Pandangan Alkitab Tentang GKM
“Mental pain is less dramatic than physical pain, but it is more common and also more hard to bear. The frequent attempt to conceal mental pain increases the burden: it is easier to say “My tooth is aching” than to say “My heart is broken.”
― C.S. Lewis, writer of The Problem of Pain
Alkitab tidak secara eksplisit menggunakan istilah modern seperti gangguan kesehatan mental, karena Alkitab ditulis dalam konteks sejarah dan budaya yang berbeda. Namun, ada berbagai ayat dan narasi dalam Alkitab yang membahas tema-tema yang berkaitan dengan kesehatan mental dan emosional. Alkitab memberikan wawasan tentang pergumulan manusia, emosi, dan pentingnya mencari kenyamanan dan dukungan selama masa-masa sulit.
Beberapa aspek kunci tentang bagaimana Alkitab membahas tema-tema yang berhubungan dengan kesehatan mental, diantaranya:
Pertama, Pengakuan atas Pergumulan Emosional: Hampir di seluruh Alkitab, kita menemukan kisah-kisah tentang individu yang mengalami berbagai macam emosi, termasuk rasa takut, cemas, sedih, putus asa, dan marah. Mazmur yang ditulis oleh Raja Daud banyak mengungkapkan pergumulan emosi dan pengalaman manusia dalam menghadapi pergumulan dan keadaan yang menantang dan sulit.
Kedua, Mencari Tuhan untuk Penghiburan dan Penyembuhan: Alkitab mendorong setiap orang untuk berpaling kepada Tuhan untuk mendapatkan penghiburan dan kesembuhan pada masa-masa sulit. Mazmur 34:18, menyatakan bahwa “TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati dan menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.” Pengakuan akan kehadiran dan belas kasihan Tuhan ini sangat menenteramkan bagi mereka yang sedang menghadapi pergumulan emosional dan depresi.
Ketiga, Memberikan Pengharapan dan Kekuatan: Alkitab menawarkan pesan-pesan pengharapan dan kekuatan, mengingatkan setiap orang bahwa mereka tidak sendirian dalam pergumulan mereka. Filipi 4:13 menegaskan, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku,” memberikan dorongan untuk menghadapi tantangan dengan iman.
Keempat, Menekankan Pentingnya Komunitas dan Dukungan: Alkitab banyak mendorong gagasan tentang perlunya kelompok pendukung (supporting group) dan komunitas di antara orang-orang percaya. Galatia 6:2 mendorong untuk saling menanggung beban satu sama lain, yang mengindikasikan pentingnya mencari bantuan dan dukungan dari sesama orang percaya selama masa-masa sulit, ketika seseorang berhadapan dengan pergumulan mentalnya.
Kelima, Kisah-kisah tentang Mengatasi Tantangan: Banyak kisah dalam Alkitab yang menggambarkan orang-orang yang menghadapi cobaan, kesulitan, dan penderitaan mental, tetapi menemukan harapan dan penebusan. Kisah Elia dalam 1 Raja-raja 19 menggambarkan perjuangannya melawan depresi, tetapi Tuhan memberinya penghiburan dan arahan.
Keenam, Mengatasi Hubungan Antara Iman dan Kesejahteraan Mental: Alkitab mengakui bahwa iman dan kesejahteraan mental saling berhubungan. Meskipun iman dan spiritualitas dapat memberikan kenyamanan dan kekuatan, Alkitab juga mengakui bahwa penting bagi seseorang untuk membutuhkan bantuan dan dukungan praktis.
Kita perlu mendekati Alkitab dengan kepekaan dan pemahaman, dengan menyadari bahwa konteks budaya pada zaman Alkitab berbeda dengan pemahaman modern tentang kesehatan mental. Ayat-ayat Alkitab yang berkaitan dengan emosi dan pergumulan harus ditafsirkan dengan hati-hati, dengan mempertimbangkan konteks historis dan pesan yang lebih luas tentang harapan, iman, dan keyakinan akan pemeliharaan Tuhan.
