Peran Gereja dalam Isu Kesehatan Mental Keluarga
“You don’t have to struggle in silence” (Demi Lovato, American Singer, Bipolar Disorder Survivor)
Ketika krisis kesehatan mental di kalangan anak-anak muda Indonesia terus meningkat, sebagian besar anak-anak muda yang mengalami krisis kesehatan mental ini tidak berani berbicara. Mereka takut dengan stigma masyarakat dan gereja, sehingga sering tidak mendapatkan pertolongan yang diperlukan. Situasi ini mudah menjadi krisis yang bersifat laten dan luput dari deteksi pelayanan gereja. Bahkan banyak keluarga yang tidak sadar akan situasi Kesehatan mental anggota keluarganya, sehingga sering terlambat mengantisipasinya.
Gereja perlu tanggap dan serius bertindak terhadap potensi meningkatnya kasus Kesehatan mental di jemaat gereja . Membangun ketahanan mental dalam keluarga menjadi hal utama yang harus diperjuangkan oleh gereja. Ketahanan mental keluarga mengacu kepada kemampuan keluarga untuk beradaptasi dan mengatasi situasi dunia yang menantang dan penuh tekanan. Hal ini melibatkan kapasitas masing-masing anggota keluarga untuk bangkit kembali dari keterpurukan, mempertahanan kesejahteraan mental yang positif, dan menjaga hubungan yang sehat meskipun menghadapi tantangan.
Ada banyak pilihan peran gereja untuk menangani isu GKM keluarga jemaat.
Pertama, Perawatan dan Konseling Pastoral: Gereja dapat menawarkan layanan perawatan pastoral dan konseling. Pendeta atau konselor gereja yang terlatih dapat memberikan dukungan emosional dan spiritual kepada individu maupun keluarga-keluarga yang berjuang dengan GKM tersebut. Keterasingan dan kesendiriaan adalah pengalaman yang sulit dan berat bagi individu yang berjuang dengan GKM. Demikian juga bagi keluarganya sebagai caregiver. Konseling pastoral ini amat diperlukan untuk membantu individu mengatasi pergumulan mereka. Pemahaman yang baik, utuh, dan menyeluruh terhadap GKM kepada pendeta atau konselor akan membantu keefektifan sesi konseling pastoral tersebut.
Kedua, Kelompok Dukungan (Supporting Groups: Gereja-gereja dapat berinisiatif mengadakan kelompok pendukung (supporting groups) yang secara khusus berfokus pada masalah kesehatan mental. Diperlukan ruang yang aman bagi individu dengan pengalaman yang sama untuk berkumpul, berbagi cerita, berbagi pengalaman, strategi mengatasi masalah dan menawarkan dukungan satu sama lain. Ruang aman yang tidak menghakimi di mana individu dapat secara terbuka mendiskusikan perjuangan kesehatan mental mereka tanpa takut akan stigma atau diskriminasi. Penerimaan dan dukungan adalah hal yang amat penting bagi para individu dan keluarganya yang menghadapi pergumulan GKM tersebut. Mendorong empati dan pemahaman di dalam jemaat dapat membuat perbedaan yang signifikan.
Gereja perlu mendorong dan memfasilitasi tumbuhnya keluarga-keluarga yang memiliki jaringan sosial dan sistem pendukung (supporting system) yang kuat. Mereka mengandalkan anggota keluarga besar, teman, komunitas, dan lembaga keagamaan, seperti gereja, untuk mendapatkan dukungan emosional dan praktis selama masa-masa sulit.
Ketiga, Meningkatkan Kesadaran: Gereja perlu secara aktif bekerja untuk meningkatkan kesadaran tentang masalah kesehatan mental di dalam jemaat. Hal ini dapat dilakukan dengan menintegrasikan pesan kesehatan mental ini ke dalam khotbah, lokakarya, seminar, atau acara pendidikan jemaat. Pesan yang penuh empati, kasih dan pengertian. Gereja bisa membahas Kesehatan mental dari berbagai perspektif lintas keilmuan untuk bisa mendapatkan pemahaman yang baik. Gereja perlu melengkapi keluarga-keluarga dengan informasi yang tepat dan akurat terkait dengan Kesehatan mental. Ini diperlukan agar setiap keluarga punya daya antisipasi yang baik, ketika persoalan Kesehatan mental masuk dalam wilayah keluarga mereka.
Dengan membahas topik-topik Kesehatan mental dari mimbar, gereja dapat membina lingkungan jemaat untuk menerima dan mendukung individu dengan GKM. Ada beberapa Lembaga yang memiliki sumberdaya yang baik untuk melengkapi para anggota jemaat terhadap pemahaman akan Kesehatan mental, seperti C4OMI (Care for Overcomers Mental Illness Indonesia), Yayasan Merajut Hati, dan sebagainya.
