Oleh: Sigit Darmawan

Fenomena “Great Reallocation” menjadi salah satu topik hangat di kalangan industri global beberapa tahun terakhir. Istilah ini merujuk pada pergeseran besar dalam rantai pasok global, khususnya perpindahan basis produksi dari China ke negara-negara di Asia Tenggara dan India. Beberapa faktor kunci yang memicu fenomena ini adalah perang dagang antara Amerika Serikat dan China, disrupsi rantai pasok akibat pandemi COVID-19, serta peningkatan ketergantungan perusahaan pada sumber pasokan tunggal dari China.
China, yang dalam beberapa dekade terakhir dianggap sebagai “Factory of the World“, kini mulai kehilangan dominasinya. Banyak perusahaan multinasional memutuskan untuk mengalihkan operasi manufakturnya dari China. Sebuah langkah yang dikenal sebagai strategi “China + 1” atau “China +”. Strategi ini menekankan perlunya memiliki basis produksi tambahan di luar China untuk mengurangi risiko ketergantungan yang terlalu besar terhadap satu negara.
Apa yang kita saksikan saat ini bukan sekadar respons terhadap satu krisis, melainkan sebuah transisi struktural manufaktur. Perubahan ini menantang perusahaan untuk menata ulang strategi rantai pasok Tidak hanya demi efisiensi biaya, tetapi juga untuk ketahanan dan keberlanjutan jangka panjang.
*
Kita harus mengakui bahwa dunia sudah lama menikmati manfaat dari globalisasi. Ketika biaya produksi di China sangat rendah di tahun 1990-an, dunia menyaksikan kebangkitan sebuah pabrik besar yang menghasilkan hampir semua yang kita butuhkan. Dari elektronik, pakaian, hingga barang-barang rumah tangga.
China menjadi “the world’s factory”—pabrik dunia—dengan biaya tenaga kerja yang murah, infrastruktur yang canggih, dan kemampuan produksi yang luar biasa.
Namun, dinamika mulai berubah. China, yang dulu menawarkan biaya tenaga kerja rendah, kini semakin mahal. Upah tenaga kerja di China telah melonjak hingga mencapai rata-rata $6 per jam, jauh dari angka rendah yang mereka tawarkan di masa lalu. Sementara itu, negara-negara seperti Vietnam, India, dan Meksiko mulai menawarkan biaya tenaga kerja yang lebih kompetitif, bahkan setengahnya dari apa yang sekarang terjadi di China.
Pandemi COVID-19 yang melanda dunia pada 2020 telah mempercepat proses relokasi ini. Ketika rantai pasok global terganggu, banyak perusahaan menyadari bahwa ketahanan—bukan sekadar efisiensi—adalah kunci untuk bertahan di masa depan yang tidak pasti.
Gangguan transportasi, keterlambatan logistik, dan penghentian produksi di berbagai belahan dunia membuat mereka bertanya: “Apakah kita siap menghadapi guncangan berikutnya?”
*
Vietnam dan India: Bintang Baru Manufaktur.
Siapa yang diuntungkan dari Great Reallocation ini? Banyak yang menoleh ke Asia Tenggara. Vietnam menjadi salah satu pemenang besar. Dengan tenaga kerja murah dan kebijakan yang pro-investasi, negara ini telah berhasil menarik perhatian raksasa teknologi seperti Apple dan Samsung. Data menunjukkan bahwa ekspor Vietnam ke Amerika Serikat meningkat lebih dari 50% sejak 2018. Thailand dan Indonesia juga ikut masuk dalam radar meskipun sebagai tujuan manufaktur alternatif.
India juga menjadi salah satu negara yang menarik. Dengan inisiatif ambisius “Make in India,” negara ini menarik perusahaan-perusahaan global yang ingin mendiversifikasi produksi mereka. India memiliki tenaga kerja yang melimpah dan semakin didukung oleh infrastruktur yang berkembang. Potensi India sebagai pusat manufaktur baru tidak bisa diabaikan.
Di belahan lain dunia, Meksiko adalah kartu truf Amerika. Negara itu memainkan perannya sebagai alternatif strategis untuk perusahaan-perusahaan Amerika Utara.
Proximity—kedekatan geografis—menjadi nilai tambah yang sangat besar bagi Meksiko, terutama setelah perjanjian USMCA (United States-Mexico-Canada Agreement) disepakati, menggantikan NAFTA. Dengan biaya tenaga kerja yang lebih rendah daripada Amerika Serikat, dan akses langsung ke pasar terbesar di dunia, Meksiko memiliki daya tarik tersendiri bagi perusahaan yang ingin melakukan Nearshoring [Praktik merelokasi operasi bisnis ke negara terdekat].
Perusahaan otomotif dan elektronik di Amerika Serikat mulai mengalihkan sebagian besar operasinya ke Meksiko untuk memangkas biaya logistik dan meningkatkan efisiensi produksi. Deloitte memprediksi bahwa output manufaktur Meksiko bisa meningkat hingga 30-40% pada 2026 sebagai hasil dari tren nearshoring ini.
*
Teknologi dan Rantai Pasok Masa Depan
Namun, relokasi besar ini tidak serta-merta menyelesaikan semua masalah. Di masa depan, rantai pasok global akan lebih bergantung pada teknologi. Otomatisasi, robotika, dan AI akan menjadi komponen penting dalam menjaga efisiensi di tengah peningkatan biaya tenaga kerja di banyak negara.
China sendiri tidak tinggal diam. Negeri ini sedang memusatkan kekuatannya pada sektor-sektor teknologi tinggi, seperti chip semikonduktor dan kecerdasan buatan. Mereka sadar bahwa keunggulan mereka di sektor manufaktur berbiaya murah mungkin akan semakin berkurang, tetapi mereka berupaya mempertahankan posisi dominan di bidang dengan nilai tambah tinggi.
Di saat yang sama, negara-negara yang menjadi tujuan relokasi seperti Vietnam dan India juga harus berinvestasi lebih besar dalam infrastruktur dan teknologi agar bisa bersaing di pasar global yang semakin kompleks.
*
Great Reallocation bukanlah sekadar tren sementara. Ini adalah transformasi mendalam yang mengubah peta manufaktur global. Perusahaan tidak lagi hanya mengejar efisiensi biaya, tetapi mereka juga mencari ketahanan, keberlanjutan, dan diversifikasi dalam rantai pasok mereka.
Bagi negara-negara seperti Vietnam, India, dan Meksiko, ini menjadi peluang besar untuk naik kelas sebagai pusat manufaktur global. Negara-negara ini terus bergerak cepat dan pintar dalam membangun infrastruktur dan meningkatkan keterampilan tenaga kerja mereka.
Sebaliknya, bagi China yang mulai akan kehilangan dominasinya, ini adalah peringatan untuk berinovasi dan beradaptasi dengan cepat agar tetap mampu mempertahankan keunggulannya di dunia yang terus berubah.
Dunia manufaktur sedang bergeser, dan hanya mereka yang siap menghadapi tantangan yang akan memenangkan permainan besar ini. Ini tantangan besar bagi Indonesia