Jika kita mengenal cerita pewayangan, khususnya cerita Mahabarata dan Baratayudha, maka kita mengenal dua kelompok yang saling berseteru, berselisih, bersaing, dan akhirnya berperang dalam legenda perang besar di padang Kurusetra untuk memperebutkan kerajaan Hastinapura. Kedua kelompok manusia itu dikenal sebagai Kurawa dan Pandawa.
Pandawa selalu digambarkan sebagai kelompok ksatria berjumlah lima orang yang memiliki: budi pekerti , tatakrama, dan karakter yang luhur, serta berwatak ksatria, penuh tanggung jawab, tidak menindas dan tidak serakah. Walaupun dalam beberapa cerita pewayangan para ksatria Pandawa ini juga memiliki kelemahan dan keburukan–sehingga sering diingatkan oleh para Punakawan– namun cerita tentang kebaikan dan keluhuran budinya jauh lebih kuat bergema dibanding kelemahannya.
Sebaliknya Kurawa digambarkan sebagai kelompok manusia yang berjumlah seratus orang, yang dikenal karena keburukan tindak tanduknya, tidak memiliki budi pekerti dan tatakrama yang baik, serakah, kasar, dan jahat. Kejahatan dan keburukannya sangat menonjol sehingga seolah-olah sangat pantas jika kehidupan Kurawa tidak perlu diteladani, bahkan wajib dimusuhi oleh siapa saja. Namun benarkah demikian? Tidak adakah hal-hal baik yang tersembunyi dalam diri para Kurawa, yang bisa menjadi contoh kehidupan bagi kita?
Saya selalu bertanya-tanya tentang itu. Kecenderungan manusia adalah selalu melihat orang dari sisi buruknya saja, tanpa mau melihat dan menelisik lebih lanjut kebaikannya. Apalagi jika “cap” sebagai orang jahat sudah melekat dalam diri seseorang, akan sangat sukar bagi orang lain untuk melihat sisi baiknya apalagi belajar dari kebaikan yang ada dalam diri orang yang “dicap” sebagai orang jahat.
Penghakiman kita atas keburukan orang lain sering menutup kemampuan kita dalam memahami sisi baik orang itu. Bahkan sering penghakiman itu dijatuhkan berdasarkan apa yang terlihat dan terdengar dari orang lain. Sejatinya setiap orang memiliki alasan dan latar belakang dari setiap tindakan yang dilakukannya. Karena itu apa yang tampaknya jahat bisa saja menyimpan sesuatu yang baik, yang tidak diketahui.
Karena itu dalam kehidupan keseharian kita, kita perlu untuk memilah dengan jeli dan teliti dalam menilai sisi yang baik dan sisi yang buruk seseorang, tidak hanya berdasarkan apa yang kita lihat dan kita dengar. Apa yang berada di belakang tindakan orang tersebut jauh lebih menentukan bagaimana kita memandang orang. What you see is not what you see.