Keempat, Doa dan Intervensi Spiritual: Bagi sebagian jemaat gereja, mencari bimbingan rohani dan doa dapat menjadi aspek penting dalam mengatasi tantangan kesehatan mental. Gereja dapat mengajarkan dan menekankan pentingnya perawatan diri, baik secara spiritual maupun kesehatan mental. Mendorong praktik-praktik seperti meditasi, kesadaran, dan doa dapat bermanfaat dalam mendukung kesehatan mental
Gereja yang telah memiliki jejaring rantai doa, dapat diberdayakan untuk memberikan dukungan kepada jemaat yang menghadapi tantangan kesehatan mental. Dan juga untuk menawarkan bantuan praktis bagi mereka yang membutuhkan. Tetapi gereja perlu menyadari bahwa praktik spiritual saja mungkin tidak cukup untuk memulihkan individu dengan GKM. Intervensi medis dan psikologis dari kelompok profesional sangat diperlukan dalam proporsi yang sama pentingnya.
Kelima, Ajarkan Ketrampilan Mengatasi Masalah. Gereja dapat mengajarkan keterampilan mengatasi tekanan-tekanan kehidupan kepada keluarga-keluarga untuk membantu mereka mengelola mental dan mendukung orang yang mereka cintai secara efektif. Strategi penanganan atau koping akan Kesehatan mental ini dapat mencakup bagaimana mengenali gejala GKM; bagaimana mengatasi keadaan penuh tekanan; bagaimana mengatasi ketika terjadi krisis Kesehatan mental; bagaimana membangun komunikasi yang sehat dan terbuka; bagaimana mencari dukungan; bagaimana memanfaatkan sumber data dan informasi eksternal bila diperlukan, dan seterusnya.
Keenam, Kolaborasi dengan Profesional Kesehatan Mental: Gereja-greja dapat mendorong individu yang menghadapi tantangan kesehatan mental untuk juga mencari bantuan dari para profesional kesehatan mental. Gereja perlu terbua berkolaborasi dan berjejaring dengan organisasi kesehatan mental maupun kelompok prosesional kesehatan mental. Ini penting agar gereja bisa memberi rujukan informasi, dukungan, dan bantuan yang tepat ketika berhadapan dengan anggota jemaat yang mengalami GKM tersebut.
Kemitraan dan kolaborasi ini dapat mengarah pada lokakarya, seminar, atau pembicara tamu di beragam aktivitas gereja yang memberikan wawasan tentang kesehatan mental, tantangannya, dan cara-cara untuk mendukung mereka yang terkena dampaknya. Meluasnya kesadaran akan isu GKM di kalangan jemaat, akan berdampak kepada terbentuknya sistim dukungan (supporting system) yang amat diperlukan bagi anggota jemaat yang mengalami GKM.
Ketujuh, Mengatasi Stigma: Gereja-gereja harus bekerja secara progresif untuk memerangi stigma seputar GKM dalam komunitas mereka. Adalah tugas gereja untuk menciptakan lingkungan di mana individu merasa aman, sehat, dan terbuka untuk mendiskusikan masalah kesehatan mental mereka tanpa takut dihakimi atau ditolak. Mempromosikan empati dan pemahaman terhadap individu dan keluarga dengan tantangan Kesehatan mental dapat menumbuhkan komunitas gereja yang lebih bersahabat dan mendukung.
Kedelapan, Mempromosikan Dialog Terbuka. Mendorong dialog terbuka tentang kesehatan mental dalam keluarga memungkinkan komunikasi dan pemahaman yang lebih baik di antara anggota keluarga. Gereja perlu mendorong dan mempromosikan dialog-dialog terbuka di setiap keluarga, baik di mimbar, persekutuan-persekutuan kelompok kategorial, seminar dan sebagainya, sehingga gejala GKM bisa diidentifikasi dengan baik, dan bisa ditangani secara lebih dini di dalam jemaat.
Kesembilan, Libatkan Keluarga dalam Upaya Penjangkuan. Melibatkan keluarga-keluarga dalam upaya penjangkauan dan advokasi kesehatan mental dapat membantu mengurangi stigma, dan menyebarluaskan kesadaran akan Kesehatan mental. Hal ini sekaligus menjadi solusi mengatasi persoalan sumberdaya gereja yang terbatas dalam penjangkauan dan penanganan isu kesehatan mental di jemaat gereja. Ågar penjangkauan berjalan efektif, maka perlunya edukasi dan pelatihan bagi keluarga-keluarga jemaat untuk meningkatkan kesadaran terhadap persoalan Kesehatan mental.
