Oleh : Sigit Darmawan

Kita (mungkin) sudah mendengar tentang Web 3.0, Generasi ketiga Internet. Sering disebut sebagai masa depan internet, bahkan masa depan bisnis. Apakah ini hanya sekadar kehebohan (hype), atau memang ada potensi nyata di sana?
Kita perlu melihat perjalanan internet. Web 1.0 adalah era sederhana. Pengguna hanya bisa membaca informasi—tak ada yang bisa dilakukan selain mengonsumsi. Internet menjadi ensiklopedia digital.
Era Web 2.0, membawa perubahan besar. Pengguna mulai bisa membuat konten, berinteraksi, dan berbagi. Facebook, Youtube, Instagram, e-commerce, blog tumbuh dan berkembang.
Namun Web 2.0 datang dengan kompromi: data kita menjadi ‘barang dagangan’. Setiap klik, setiap unggahan, dan setiap gerakan mouse kita dipelajari. Data kita dipakai untuk menargetkan iklan, memprediksi kebutuhan, bahkan — dalam beberapa kasus– membentuk opini publik.
Dan kita menghadapi masalah besar: sentralisasi. Beberapa perusahaan teknologi raksasa memonopoli data dan mengontrol segalanya.
Maka munculah pertanyaan penting: mungkinkah di dunia internet setiap orang punya kontrol penuh atas data mereka sendiri? Data yang aman, transparan, dan bebas dari pengawasan pihak ketiga.
***
Konsep dasar Web 3.0 membawa tiga hal utama: desentralisasi, transparansi, dan kendali oleh pengguna.
Jika kita pengusaha yang menjual produk-produk secara online, selama ini, kita bergantung pada platform e-commerce besar. Platform ini memberi kita akses ke pasar yang luas, tapi dengan biaya: komisi penjualan, plus akses data pelanggan yang dikuasai oleh platform tersebut, bukan oleh kita.
Dan, di sinilah peran Web 3.0. Teknologi ini memungkinkan kita membangun platform e-commerce berbasis blockchain. Tanpa perantara. Semua transaksi yang terjadi akan tercatat secara transparan. Bisa melihat riwayat transaksi dengan jaminan keaslian data. Ini mengurangi risiko penipuan dan meningkatkan kepercayaan pelanggan.
Jika ingin menjual karya seni digital, kita bisa menjualnya dalam bentuk NFT. Ada jaminan sertifikat keaslian digital yang tak bisa dipalsukan. Setiap kali karya tersebut dijual ke pihak lain, otomatis mendapatkan royalti—tanpa perlu melalui proses panjang dan tanpa perantara yang mengurangi pendapatan kita.
Jika di Web 2.0, kita terbiasa dengan konsep “big data”. Perusahaan mengumpulkan data-data dari pelanggan mereka untuk mempersonalisasi pengalaman.
Di Web 3.0, kendali data ada di tangan pelanggan. Mereka yang memutuskan siapa yang boleh mengakses data mereka, dan untuk apa.
Artinya, jika bisnis kita ingin mendapatkan data dari pelanggan, kita harus menawarkan sesuatu yang bernilai sebagai imbalan.
Jadi akan terjadi perubahan era. Dari era “pengumpulan data secara sembunyi-sembunyi”, ke era “pertukaran nilai yang transparan”.
***
Bagaimana ini akan mengubah bisnis? Bisnis harus jadi lebih kreatif dan menghargai pelanggan. Harus ada cara-cara baru untuk menarik dan mempertahankan pelanggan. Bukan hanya dengan iklan yang menargetkan secara agresif, tapi dengan memberikan nilai yang nyata dan transparan.
Juga akan terjadi pergeseran dari model bisnis yang berpusat pada perantara ke model bisnis peer-to-peer. Platform yang tadinya menjadi penguasa data dan transaksi akan kehilangan sebagian kekuasaannya.
Kita akan segera “melintasi perbatasan baru”. Inovasi tidak lagi hanya milik perusahaan besar. Inovasi bisa lahir dari mana saja, dari siapa saja yang memiliki akses ke teknologi yang sama.
Menurut Hype Cycle dari Gartner, perusahaan riset tekonologi AS, teknologi web 3.0 berada dalam fase “peak of inflated expectation“. Artinya teknologi ini mendapat perhatian besar, dengan ekspektasi tinggi, meski masih terbatas penerapannya. Banyak inovasi teknologi yang “ambyar” di fase ini.
Jika web 3.0 ini mampu melewati fase ini, diprediksi dalam 5 tahun kedepan akan mengubah dunia bisnis dan akan menjadi fondasi baru dalam ekosistem bisnis global.