Oleh: Sigit Darmawan

(Catatan Kecil dari Film Mary)
Netflix baru saja meluncurkan sebuah film barunya yang berjudul Mary di penghujung tahun 2024. Saya berkesempatan menonton film ini beberapa hari lalu. Film ini disutradarai oleh D.J. Caruso dan ditulis oleh Timothy Michael Hayes. Dalam proses produksinya, film ini disebut melibatkan beberapa produser terkenal.
Film ini menggambarkan kisah Maria, ibu Yesus, dengan perspektif yang manusiawi, penuh perasaan, dan menawarkan pendekatan berbeda dari sekadar kisah Alkitab yang selama ini kita kenal.
Film Mary bukan hanya bicara tentang Maria sebagai sosok kudus yang sering dilukiskan dalam ikon-ikon gereja. Netflix mencoba untuk menghadirkan sebuah realitas kehidupan seorang perempuan muda di tengah tradisi Yahudi kuno. Dari sejak kelahiran sampai masa mudanya ketika panggilan Ilahi itu datang.
Maria, seorang anak desa sederhana dari Nazaret, yang tiba-tiba menghadapi tanggung jawab besar: mengandung Anak Allah.
Maria yang masih belia mendengar kabar dari malaikat bahwa ia akan melahirkan seorang Juruselamat. Ada kecemasan, ada ketakutan, bahkan ada momen di mana ia bertanya-tanya, “Mengapa aku?”
Film ini memberikan kekuatan narasi seorang Maria yang manusiawi. Ditengah ketakutannya, Maria tetap memilih taat dalam iman. Di tengah ketidakpastian, Maria dengan berani menjawab panggilan Tuhan: “Jadilah padaku menurut perkataan-Mu” (Lukas 1:38).
Memang Netflix mengambil risiko dengan menghadirkan film ini dalam pendekatan yang lebih “kontemporer”. Meski tetap berlatar di abad pertama. dialog-dialog Maria terasa dekat dengan emosi dan pengalaman perempuan modern.
Hubungannya dengan Yusuf, misalnya, digambarkan begitu tulus, tetapi juga penuh dilema. Yusuf harus memutuskan apakah ia akan tetap bersama Maria setelah mendengar kabar kehamilannya yang misterius.
Film ini memberi kita pelajaran besar tentang cinta, pengorbanan, dan kepercayaan. Maria dan Yusuf bukan hanya tokoh Alkitab, tetapi pasangan muda yang berjuang bersama, menghadapi pandangan masyarakat yang penuh stigma.
Sinematografi film ini adalah juga menjadi salah satu kekuatannya. Visualisasi padang gurun Yudea yang luas, desa Nazaret yang sederhana, hingga kandang Betlehem yang penuh kehangatan di malam kelahiran Yesus, semuanya dihadirkan dengan situasi yang memikat.
Salah satu adegan yang memikat saya adalah adegan Maria dalam keheningan doa. Saat dia berbicara dengan Tuhan, cahaya lembut menerangi wajahnya, menggambarkan keintiman iman yang tidak dapat digambarkan dengan kata-kata.
***
Sejak peluncurannya di Netflix, film ini ternyata telah mengundang diskusi luas di berbagai kalangan, baik rohaniwan maupun awam.
Film ini sudah harus menghadapi beragam kritik dan menjadi pusat perdebatan karena interpretasi kreatifnya terhadap kisah Maria. Beberapa kritikus menyebut bahwa Netflix mengambil terlalu banyak kebebasan artistik dalam menggambarkan Maria. Kritikus lainnya mempersoalkan penambahan elemen kekerasan dalam beberapa adegannya.
Termasuk kontroversi pemilihan aktris Israel, Noa Cohen, sebagai Maria, dan aktor Israel, Ido Tako, sebagai Yusuf. Seruan boikot terhadap film inipun mulai muncul di media sosial, sebagai film yang tidak sensitif terhadap isu politis tentang Israel saat ini.
Beberapa tokoh agama merasa bahwa film ini “terlalu modern” dalam penyajiannya. Meskipun, secara keseluruhan film Mary ini berusaha menghidupkan kembali kisah lama dengan relevansi baru.
Namun di balik segala kontroversi, Mary adalah pengingat bahwa kisah Natal bukan hanya tentang kelahiran Yesus, tetapi juga tentang iman seorang perempuan muda yang menghadapi tantangan luar biasa.
Maria tidak memiliki semua jawaban, tetapi ia percaya pada Tuhan yang memanggilnya.
Film ini mengajak kita bertanya: bagaimana dengan kita? Apakah kita memiliki keberanian untuk berkata “ya” kepada panggilan Tuhan, bahkan saat itu sulit?
Dalam pandangan saya, Netflix melalui film Mary berhasil mengangkat kisah yang sering kali dianggap sebagai cerita kuno menjadi sesuatu yang relevan dan menyentuh.
Dengan gaya penceritaan yang manusiawi dan visual yang memikat, film ini adalah karya yang menarik untuk ditonton. Terutama jika kita yang ingin mencari inspirasi tentang arti keberanian dan iman.
Atau setidaknya Film Mary ini memberikan perspektif pandangan terhadap Maria dengan cara yang baru—bukan hanya sebagai ibu Yesus, tetapi sebagai perempuan yang menjadi simbol iman, ketabahan, dan cinta sejati.
Selamat menikmati sebuah tontonan menjelang perayaan Natal