Kesetiaan Kepada Nurani


Ketika saya sedang membaca kembali cerita epos mahabarata-baratayudha, betapa tertegunnya saya ketika mendapati bahwa ada sisi-sisi kebaikan yang terlihat di dalam diri sebagian para kurawa. Namun kebaikan itu terbentur kepada skenario keserakahan mayoritas para Kurawa yang ingin menguasai kerajaan Hastinapura  dengan cara-cara yang tidak jujur, yang sejatinya bukan merupakan hak mereka.

Raden Yuyutsu adalah seorang Kurawa, anak Raja Drestarata, yang memiliki kepekaan nurani ketika kakaknya yang sulung, Duryudana sang Raja Hastinapura, bertindak culas kepada Pandawa dalam permainan dadu sehingga Pandawa terbuang dari kerajaan Hastinapura dan harus mengembara selama tiga belas tahun lamanya. Perasaannya terusik menyaksikan ketidakadilan yang dilakukan oleh saudara-saudaranya kepada para Pandawa,  yang adalah saudara mereka juga.

Nuraninya terganggu oleh kekotoran perilaku saudara-saudaranya yang sedemikian keji memperdaya Pandawa demi sebuah kekuasaan dan kekayaan atas kerajaan Hastinapura. Raden Yuyutsu sadar akan kekeliruan yang telah dilakukan oleh saudara-saudaranya. Kegelisahanpun menyergap segenap hidupnya. Dirinya menjadi tidak tenang menyaksikan kepongahan saudara-saudaranya, para Kurawa, yang bersuka ria atas penderitaan Pandawa.  Raden Yuyutsu tidak mampu lagi menahan dorongan hatinya untuk mengutarakan kegelisan dan pertentangan batinnya kepada kakaknya, Prabu Duryudana.

Tidak mudah bagi Raden Yuyutsu untuk pergi menghadap Prabu Duryudana.  Sekian lama Ia harus mengumpulkan keberanian dirinya untuk berhadapan dengan kakaknya yang sangat ditakuti dan di segani oleh para Kurawa, hanya untuk mengutarakan pendapat dan ketidaksetujuannya atas tindakan para Kurawa.

Raden Yuyutsu sadar bahwa ia akan berhadapan dengan kekerasan hati dari kakaknya, Prabu Duryudana yang didukung oleh sang Patihnya yang terkenal culas, Arya Sangkuni. Dan benar terbuktilah.  Dengan sorot mata yang tajam dan menakutkan, Prabu Duryudana menghardik Raden Yuyutsu untuk taat dan tunduk kepada pimpinannya.

Sejak itu, Yuyutsu menjadi pendiam dan hanya berkeluh kesah kepada saudara kurawa lainnya yang sependapat dengan dirinya, yaitu Durmuka dan Drestaketi. Ia merasa tidak mampu untuk melangkah lebih jauh dalam bentuk penentangan terbuka kepada Prabu Duryudana. Namun dirinya tetap yakin bahwa perang terbuka yang sudah dicanangkan kakaknya adalah sebuah kesalahan.

Namun, Yuyutsu seolah tidak memiliki pilihan ketika Duryudana memerintahkan dirinya untuk ikut perang di Kurusetra. Dalam peperangan dashyat yang demikian menyiksa batinnya itu, ia tidak tahan dengan tindakan-tindakan saudara-saudaranya ketika membantai dan menyiksa Raden Abimanyu, putra Harjuna, yang sudah terluka parah dan tidak berdaya. Kekejaman yang dilakukan saudara-saudaranya ditebusnya dengan membawa dan mengembalikan jenasah Abimanyu secara terhormat kepada Pandawa.

Yuyutsu memutuskan untuk meninggalkan perang Baratayudha yang masih berlangsung, karena  tidak sanggup lagi menahan beban dan pergulatan batin yang demikian menyiksa dirinya. Ia pergi jauh dan menyendiri dari keramaian sampai selesainya perang Baratayudha yang akhirnya dimenangkan Pandawa. Yuyutsupun secara sukarela menyerahkan diri kepada Pandawa.

Solidaritas Persaudaraan vs Nurani

Bagi Kurawa, tindakan Yuyutsu akan dianggap sebagai pengkhianatan atas persaudaraan sesama Kurawa yang telah habis-habisan berperang di padang Kurusetra. Yuyutsupun sadar akan penilaian dari saudara-saudaranya yang lain terhadap dirinya, ketika ia lari meninggalkan medan perang Baratayuda. Ia rela dianggap sebagai bukan seorang kesatria oleh para Kurawa lainnya. Walapun bagi seorang Yuyutsu, nilai-nilai seorang kesatria yang dianutnya tidak sejalan dengan tindakan dan watak para Kurawa.

Perjuangannya untuk setia kepada batinnya sangatlah tidak mudah. Ia harus mengorbankan persaudaraannya dengan para Kurawa. Ia harus rela disalahmengerti oleh Bima dan Harjuna ketika membawa jenasah Abimanyu kepada mereka.  Dengan caranya yang sulit untuk dipahami orang lain, Yuyutsu mencoba untuk setia kepada batinnya. Jika ia harus lari dari medan perang, semata-mata karena beban siksaan batin sudah melebihi kemampuannya untuk ditanggung. Tidak ada cara lain untuk setia kepada nuraninya, selain meninggalkan gelanggang perang.

Sungguh sebuah kesetiaan yang amat jarang dijumpai dalam sebuah lingkungan dan komunitas yang membelenggunya dengan begitu kuat. Namun sikap Yuyutsu bisa menjadi contoh bagi kehidupan manusia di jaman ini.

2 responses to “Kesetiaan Kepada Nurani

  1. Ben Sadhana's avatar Benedict Agung Widyatmoko

    Betul Mas Sigit,
    Tokoh-tokoh baik yang di-martirkan karena “kesetiaan” mereka, seperti Yuyutsu, Resi Bisma dan Karna 🙂

    Salam gemilang
    Ben

  2. Pingback: Ketika Kesetiaan Terbentur pada Ketamakan « radiasi niti budi

Leave a comment