Daily Archives: April 24, 2007

Tentang kekerasan di IPDN

Kasus penganiayaan di institusi pendidikan IPDN kembali terjadi. Sangat memprihatinkan bahwa sepertinya sivitas akademika IPDN tidak pernah belajar dari kasus-kasus sebelumnya untuk perbaikan pengelolaan pendidikan di kampus tersebut. Rasanya sudah terlalu banyak kritikan dan kecaman yang dialamatkan ke IPDN untuk menghilangkan praktek-praktek militeristik tersebut, setiap kali terjadi kekerasan dalam kampus tersebut. Tetapi tetap tidak ada perubahan yang signifikan, kecuali perubahan nama dari STPDN ke IPDN. Apalah artinya perubahan nama, jika tidak ada perubahan kebijakan dan orientasi dalam pengelolaan pendidikan di kampus tersebut?

Mendengar kasus kekerasan tersebut, sungguh sangat miris hati saya. Bagaimana mungkin sebuah institusi pendidikan yang dipakai untuk mencetak pelayan-pelayan masyarakat di pemerintahan, tetapi justru disitulah sering terjadi kekerasan dan perbuatan yang sungguh bertentangan dengan semangat melayani yang seharusnya dimiliki oleh calon aparat pemerintahan? Lalu apa yang diajarkan di sekolah tersebut?

Bukankah seharusnya pendidikan di IPDN dimaksudkan untuk membentuk mental dan karakter seorang pelayan dan abdi masyarakat? Lalu dimanakah aspek edukasi kedua hal tersebut, jika lingkungan dan atmosfir kampus justru diciptakan (atau sengaja diciptakan) untuk terjadinya budaya kekerasan tersebut–demi sebuah alasan pembentukan disiplin? Sebuah alasan klasik yang sering dimunculkan untuk melegalkan budaya kekerasan senior ke junior. Sungguh tidak masuk akal. Apakah proses membentuk disiplin selalu dikaitkan dengan kekerasan? Disiplin adalah sebuah komitmen untuk mementuhi aturan, yang dibentuk melalui proses edukasi mental dan karakter. Kekerasan adalah sebuah aturan yang dilanggar. Bagaimana mungkin membentuk disiplin dengan melanggar aturan?

Kekerasan harus dihentikan. Dan tidak boleh terjadi lagi di institusi pendidikan. Bukan hanya di IPDN, tetapi di semua kampus-kampus yang masih menerapkan program orientasi siswa/mahasiswa dengan cara-cara dan metode kekerasan. Sekali kekerasan dibuka peluang, maka akan terjadi kekerasan berantai ke angkatan-angkatan selanjutnya. Untuk menghentikan hal tersebut, maka semua pelaku kekerasan, apapun motifnya, harus melalui proses hukum sampai tuntas. Dilain pihak, pengelola kampus IPDN harus bertanggung jawab karena lalai dalam mengelola sistem, kebijakan, atmosfir, dan lingkungan kampus yang memungkinkan terjadinya peluang kekerasan tersebut. Semua kebijakan kampus, kurikulum pendidikan, dan pengelolanya harus di evaluasi secara menyeluruh supaya tidak ada peluang lagi kejadian seperti ini di masa mendatang.

Wahai pemerintah! Jangan abaikan kasus kekerasan ini. Tegaskan aturan untuk melarang praktek kekerasan semacam ini terjadi di dunia pendidikan. Ini saatnya untuk merubah. Mau membentuk abdi dan pelayan masyarakat yang baik ,atau aparat negara yang otoriter, dan berwajahkan kekerasan. Kalau tidak bergerak membenahi ini, jangan salahkan kalau Visi 2030 hanyalah sebuah mimpi belaka dari sebuah bangsa yang tidak tahu dan tidak mau berbenah di bidang yang krusial dan kritikal..

Selamat jalan Cliff Muntu. Turut bersimpati kepadamu.

