Burned Alive – Tentang Kejahatan Atas Nama Kehormatan


Burned Alive adalah sebuah buku berisi kisah nyata yang mengguncangkan tentang seorang perempuan yang lolos dari pembunuhan atas nama kehormatan di suatu daerah di tepi Barat Palestina. Buku yang ditulis oleh Souad –bukan nama sebenarnya– ini menjadi national best seller dan sudah diterjemahkan kedalam 28 bahasa di 29 negara. Souad adalah perempuan yang berhasil diselamatkan dari sebuah pembunuhan berencana oleh keluarganya sendiri, setelah dirinya dianggap sebagai “charmuta” –julukan kepada perempuan dianggap telah melakukan hal yang memalukan keluarga — sehingga harus menerima vonis kematian untuk mengembalikan kehormatan keluarga dan seluruh desa.

Souad dilahirkan dalam sebuah negeri dimana adat dan pranata hukumnya tidak berpihak kepada perempuan.Di negerinya, kelahiran seorang perempuan dianggap sebagai sebuah kesalahan. Souad hidup dalam sebuah komunitas yang menjunjung kemuliaan seorang laki-laki dan tidak memperhitungkan perempuan. Dominasi laki-laki sangat berperan dalam menentukan hukum yang berlaku di komunitas negerinya. Souad berada dalam komunitas dimana setiap kelahiran bayi seorang perempuan akan diikuti oleh penghilangan nyawa sang bayi perempuan tersebut. Perempuan tidak memiliki hak-hak apapun. Hak yang dimiliki hanyalah sebuah kepatuhan kepada adat istiadat.

Souad dan perempuan-perempuan lain di negerinya hidup dalam ketakutan akan ancaman kematian sewaktu-waktu, karena kekerasan yang dilakukan oleh laki-laki terhadap perempuan. Dan kekerasan itu diwariskan turun temurun dari generasi ke generasi laki-laki.

Di desa tempat Souad, kata “pembunuh” tidak ada artinya jika yang dibunuh adalah seorang perempuan. Sudah menjadi tugas saudara laki-laki, ipar, atau paman untuk mempertahankan kehormatan keluarga, jika orang tua sudah memutuskan untuk segera membunuh saudara perempuannya yang telah mempermalukan keluarga. Bahkan seorang perempuan bisa dianggap sebagai “charmuta” meskipun cap itu dimunculkan hanya dari sebuah desas desus, tebak-tebakan atau gosip yang beredar di masyarakat. Tetapi gosip itu sudah cukup untuk mengantarnya kepada kematian demi menjaga kehormatan orang lain. Ini merupakan kejahatan atas nama kehormatan, jarimat el-sharaf, yang dimana di kalangan laki-laki hal itu tidak dianggap sebagai sebuah kejahatan.

Souad memilik tiga saudara perempuan — Noura, Kainat dan Hannan– dan saudara laki-laki Assad. Hannan akhir kehidupannya berujung kepada kematian oleh saudaranya sendiri Assad, setelah ayahnya memutuskan untuk membunuhnya karena dianggap sebagai “charmuta”, tanpa dimengerti oleh Souad alasan yang sebenarnya. Kekerasan demi kekerasan harus dialami oleh Souad dan perempuan-perempuan lainnya oleh laki-laki, ayah maupun saudara laki-lakinya.

Di negerinya , Souad dan perempuan-perempuan lainnya tidak memiliki hak untuk menentukan siapa orang yang dicintainya dan mengawininya. Ia harus menerima siapapun laki-laki yang akan mengawininya. Kepatuhan adalah hal yang mutlak dalam adat budaya di negerinya. Sekalipun nantinya suaminya melakukan kekerasan dan kekejaman, maka pulang kerumah orang tuanya akan dianggap sebagai sebuah hal yang memalukan kehormatan keluarga dan kembali ke laki-laki kejam yang menjadi suaminya adalah sebuah keharusan yang tidak bisa ditawar.

Pada usianya yang menginjak tujuh belas tahun, Souad jatuh cinta. Di desanya, seperti di banyak di wilayah lain, hubungan seksual sebelum perkawinan dipandang sebagai pelanggaran berat atas kehormatan keluarga dan berujung kepada hukuman mati. Itulah kesalahan Saoud. Hukuman matipun diputuskan oleh keluarga. Dan sebagai eksekusinya adalah Hussein, sang kakak ipar. Eksekusi hukuman mati itu dilakukan dengan cara membakar tubuh Saoud yang sudah disiram terlebih dahulu dengan bahan bakar. Dimata seluruh desa, Hussein adalah seorang pahlawan.