Kesepuluh, Pelatihan dan Pendidikan: Gereja perlu memfasilitasi dan menyediakan pelatihan untuk para pendeta dan pemimpin awam mereka tentang kesadaran kesehatan mental. Pemimpin gerea perlu dilatih bagaimana mendukung individu dan keluarga-keluarga yang berurusan dengan masalah kesehatan mental secara efektif. Membekali para pemimpin gereja dengan pelatihan akan kesehatan mental dapat membantu mereka mengenali tanda-tanda tekanan dan gangguan mental, menawarkan dukungan yang tepat atau rujukan ke bantuan professional, dan melakukan pendampingan secara holistik. Pelatihan yang tepat bisa memperkuat tugas pendampingan pastoral oleh pemimpin gereja terhadap individu dan keluarga-keluarga yang bergumul dengan Kesehatan mental.
Kesebelas, Inklusi dan Akomodasi: Penting bagi gereja untuk bersikap inklusif dan akomodatif terhadap orang-orang dengan kondisi kesehatan mental. Hal ini mungkin termasuk membuat penyesuaian pada praktik ibadah atau ruang fisik untuk memastikan bahwa individu dengan tantangan kesehatan mental merasa diterima dan nyaman. Termasuk membuat lingkungan kehidupan gereja yang akomodatif terhadap individu jemaat dengan pergumulan Kesehatan mental.
Keduabelas, Advokasi dan Inisiatif Sosial: Gereja dapat memilih untuk terlibat dalam advokasi dan inisiatif sosial untuk mempromosikan kesadaran akan kesehatan mental; melawan stigma; dan mengadvokasi kebijakan kesehatan mental yang lebih baik di komunitas mereka. Akses pelayanan untuk individu yang mengalami GKM masih sangat jauh dari memadai. Advokasi gereja untuk memperjuangkan kebijakan public dari pemerintah yang mendukung dan berpihak terhadap penanganan Kesehatan mental yang adil dan holistic, perlu untuk diperjuangkan.
Kita perlu menyadari bahwa respons terhadap penyakit mental di dalam gereja dapat bervariasi. Tidak semua gereja memiliki sistem dukungan yang komprehensif. Dengan meningkatnya pemahaman jemaat akan kesehatan mental, maka gereja diharapkan berevolusi menjadi lebih inklusif dan berbelas kasih dalam pendekatan mereka terhadap masalah kesehatan mental.
Meskipun gereja dapat memainkan peran positif dalam mendukung kesehatan mental, gereja tidak boleh dilihat sebagai pengganti perawatan kesehatan mental profesional. Kondisi kesehatan mental itu kompleks, dan perawatan yang efektif sering kali membutuhkan keahlian profesional kesehatan mental seperti psikiater, psikolog, dan terapis. Pendekatan holistik yang menggabungkan dukungan spiritual dan komunitas dengan perawatan kesehatan mental berbasis bukti dapat memberikan hasil terbaik bagi individu yang menghadapi tantangan kesehatan mental.
Penutup
Gereja tidak bisa sendirian dalam mengatasi persoalan Kesehatan mental ini. Gereja harus terhubung dalam ekosistem penanganan Kesehatan mental yang melibatkan beragam pihak pemangku kepentingan. Ada pemerintah, ada Lembaga swadaya masyarakat, kelompok professional Kesehatan mental, ada Lembaga advokasi, dan berbagai kelompok-kelompok masyarakat lainnya yang bahu membahu mengatasi persoalan Kesehatan mental yang makin meningkat dan kompleks ini.
Gereja harus terbuka dan berinisiatif terlibat dalam memikirkan dan menggerakkan sumberdaya sesuai kapasitasnya untuk turus menyelesaikan persoalan Kesehatan mental ini. Gereja perlu hadir secara relevan dan signifikan terhadap isu Kesehatan mental yang tidak hanya berdampak kepada kehidupan bergereja, tetapi juga kehidupan masyarakat secara umum.
Dalam kelimpahan dan anugerah-Nya, Tuhan telah menempatkan gereja-gereja secara strategis untuk memenuhi kebutuhan mereka yang mengalami masalah Kesehatan mental. Gereja-gereja sebagai komunitas iman dan penyembuhan yang berpusat pada Kristus dapat membawa sumber-sumber pengajaran Alkitab, doa, persekutuan, keramahtamahan dan kepedulian, konseling, dan advokasi untuk keadilan untuk memenuhi kebutuhan mereka yang mengalami masalah Kesehatan mental. Tidak ada kesehatan tanpa kesehatan mental
*) Penulis adalah anggota jemaat GKI Kwitang dan anggota tim kerja Care for Overcomers on Mental Illness Indonesia (C4OMI)
