Mulailah Dengan Bertindak


Dalam “Perumpamaan Tentang Orang Samaria Yang Baik Hati”, terjadi perbincangan menarik tentang “siapakah sesama manusia” antara orang Farisi dengan Yesus. Perbincangan ini terjadi, ketika orang Farisi menanyakan tentang hal apakah yang bisa dilakukan untuk memperoleh hidup kekal. Yesuspun menjawab dengan mengacu kepada yang tertulis di kitab “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dan kasihilah sesamamu manusia…”. Ketika orang Farisi mempersoalkan tentang “siapakah sesama manusia”, Yesus tidak memberikan jawaban langsung tentang definisi tersebut, tetapi memberikan sebuah perumpamaan yang menarik tentang orang Samaria yang baik hati (kisah lengkapnya bisa dilihat di kitab Injil Lukas 10: 25-37).

Bagi orang Farisi mempersoalkan “siapa sesama manusia” itu merupakan suatu hal penting dan perlu kejelasan. Tetapi tidak bagi Yesus. Kasih adalah kasih. Kasih itu tidak memandang manusia. Itu tidak perlu didefinisikan. Orang Samaria dalam perumpamaan tersebut adalah contoh orang yang tidak “mendefinisikan” atau memikirkan seperti apa dan siapa “sesama manusia” itu. Dia tidak berpikir dan berdebat berbagai teori tentang manusia. Tetapi yang dilihat oleh orang Samaria adalah kebutuhan manusia untuk dikasihi. Tidak peduli jika “mungkin” yang ditolong adalah musuhnya.

Di akhir perumpamaan Yesus bertanya kepada orang Farisi, siapakah diantara ketiga orang – orang Farisi, orang Lewi, dan orang Samaria – yang menunjukkan belas kasihan kepada sesama. Maka bisa dibayangkan raut muka orang Farisi yang malu dan tidak punya pilihan jawaban selain menunjuk kepada orang Samaria yang sudah menolong dan berbuat kebaikan tersebut. Malu, karena selama ini mereka berkutat banyak ke hal-hal yang bersifat teoritis, dan bukan praktis. Sesuatu perintah yang sedemikian jelas dan sederhana, tetapi ingin diperdebatkan secara panjang lebar. Tentu saja alasan memperdebatkan itu bukan karena ingin memahami perintah itu lebih dalam, tetapi karena ingin mempertahankan “budaya basa-basi”nya itu.  Apabila ditilik jauh kedalam,  motivasi yang sebenarnya adalah “keengganan untuk bertindak” karena konsepsi mereka tentang “siapa sesama itu” berbeda dengan perintah Yesus itu. Orang Farisi lebih peduli dan mempersoalkan tentang konsepsi sebuah perintah, dibanding mempersoalkan bagaimana segera bertindak. Pemahaman yang dalam terhadap sesuatu, tidak menjamin sebuah tindakan konkrit akan dilakukan. Yesus mengajarkan untuk memulai dengan melakukan suatu perintah itu yang sederhana itu, dan bukan mempersoalkannya.

Pelajaran penting dari perumpamaan ini adalah “mulailah dengan bertindak”. Seringkali kita tidak bersedia dan tidak mau bertindak, karena kita terlalu sibuk dengan “definisi” dan hal-hal teoritis yang justru menghambat tindakan kita. Kita menunda-nunda berbuat sesuatu yang konkrit, dengan alasan ingin mendapatkan kejelasan terhadap sesuatu. Ini tidak berarti kita mengabaikan berbagai pertimbangan dan rasio dalam memutuskan suatu tindakan. Tetapi jika hal itu menghambat kita dalam bertindak, maka mungkin memang kita perlu “mengesampingkan” terlebih dahulu berbagai perdebatan dan pergulatan pikiran yang menyita energi kita tersebut, dan “mulai bertindak”. Tentu saja, kita bertindak dalam batas-batas pengertian yang dipahami saat itu. 

Sejalan dengan tindakan tersebut, kita bisa belajar dan merenung-ulangkan semua proses dan pertimbangan, supaya ada perbaikan dalam tindakan selanjutnya. Jadi proses “memahami sesuatu” itu berjalan seiring dengan proses “bertindak”. Tetapi “mulai bertindak” adalah langkah awal untuk sebuah perubahan dan kemajuan hidup kita. Berani?

Leave a comment