Oleh: Sigit. B. Darmawan
Rabu, 10 Januari 2007
Mendadak pagi ini aku teringat tetanggaku. Seorang bapak, yang berusia kurang lebih 50 tahun. Dia sudah beristri dan beranak dua. Aku tahu ada masalah keluarga yang sangat berat, yang dihadapinya. Sudah satu bulan ini aku tidak bertemu dengannya. Ah, apa khabarnya sekarang!
Aku teringat pertemuan dengannya saat bulan puasa tahun lalu. Di pagi hari saat aku bersiap untuk ke kantor, dia berjalan gontai kearahku. Wajahnya kelihatan murung. Tapi masih dia paksakan untuk tersenyum kepadaku. Aku menyapanya sejenak. Saat aku mulai akan masuk ke mobilku, tanpa terduga dia berbalik. Dengan wajah sedih, dia berkeluh kesah tentang dirinya, dan keluarganya. Betapa terlantarnya dia saat ini di tengah keluarganya sendiri. Istri dan anaknya sudah “mengusir” nya untuk tinggal di dalam rumah, sehingga dengan terpaksa dia harus tidur di depan rumahnya atau emperan rumah tetangga yang kosong.
Aku sudah menduga-duga sebelumnya. Karena dia sering bertengkar dengan istrinya, dengan suara yang sangat keras. Istrinyapun, dengan dibantu anaknya laki-laki, berteriak tidak kalah kerasnya. Tidak siang, tidak malam. Sebenarnya aku dan keluargaku sudah sangat terganggu dengan hal pertengkaran mereka. Demikian juga anak-anakku. Tapi apa mau dikata, suami istri itu kelihatannya sulit berdamai.
Pagi itu lelaki itu bercerita tentang tersingkirnya dia dari keluarganya, sejak dia terkena stroke sampai dia harus keluar dari pekerjaannya. Air matanya mulai berkaca-kaca. Dengan gemetar, dia membuka dompetnya. Dompet yang sudah sangat lusuh. Tidak banyak isinya. Tapi ada gambar lelaki muda yang sangat gagah dan tampan. “Ini adalah photo saya 5 tahun lalu”, katanya dengan menyisakan sedikit kebanggaan. Aku melihat sejenak foto itu, dan mencoba membandingkannya dengan yang sekarang. Betapa berbedanya! Raut wajah yang kelihatan tua, dengan kulit yang kecoklatan dan berkeriput. Betapa waktu 5 tahun sudah mengubah penampilannya secara drastis.
Lelaki itu bercerita betapa hidupnya sudah penuh dengan kepahitan terhadap istrinya. Konflik dalam keluarga yang sudah sedemikian parah telah menggerogoti tubuhnya, merusak penampilannya, dan akhirnya menjadi lelaki yang tanpa daya. Dicaci maki oleh istrinya, bahkan oleh anaknya sendiri. Mungkin saja lelaki itu juga sudah membuat kesalahan kepada keluarganya. Dan tidak segera memperbaikinya. Benih kepahitanpun tertanam.
Kepahitan itu sungguh merusak. Sumbernya bisa bermacam-macam. Bisa karena dikecewakan, disakiti, dihina, tidak dihargai. Dan ini bisa sengaja atau tidak disengaja. Sadar atau tidak sadar. Yang perlu kita lakukan adalah introspeksi, peka dengan reaksi orang, hati-hati dalam berkata dan bertindak, pupuk rasa menghargai, rendah hati untuk meminta maaf dan memaafkan.
Maaf. Itulah kunci untuk memulihkan kepahitan. Bersedia untuk memaafkan orang yang sudah menanam kepahitan dalam hidup kita. Dan bersedia untuk meminta maaf kepada orang lain, supaya tidak tumbuh kepahitan dalam diri orang lain karena tindakan kita.
Namun “empat huruf” itu ternyata tidak mudah dilakukan. Perlu kebesaran jiwa, kedalaman berpikir dan kerelaan hati untuk mengucapkan kata “maaf”. Berdamai dengan diri sendiri akan menjadi langkah awal untuk pengampunan kepada orang lain.
Ah! Lelaki itu sudah mengajarkan sesuatu kepadaku. Walaupun aku tidak mampu membantu persoalannya, tetapi setidak-tidaknya pemberian satu kaleng biskuit untuk berbuka puasanya mudah-mudahan meringankan kepahitan hidupnya. Dan tentu saja aku berdoa untuknya dan keluarganya. Tuhan bisa dan sanggup untuk mengubah hati manusia.