Ketika individu, gereja, dan komunitas agama menavigasi persimpangan antara iman dan kesehatan mental, sangat penting untuk melengkapi dukungan spiritual dengan perawatan kesehatan mental berbasis bukti ketika menangani masalah kesehatan mental. Mencari bantuan profesional dari para ahli kesehatan mental dapat menjadi hal yang krusial bagi mereka yang menghadapi tantangan kesehatan mental yang signifikan.
Mengapa Gereja perlu terlibat dalam isu GKM?
“It is important to recognize that depression is not the result of weakness, nor is it usually the result of sin….Together we can break through the clouds of isolation and stigma so the burden of shame is lifted and miracles of healing can occur” (Reyna I. Aburto, Christian counsellor)
Krisis kesehatan mental akan berdampak kepada individu dan keluarga dalam komunitas gereja. Karena itu gereja sangat perlu memainkan peran aktif dalam mendukung mereka yang mengalami krisis tersebut dan mendukung ketahanan keluarga yang merawatnya (caregiver).
Dari penelitian Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) tahun 2022, dari 44,4 juta remaja Indonesia, 1 dari 20 remaja Indonesia terdiagnosis mengalami GKM, dan 1 dari 3 memiliki satu masalah kesehatan mental dalam 1 tahun terakhir. Dari 2.45 juta yang terdiagnosa GKM, baru 2.6% yang mengakses layananan konseling dan perawatan.
Namun demikian, hanya sedikit pemimpin gereja yang berbicara tentang kesehatan mental, dan secara terbuka membahas masalah atau krisis GKM ini. Gereja yang sesungguhnya terdiri dari orang-orang memiliki masalah yang nyata dan membutuhkan bantuan nyata. Jemaat gereja tidak kebal dari penyakit mental atau masalah manusia lainnya. Masalah-masalah seperti bunuh diri, perceraian, gangguan makan, penyalahgunaan zat, pornografi, kekerasan dalam rumah tangga, penganiayaan anak, kecanduan opioid, perdagangan seks, aborsi, dan tunawisma bahkan mempengaruhi orang-orang Kristen. Gereja perlu mengenali pergumulan di sekitarnya – dan pergumulan di dalam diri jemaat gereja- sebagai kesempatan untuk menunjukkan dan mengalami kasih, anugerah, belas kasihan, dan kuasa Tuhan yang mengubah.
Tiga tugas pokok gereja, yaitu bersaksi (marturia), bersekutu (koinonia), dan melayani (diakonia) adalah tugas yang holistik, tidak hanya aspek rohani saja, tetapi juga aspek fisik. Menjawab tantangan krisis kesehatan mental tersebut, maka gereja dapat berperan dalam menyediakan lingkungan yang penuh perhatian dan dukungan bagi individu dan keluarganya. Gereja bisa menawarkan belas kasih dan pengertian yang dapat mengurangi perasaan terisolasi dan stigma yang sering dikaitkan dengan GKM tersebut. Bahkan gereja berperan sangat penting dalam memerangi stigma seputar masalah kesehatan mental. Baik itu di dalam jemaat dan masyarakat. Stigmatisasi ini salah satu isu krusial dalam perjuangan mengatasi krisis Kesehatan mental di masyarakat. Perlu ruang-ruang diskusi terbuka di gereja untuk membantu menumbuhkan pemahaman jemaat akan Kesehatan mental, dan meruntuhkan hambatan dan kesalahpahaman terhadap individu dan keluarga yang mengalami GKM.