Yang menakjubkan adalah Souad tetap hidup meskipun menderita luka bakar yang hebat di tubuhnya. Dalam keadaan luka bakar yang mengenaskan di rumah sakit Souad melahirkan anaknya laki-laki. Ayah dan ibunya yang mengetahui Souad masih hidup di rumah sakit masih berupaya membunuhnya dengan melalui racun, namun gagal. Jacqualine adalah seorang pekerja sosial Eropa dari organisasi Terre des Hommes, oiHoyang akhirnya menolong dan membawa Souad ke Eropa untuk mendapatkan perawatan dan pertolongan yang amat dibutuhkan oleh Souad.

Melaui suatu pergulatan mental dan psikologi yang berat seusai penyembuhan luka-luka bakarnya, Souad harus membangun sebuah kehidupan baru yang tidak mudah. Karena ia tidak berpendidikan dan buta huruf. Meskipun akhirnya bisa bekerja dan berkeluarga serta memiliki dua orang anak perempuan, tetapi bayangan masa lalu yang kelam terus mengantui dirinya. Hal itu berdampak kepada depresi dirinya dan anak-anaknya. Perlu waktu 20 tahun bagi Souad untuk mampu memutuskan keluar dari bayangan buruk dan menceritakan kisahnya kepada masyarakat dunia tentang kekejaman dan tindakan pembunuhan atas nama kehormatan yang dilakukan di negerinya.

Kekerasan Itu Masih Berlanjut

Sebuah laporan memberitakan bahwa lebih dari enam ribu tindak kejahatan atas nama kehormatan dilakukan setiap tahunnya. Menurut Yayasan Surgir, di Yordania terdapat pasal 97 dan 98 yang memberikan kelunakan hukum kepada mereka yang ditemukan bersalah melakukankejahatan atas nama kehormatan. Hukuman yang dijatuhkan kepada laki-laki yang bersalah tersebut sangat ringan dan biasanya tidak harus menjalani hukuman sepenuhnya, karena dianggap pahlawan. Pasal ini sudah beberapa kali diusulkan oleh Asosiasi Ahli Hukum Perempuan untuk diamandemen, namun hingga kini belum berhasil.

Perjuangan kaum perempuan dalam mengamandemen berbagai UU yang membuat diskriminasi hak-hak perempuan di beberapa negara lain berhasil membuat otoritas negara mengakui tindakan kejahatan atas nama kehormatan sebagai tindakan criminal. Almarhum Raja Hassan dari Maroko sudah menyatakan diri secara terbuka menentang tindakan kejahatan atas nama kehormatan, yang disebutnya sebagai “bukan kejahatan atas nama kehormatan, tetapi atas nama ketakhormatan”. Kalangan agamawan berjuang terus menerus dalam upaya menjelaskan kejahatan atas nama kehormatan sebagai sesuatu yang asing di dalam Al Quran dan Alkitab.

Sidang Umum PBB mengeluarkan resolusi 57/179 dan 57/181 tahun 2003 tentang penghentian dan penghapusan semua bentuk kekerasan terhadap perempuan dan kejahatan terhadap perempuan atas nama kehormatan, yang kemudian dipertegas dalam Beijing Declaration and Platform for Action.

Menurut Amnesty International dalam salah satu laporannya di tahun 2004, menyebutkan kejahatan terhadap perempuan di Indonesia meningkat, karena ketidakmampuan negara dalam memberikan perlindungan yang memadai melalui intrumen hukum yang tidak melindungi perempuan. Demikian juga perlindungan terhadap ribuan kaum perempuan yang menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang setiap tahun harus pergi keluar negeri untuk mencari kerja. Buku ini semestinya bisa menginspirasi setiap otoritas pemegang kebijakan negara untuk menghapuskan adat dan budaya yang merendahkan kaum perempuan, dan memberikan perlindungan melalui pranata hukum yang adil.

7 responses to “Burned Alive – Tentang Kejahatan Atas Nama Kehormatan

  1. it’s always touchy to see how the unlucky women who live under the mandom authority, where they can not express their life nor their rights. ( such as the taliban women ).
    Hopefully the existance of this book, can open the world’s eye, not just the institution who consider to this issue of matter, to be more concious about the lack of womanhood somewhere in this world.

  2. wah mas, bener tuh masih terjadi kejahatan seperti ini. baca berita dibawah ini.
    ———————————————————
    Dibunuh Ayah Karena Pacaran dengan Serdadu Inggris
    observer.co.uk
    BASRA, SENIN – Seorang gadis Irak disiksa dan dibunuh oleh ayahnya,
    hanya gara-gara ia jatuh cinta pada seorang serdadu Inggris.

    Gadis itu, Rand Abdel-Qader (17), harus mati demi menyelamatkan
    kehormatan keluarga, demikian alasan sang ayah Abdel Qader Ali.
    Pembunuhan demi kehormatan ini diungkap Observer dalam situsnya,
    Minggu (27/4).

