Gereja dan Isu Kesehatan Mental Keluarga


Oleh: Sigit Budi Darmawan *)

“What mental health needs is more sunlight, more candor, and more unashamed conversation.” – Glenn Close, American Actress

Gangguan Kesehatan Mental (mental illness) saat ini menjadi masalah kesehatan global yang secara signifikan  mempengaruhi orang-orang dari segala usia dan latar belakang. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO – World Health Organization) dalam Mental Health Report 2022 memperkirakan bahwa lebih dari 1 miliar orang di seluruh dunia menderita gangguan kesehatan mental (GKM). Depresi dan kecemasan menjadi GKM yang paling umum. Di hampir semua negara, sekitar 1 dari 8 orang hidup dengan gangguan kesehatan mental. Secara global ada 20 percobaan bunuh diri untuk 1 kasus kematian dan menjadi penyebab utama kematian di kalangan anak-anak muda. Secara global 1 dari 7 anak remaja berusia 10-19 tahun menggalami gangguan kesehatan mental, namun sebagian besar masih belum dikenal dan tidak diobati. Masa remaja adalah masa yang unik dan formatif. Perubahan fisik, emosional, dan sosial, termasuk paparan kemiskinan, pelecehan, atau kekerasan, dapat membuat remaja rentan terhadap masalah kesehatan mental.

Secara historis GKM belum menjadi prioritas agenda kesehatan dan pembangunan global. Namun sekarang  GKM telah berpindah dari prioritas pinggiran menjadi prioritas utama dalam penelitian dan kebijakan. Fakta terbaru dari WHO, GKM menyumbang 30% dari beban penyakit non-fatal di seluruh dunia dan 10% dari beban penyakit secara keseluruhan, termasuk kematian dan kecacatan. Di sisi lain biaya yang ditimbulkannya terhadap ekonomi global diperkirakan mencapai USD 6 triliun pada tahun 2030. Meskipun demikian rata-rata negara-negara masih mendedikasikan kurang dari 2% dari anggaran perawatan kesehatan mereka untuk kesehatan mental. Di Indonesia alokasi anggaran hanya 1% dari anggaran kesehatan nasional.

Pandemi Covid-19 telah menambah stresor tambahan bagi individu di seluruh dunia. Laporan WHO dampak pendemi pada tahun pertama telah terjadi peningkatan 25% kasus depresi dan kecemasan, sehingga memperburuk masalah kesehatan mental yang sudah ada. Hal ini menciptakan masalah baru karena isolasi, ketakutan, dan ketidakpastian. 

Memahami Isu Kesehatan Mental

Menurut American Psychiatric Association kesehatan mental melibatkan fungsi yang efektif dalam kegiatan sehari-hari yang menghasilkan: kegiatan produktif (seperti di tempat kerja, sekolah, atau komunitas masyarakat); hubungan yang sehat; dan kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan dan mengatasi kesulitan. 

Kesehatan mental adalah fondasi bagi emosi, pemikiran, komunikasi, pembelajaran, ketahanan, harapan, dan harga diri. Kesehatan mental juga merupakan kunci untuk menjalin hubungan, kesejahteraan pribadi dan emosional, serta berkontribusi pada komunitas atau masyarakat. Kesehatan mental adalah komponen dari kesejahteraan secara keseluruhan. Kesehatan mental dapat mempengaruhi dan dipengaruhi oleh kesehatan fisik

GKM mengacu pada semua gangguan yang dapat didiagnosis terkait kondisi seseorang yang melibatkan: perubahan signifikan dalam pemikiran, emosi, dan perilaku; kesulitan dalam menjalani kegiatan sosial, pekerjaan, atau keluarga sehari-hari. GKM ini bersifat kompleks dan dapat bervariasi dalam hal tingkat keparahan, durasi, dan gejalanya.

Beragam jenis GKM yang umum diantaranya: Depresi, Gangguan Kecemasan (Anxiety Disorders), Gangguan Bipolar (Bipolar Disorder), Skizofrenia, Gangguan Obsesif-Kompulsif (Obsessive-Compulsive Disorder/OCD), Gangguan Stres Pasca Trauma (Post-Traumatic Stress Disorder /PTSD), Gangguan Makan (Eating Disorder), Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktif (Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder /ADHD),  Gangguan Kepribadian ambang (Borderline Personality Disorder/BPD), Gangguan Penggunaan Zat (Substance Use Disorders.

GKM dipengaruhi oleh kombinasi faktor biologis, psikologis, dan lingkungan. Ketiga faktor ini tidak berdiri sendiri, tetapi saling tergantung (interdependent). GKM dapat berkisar dari ringan hingga berat, dan diagnosis serta pengobatan dini sangat penting untuk hasil yang lebih baik.

Banyak orang yang memiliki penyakit mental tidak ingin membicarakannya. Ini terjadi karena stigma masyarakat. Penyakit mental bukanlah hal yang memalukan! Ini adalah kondisi medis, sama seperti halnya penyakit fisik. Dan kondisi kesehatan mental dapat diobati. 