Gereja adalah tempat komunitas dan koneksi orang percaya. Gereja harus bisa menjadi lingkungan yang aman dan penuh pengertian bagi siapapun yang mencari dukungan emosional dan spiritual dalam masa-masa sulit mereka. Termasuk mereka yang mengalami GKM tersebut. Aart M Van Beek, dalam bukunya Pendampingan Pastoral (2003), menegaskan bahwa gereja terpanggil untuk menjalankan tugas pendampingan pastoral bagi jemaat yang membutuhkan. Pendampingan pastoral ini memiliki beberapa tujuan: Pertama, fungsi membimbing, yaitu menolong orang yang didampingi untuk memilih dan mengambil keputusan tentang masa depannya. Kedua, fungsi mendamaikan/memperbaiki hubungan, yaitu menjadi perantara untuk memperbaiki hubungan yang rusak dan terganggu. Ketiga, fungsi menopang yaitu membantu orang yang didampingi bertahan dalam situasi krisis dan mengurangi penderitaan mereka. Keempat, fungsi menyembuhkan yaitu memberikan pendampingan yang berisi kasih sayang, mendengarkan segala keluh kesah, dan menunjukkan kepedulian yang tinggi sehingga orang yang yang didampingi mendapatkan rasa aman dan kelegaan yang mendorong ke arah penyembuhan yang sebenarnya. Kelima,fungsi mengasuh yaitu menumbuh-kembangkan potensi yang dimiliki orang yang didampingi agar menjadi kekuatan untuk melanjutkan kehidupannya. Keenam, fungsi mengutuhkan yaitu yaitu membangun keutuhan hidup orang yang didampingi dalam segala aspek kehidupannya, yakni fisik, sosial, mental dan spiritual.
Orang dengan pergumulan GKM sangat memerlukan pendampingan pastoral untuk membantu mereka mengatasi masa-masa sulit dalam kehidupan mereka. Tujuan pendampingan adalah bagaimana gereja bisa mengaktualisasikan kasih Allah dalam kehidupan komunitas orang percaya.
Kesehatan mental membutuhkan kesengajaan. Kesehatan rohani tidak terjadi secara kebetulan. Di gereja, nilai dari disiplin rohani seperti berdoa, membaca Alkitab, dan menghadiri gereja ditanamkan. Tetapi gereja juga harus memperhatikan kesehatan mental. Para pemimpin dan pelayan gereja dapat memimpin dengan mempromosikan dan mencontohkan tindakan dan sikap yang berkontribusi pada kesejahteraan emosional.
Masalah kesehatan mental bisa jadi kompleks. Dan rumit. Dan mahal. Terlibat dalam hal ini dapat membutuhkan investasi waktu dan perhatian yang besar dan padat karya yang menghabiskan sumber daya gereja yang berharga dan terbatas secara tidak proporsional.
Menjangkau orang-orang yang terluka dapat menakutkan, berisiko dan mengintimidasi yang terluka. Tetapi itulah alasan Yesus memanggil kita untuk melakukannya. Gereja tidak selalu menjadi tempat yang aman untuk membicarakan kesehatan mental. Banyak orang yang sebelumnya pernah bergereja yang mengalami penghakiman, kritik, penolakan dan pengkhianatan ketika mengungkapkan pergumulan pribadi mereka kepada anggota jemaat lainnya. Dan sungguh memilukan ketika orang-orang yang menderita tidak mengalami kasih, kasih karunia, dan penerimaan di gereja.
Orang-orang yang tersakiti membutuhkan Gereja. Tempat kudus kita seharusnya seperti itu. Setiap jemaat harus berusaha untuk menjadi tempat yang aman dan terpercaya bagi mereka yang patah hati, tempat berlindung bagi mereka yang hidup penuh masalah, dan tempat berlindung bagi hubungan yang rusak. Hanya karena kita orang Kristen, bukan berarti kita tidak akan pernah menghadapi kesulitan atau penderitaan. Terlalu banyak orang yang bergumul dengan masalah kesehatan mental mengalami cemoohan dan rasa malu daripada kepedulian dan belas kasihan.
Di dalam dan di luar Gereja, ada banyak orang-orang yang merasa terluka, sendirian, bingung, putus asa, dan ketakutan. Dan banyak yang tidak tahu ke mana harus mencari dukungan.