Risiko Middle-Income Trap: Tantangan yang Sudah di Depan Mata


Oleh: Sigit Darmawan

Kita hidup di dunia yang penuh dengan ketidakpastian—sebuah VUCA world—di mana Volatility (volatilitas), Uncertainty (ketidakpastian), Complexity (kompleksitas), dan Ambiguity (ambiguitas) menjadi warna sehari-hari. Dalam lanskap ekonomi global seperti ini, Indonesia harus bertransformasi jika tidak ingin terjebak dalam stagnasi ekonomi.

Salah satu tantangan terbesar kita adalah bagaimana menghindari jebakan yang disebut middle-income trap. Sebuah istilah yang sering didengar, tapi jarang dipahami mendalam.

Middle-income trap adalah kondisi di mana suatu negara berhasil keluar dari status negara berpenghasilan rendah, namun gagal mencapai status negara berpenghasilan tinggi karena mengalami stagnasi ekonomi.

Negara-negara yang terjebak dalam kondisi ini biasanya mengalami pertumbuhan pesat saat masih berpenghasilan rendah, namun kemudian tersandung ketika masuk ke level menengah. Mengapa? Karena mereka tidak mampu mengubah model ekonominya.

Masalah utamanya adalah ketidakmampuan untuk beralih dari ekonomi berbasis tenaga kerja murah dan ekspor komoditas ke ekonomi yang berbasis pada produktivitas, inovasi, dan teknologi.

Kita masih mengandalkan business as usual—menggali sumber daya alam, menjual bahan mentah, dan mengabaikan investasi jangka panjang di bidang teknologi dan SDM.

Inilah risiko besar yang harus kita hadapi: middle-income trap. Jika tidak ada perubahan mendasar, risiko ini akan menjadi kenyataan.

*

Sejak 2014 hingga 2023, pertumbuhan ekonomi Indonesia rata-rata 4,4% per tahun. Angka ini terlihat lumayan, tapi jauh dari cukup untuk membawa kita keluar dari middle-income trap.

Di tahun 2023, pendapatan per kapita Indonesia berada di kisaran USD 4.580. Dengan laju pertumbuhan sekitar 4,4%, Bank Dunia memproyeksikan bahwa pada 2030, kita hanya bisa mencapai pendapatan per kapita sekitar USD 6.000–7.000.

Tapi kita perlu tahu bahwa untuk lolos dari middle-income trap, kita harus mencapai pendapatan per kapita di atas USD 12.000. Dengan pertumbuhan ekonomi tahunan 4-5%, Indonesia masih jauh dari target itu. Jika kita tidak bergerak lebih cepat—6% hingga 7% pertumbuhan per tahun— middle-income trap akan menjadi nasib kita.

Jadi, pertanyaannya sekarang adalah: apa yang harus kita lakukan untuk menghindari jebakan ini?

Masalah kita bukan hanya soal meningkatkan pendapatan (income), tetapi soal memperbesar kekayaan (wealth). Bagaimana caranya? Di sinilah pentingnya Revolusi Produktivitas.

*

Revolusi Produktivitas: Kunci untuk Melompat Lebih Tinggi

Apa itu Revolusi Produktivitas? Ini adalah perubahan besar dalam cara kita meningkatkan efisiensi dan hasil ekonomi melalui inovasi, teknologi, dan peningkatan kualitas SDM.

Indonesia harus keluar dari pola lama yang hanya mengandalkan tenaga kerja murah dan sumber daya alam. Kita harus bergerak menuju ekonomi berbasis produktivitas tinggi, inovasi, teknologi digital, dan nilai tambah.

Beberapa langkah strategis yang perlu dilakukan:

Pertama, Inovasi dan Teknologi. Inovasi adalah harga mati. Tanpa inovasi, kita akan tertinggal, bukan hanya di sektor digital, tetapi juga di industri tradisional seperti manufaktur, pertanian, dan energi. Transformasi industri adalah suatu keharusan.

Kedua, Investasi pada SDM Bonus demografi yang kita miliki hanya akan menjadi beban jika tidak dibarengi dengan peningkatan kualitas SDM. Pendidikan vokasional, pelatihan berbasis teknologi, dan reskilling harus menjadi prioritas utama. Tanpa tenaga kerja yang berkualitas, bonus demografi hanya akan menjadi bom waktu.

Ketiga, Hilirisasi dan Nilai Tambah. Jangan lagi bangga hanya menjadi eksportir bahan mentah. Sudah waktunya kita bicara soal hilirisasi. Sektor tambang, sawit, dan perikanan memiliki potensi besar jika kita bisa mengembangkan industri pengolahan yang kuat. Hilirisasi hasil riset juga sangat penting untuk mendongkrak daya saing industri.

Keempat, Pemanfaatan Teknologi Digital. Dengan penetrasi internet yang tinggi, sektor ekonomi digital harus menjadi mesin penggerak revolusi produktivitas. Kolaborasi antara startup teknologi dan industri konvensional sangat diperlukan untuk menciptakan ekosistem ekonomi yang dinamis.

Kelima, Infrastruktur dan Konektivitas. Pembangunan infrastruktur yang merata akan menjadi pendorong utama efisiensi produksi dan distribusi. Konektivitas yang baik antara wilayah juga sangat diperlukan untuk mempercepat arus barang dan jasa.

*

Membangun Pertumbuhan Berbasis Produktivitas

Indonesia butuh transformasi ekonomi besar-besaran. Pemerintah dan sektor swasta harus bersinergi dalam menciptakan ekosistem yang mendukung pertumbuhan berbasis produktivitas.

Hilirisasi yang sudah berjalan, seperti di sektor mineral dan batubara, harus diperluas ke sektor-sektor lain. Inovasi dan teknologi juga harus menjadi pilar utama dalam menciptakan nilai tambah dan lapangan kerja.

Sejarah telah membuktikan, negara-negara yang berhasil keluar dari middle-income trap adalah negara yang berani melakukan reformasi besar-besaran, baik dalam ekonomi maupun sosial. Dan reformasi seperti itu harus dilakukan dengan cepat.

Risiko middle-income trap ada di depan mata kita. Namun, dengan kebijakan yang tepat, strategi yang terarah, dan keberanian untuk bertransformasi, Indonesia bisa melewatinya.

Kita harus siap menghadapi era VUCA dengan visi yang jelas dan aksi yang konkret. Hanya dengan begitu kita bisa melompat lebih tinggi dan mencapai kemakmuran yang kita idamkan.

Leave a comment