Kepahitan itu telah pergi

Sabtu siang, 3 Maret 2007

Ketika aku sedang bergairah dengan internet boot camp ku, tiba-tiba telepon genggam yang aku taruh di saku celana bergetar. “Wah, ada pesan masuk!”, batinku. Karena pikiran dan konsentrasi sedang tertuju kepada apa yang disampaikan oleh seorang pakar internet, maka pesan itu aku abaikan.

Dalam jeda acara, aku membaca pesan masuk, yang ternyata “Pak S telah meninggal dunia tadi siang. Ibu S histeris….”. Tertegun aku membaca pesan singkat itu, setengah tidak percaya. “Oh my God…”. Hanya itu komentarku. Aku teringat 2 hari lalu anak saya, tata, masih di sapa dengan ramah oleh pak S itu. Dia adalah satu-satunya tetanggaku yang dekat dengan anakku .

Aku juga kembali teringat akan percakapanku dengan pak S di pagi hari, beberapa bulan yang lalu. Ketika dengan wajah sedih pak S bercerita tentang persoalan hidupnya, persoalan keluarganya. Sesudah percakapan terakhir itu, aku jarang bertemu. Sesekali berpapasan, tanpa sempat untuk berbicang-bincang labih lanjut.

Dan, pak S itu telah pergi. Membawa kepahitan hidup yang selama ini menggelayutinya. Juga menggelayuti keluarganya. Aku tidak tahu apakah kepahitan telah berkurang di hari terakhirnya itu. Jika belum, mungkinkah kematian adalah jalan terbaik untuk memutuskan kepahitan itu? Ah, tentunya tidak. Tuhan masih sanggup mengubah hati manusia, betapapun kerasnya hati manusia. Tuhan bisa menyembuhkan luka hati yang paling parah sekalipun. Jadi selama manusia masih hidup, ia punya kesempatan untuk untuk memulihkan hubungan dengan orang lain yg telah hancur. Hanya jika Tuhan menyentuh hati dan nurani manusia.

Tercenung aku untuk sesaat di tengah gegap gempita sorak sorai peserta boot camp yang sedang dimotivasi oleh pembicara yg karismatis itu. Tercenung, oleh kesadaran bahwa aku memiliki kesempatan untuk memperbaiki hubungan dengan orang-orang yang di dekatku. Ah, ternyata peristiwa ini memberikan pelajaran yang berharga untukku. Tuhan memberikan juga kesadaran ke hati dan pikiranku.

Aku tidak tahu, apakah pak S pergi dengan kepahitan yang sudah berkurang. Semoga jeritan histeris istri dan anaknya, memberikan tanda bahwa mereka sudah berdamai dengan kepahitan itu.

Sabtu malam, 3 Maret 2007

Bergegas aku ke rumah ibu S, sepulang dari boot camp yang berakhir sampai larut malam itu. Aku hanya bisa mengucapkan kesedihan atas kepergian pak S dan minta maaf tidak bisa membantu kerepotan pada saaat pemakaman sore hari itu.

Wajah ibu S yang memerah dan mata membengkak sudah cukup menyatakan kesedihannya yang mendalam. Anak lelakinya memeluk aku dan meminta aku memaafkan semua kejadian dalam keluarganya yang sudah mengganggu para tetangganya – Jujur aku memang pernah terganggu kalau pak dan Ibu S itu bertengkar. Suara pertengkaran itu bisa menembus dinding rumahku dan menimbulkan kerisauan yang amat dalam. Sempat terpikir olehku untuk pindah rumah, karena risau akan dampak pertengkaran mereka ke anak-anakku.

“Sudahlah…”. Hanya itu yang aku bisa katakan.

Aku memang tidak tahu apakah kepahitan itu telah pergi karena kematian itu. Ataukah kepahitan itu pergi, sesaat sebelum kematian itu. Hanya keluarga itu yang tahu. Aku hanya bisa berharap. Semoga terjadi yang kedua.