berinteraksi dengan orang lain. Maka tidak mengherankan tidak ada tempat bagi tumbuhnya empati sosial dalam situasi masyarakat yang demikian. Pemilik penginapan melihat, pasangan Yusuf dan Maria tidak memiliki “apa-apa” sehingga tidak akan ada kompensasi apapun yang diperoleh kalau memberikan tempat kepada kedua pasangan tersebut, selain kerugian finansial.

Situasi masyarakat yang demikian yang saat ini juga kita hadapi. Sejak krisis ekonomi tahun 1997, terjadi kesenjangan sosial dan ekonomi yang semakin tinggi di masyarakat. Krisis multidimensi ini juga meruntuhkan sendi-sendi hubungan sosial kemasyarakatan yang selama ini terlihat sangat harmonis, walaupun semu.
Hubungan antar masyarakat yang menegang dan merenggang, seiring dengan terbukanya kran kebebasan berlabelkan “reformasi”, maka masyakarat menjadi suatu entitas yang semakin tidak peduli satu dengan lain, lebih mengedepankan kepentingan sendiri dan kelompok. Maka tidak mengherankan juga, rasa kesetiakawanan dan kepeduliannya semakin tipis.

Lihatlah polah tingkah para politisi yang berebut kekuasaan, para pengusaha yang berebut lahan baru pasca reformasi digulirkan, kelompok-kelompok masyarakat yang mulai menonjolkan isu sektarian. Korbannya adalah masyarakat yang tidak memiliki akses ekonomi dan kekuasaan, masyarakat yang menjadi obyek ketidakadilan oleh kekuasaan atau yang “merasa” memiliki kuasa (sehingga bertindak seolah-olah mewakili kekuasaan).
Dalam situasi masyarakat yang demikian, maka ungkapan “Kecian deh lu” sebenarnya sudah menjadi suatu idiom yang menyakitkan, yang berkembang di dalam masyarakat, dan tanpa kita sadari masuk dalam relung-relung pikiran dan hati masyarakat kita , sebagai suatu pelepasan perasaan atas ketidakpedulilan terhadap orang lain.

Natal mengajarkan sesuatu yang berbeda kepada manusia. Natal mengajarkan solidaritas Allah kepada manusia, ketika bayi Yesus dilahirkan di sebuah tempat yang sangat sederhana, bahkan tidak layak untuk sebuah kelahiran seorang manusia. Natal mengajarkan bagaimana solidaritas itu dibangun dalam sebuah kesadaran untuk ber-empati kepada kondisi manusia. Kelahiran Yesus membangun budaya empati, kebersamaan, saling peduli, dan persaudaraan ketika terjadi relasi antara para gembala dan para sarjana dari Timur yang datang ke palungan.

Natal mengajarkan kepada kita untuk tidak mentertawakan kesialan, ketidakmujuran, atau penderitaan orang lain, sebagai akibat ketidakberdayaannya terhadap berbagai tekanan kekuasaan, ekonomi, alam, ataupun kelompok dalam masyarakat.

Peristiwa Natal menjadi suatu momentum untuk membangun kesadaran untuk saling menghormati dan mengasihi sesama manusia, kesediaan untuk berkorban, dan saling bertanggung jawab atas nasib sesama manusia.

Comments are closed.