GKM tidak mendiskriminasi. GKM ini dapat memengaruhi siapa pun tanpa memandang usia, jenis kelamin, geografi, pendapatan, status sosial, ras, etnis, agama/spiritual, orientasi seksual, latar belakang, atau aspek identitas budaya lainnya. Meskipun penyakit mental dapat terjadi pada usia berapa pun, tiga perempat dari semua penyakit mental dimulai pada usia 24 tahun.

Perawatan yang efektif untuk gangguan kesehatan mental dapat mencakup psikoterapi, pengobatan, perubahan gaya hidup, dan dukungan dari profesional kesehatan mental, keluarga, dan masyarakat. Perawatan kesehatan mental merupakan komponen penting dari kesejahteraan secara keseluruhan dan harus diintegrasikan ke dalam sistem perawatan kesehatan yang komprehensif.

Tantangan Isu GKM

Salah satu tantangan terbesar secara global terkait GKM adalah stigma dan diskriminasi. Stigma ini dapat muncul dalam berbagai cara dan lazim terjadi di banyak masyarakat di seluruh dunia:

Pertama, Stigma Sosial: Stigma kesehatan mental mengarah pada sikap negatif, stereotip, dan prasangka terhadap individu dengan GKM. Hal ini berakibat pengucilan sosial, isolasi, dan diskriminasi, sehingga menyulitkan mereka yang terkena dampaknya untuk mencari bantuan dan dukungan. Dampaknya memperburuk kondisi individu yang menghadapi pergumulan GKM tersebut dan keluarga sebagai caregiver nya. Pada akhirnya invidivu dan keluarganya menjadi tertutup terhadap situasi yang dihadapi.

Kedua, Stigma terhadap diri sendiri: Orang dengan kondisi GKM sering kali menginternalisasi keyakinan dan persepsi negatif yang mengarah ke stigma diri. Hal ini dapat menurunkan harga diri, kepercayaan diri, dan mencegah individu untuk mencari pengobatan karena perasaan malu atau tidak layak. Mereka menjadi pribadi yang tertutup, terisolir, dan bahkan teralienasi dari lingkungan yang seharusnya menjadi tempat mendapatkan dukungan yang diperlukan.

Ketiga, Hambatan untuk Mencari Bantuan: Stigma seputar kesehatan mental dapat menciptakan hambatan yang signifikan untuk mencari bantuan profesional. Banyak orang menghindari menjangkau layanan kesehatan mental atau menunda mencari pengobatan karena takut dihakimi atau dicap “tidak waras” atau “lemah” dan seterusnya.

Keempat, Terbatasnya Akses ke Layanan Kesehatan Mental: Stigma juga dapat mempengaruhi alokasi sumber daya untuk layanan kesehatan mental. Sebagian besar masyarakat memprioritaskan kesehatan fisik daripada kesehatan mental. Akses yang terbatas, termasuk pendanaan, ini menyebabkan kondisi masyarakat yang mengalami GKM menjadi sulit dideteksi. Banyak orang yang tidak sanggup meminta bantuan tenaga kesehatan mental professional, karena kesulitan biaya.

Kelima, Dampak pada Kebijakan dan Perundang-undangan: Stigma dapat menghambat pengembangan kebijakan dan legislasi kesehatan mental yang efektif. Hal ini membuat pemerintah kurang memprioritaskan masalah kesehatan mental  dan mengalokasikan sumber daya yang cukup untuk perawatan kesehatan mental. Hal ini tergambar kepada prosentase alokasi pendanaan untuk kesehatan mental yang sangat kecil. 

Keenam, Diskriminasi Ketenagakerjaan: Stigma dapat menyebabkan diskriminasi di tempat kerja, sehingga menyulitkan individu dengan kondisi GKM untuk mendapatkan atau mempertahankan pekerjaan. Ketakutan akan diskriminasi juga dapat mencegah orang untuk mengungkapkan perjuangan kesehatan mental mereka kepada atasan atau rekan kerja. Banyak pekerja yang kemudian menyembunyikan kondisi kesehatan mentalnya kepada perusahaan atau institusi tempat mereka bekerja. Di sisi lain, sebagian besar perusahaan hanya berorientasi kepada keuntungan bisnis semata,  dan kurang memperhatikan  kesejahteraan para pekerjanya secara utuh, baik fisik maupun mental. 

Ketujuh, Representasi Media: Cara media dalam mengambarkan isu GKM turut berkontribusi pada stigma dan kesalahpahaman tentang kesehatan mental. Penggambaran yang sensasional atau tidak akurat dapat memperkuat stereotip dan semakin meminggirkan individu dengan kondisi kesehatan mental.

Kedelapan, Keyakinan Budaya dan Agama: Keyakinan budaya dan agama tentang GKM juga dapat berkontribusi terhadap stigma. Di beberapa masyarakat, tantangan kesehatan mental dipandang sebagai tanda kelemahan atau hukuman atas kesalahan, yang mengarah pada stigmatisasi lebih lanjut. Bahkan lebih parahnya, ketika stigmatisasi itu mengarah kepada penghakiman terhadap karakter seseorang.

Leave a comment