    Pembunuhan terhadap Rand itu terjadi setelah keluarga gadis itu
    mengetahui dia menjalin hubungan asmara dengan serdadu 22 tahun yang
    hanya dikenalnya dengan nama Paul.

    Sejoli itu berkenalan saat Rand bekerja menjadi relawan dalam sebuah
    proyek untuk menolong keluarga-keluarga telantar di Basra. Tetapi
    tampaknya Paul tidak tahu bahwa hubungan itu bisa menyebabkan kematian
    bagi si gadis.

    Pembunuhan ini diungkap oleh ibu Rand, Leila Hussein. Perempuan itu
    membeberkan bagaimana sang suami menyebut pembunuhan itu sebagai upaya
    untuk membersihkan kehormatan keluarganya.

    Kepada Observer, Leila mengatakan bahwa suaminya sempat ditahan
    terkait pembunuhan itu, namun dilepaskan dua jam kemudian setelah
    polisi mengetahui alasannya membunuh.

    “Ia dilepas dua jam kemudian, karena itu pembunuhan demi kehormatan.
    Sayangnya, itulah yang dibanggakan setiap laki-laki Irak,” kata Leila.

    Rand mengaku jatuh cinta saat pertemuan pertama dengan Paul. Gadis itu
    pun langsung menceritakan perasaannya itu kepada sahabatnya, Zeinab
    (19), bahwa ia memimpikan menikah dengan Paul.

    Menurut Observer, gadis yang lancar berbahasa Inggris ini kerap
    terlihat berbicara begitu dekat dengan Paul. Tetapi karena laki-laki
    itu orang Inggris yang dianggap penjajah, maka percakapan semacam itu
    tidak bisa ditoleransi.

    Pasangan itu terlihat terakhir kali pada Januari. Namun sang ayah
    tidak mengetahui itu sampai dua bulan kemudian, yaitu pada 16 Maret
    2008. Ali diberitahu temannya bahwa anak perempuannya itu terlihat
    berbicara dengan serdadu Inggris. Tanpa menunggu lama, Ali pun
    mendatangi anaknya.

    Dengan marah Ali bertanya kepada Rand soal kebenarkan kabar itu dan
    mulai memukuli anak gadisnya. “Dia mulai menangis, dia terlihat gugup.
    Suami saya menjambak rambutnya dan menginjak kepalanya berulang kali,”
    tutur Leila.

    “Saya berteriak dan minta tolong agar dua saudara laki-lak saya
    membantu menjauhkannya dari ayahnya. Tetapi ketika Ali memberitahukan
    alasannya, mereka malah membantu membunuhnya,” imbuh Leila.

    Sersan Ali Jabbar dari kepolisian Basra mengakui adanya pembunuhan
    itu, tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. “Tidak ada yang bisa
    dilakukan kalau ada pembunuhan demi kehormatan semacam itu. Dalam
    masyarakat seperti ini, perempuan harus tunduk,” kata Jabbar.

    Leila kini kini menceraikan Ali dan hidup dalam lindungan sebuah
    lembaga kemanusiaan, karena khawatir terhadap pembalasan Ali dan
    keluarganya.

    Departemen Pertahanan Inggris mencoba melacak keberadaan Paul yang
    diyakini tidak tahu bahwa hubungan asmara itu membawa risiko
    sedemikian besar bagi Rand. Juru bicara Departemen Pertahanan juga
    mengaku bahwa selama ini prajuritnya tidak mendapat pembekalan khusus,
    misalnya bagaimana berhubungan dengan perempuan Irak. “Mereka tidak
    diberitahu: Jangan jatuh cinta,” kata juru bicara itu.

  3. Saya sedang membuat skripsi dengan novel Burned Alive tolong main ke blog ku ya , kalau bisa bantu dan kasih masukan http://harapandiri.wordpress.com/2008/06/03/

  4. muhammad suryadi's avatar muhammad suryadi

    mas…..adik sy sedang menyusun tugas akhir yang diberikan oleh dosennya, dan tugas itu berkaitan dengan novel burned alive namun kami kesulitan mendapatkan novel itu di tempat kami mas,,bisa dibantu tidak mas?

  5. bisa mas. dengan senang hati. dimana lokasi anda berada?

  6. kak…. saya kesulitan dalam menyusun tugas akhir yang di berikan oleh dosen saya yaitu tentang analisis penokohan dalam novel burned alive, saya butuh bantuan kakak…..!

    • hi nana,
      saya pernah japri untuk membantumu. tetapi belum ada balasan dari mu. semoga skripsimu sudah selesai ya

Leave a reply to sbdarmawan Cancel reply