Oleh: Sigit Darmawan
(Catatan dari Global Trends 2025)

Tahun 2025, panggung besar dunia akan dipenuhi aktor-aktor baru. Dominasi Barat, terutama Amerika Serikat, mulai pudar. Dunia multipolar yang penuh dinamika sedang menjelang. Kekuasaan ekonomi, politik, dan sosial kini tersebar lebih luas, tidak hanya di tangan negara-negara maju, tetapi juga negara berkembang, aktor non-negara, hingga teknologi.
Itulah inti laporan Global Trends 2025: A Transformed World, yang diterbitkan oleh National Intelligence Council (NIC). Sebagai badan strategis di bawah Kantor Direktur Intelijen Nasional Amerika Serikat, NIC bertugas memberikan kajian dan analisis mendalam untuk membantu pembuat kebijakan memahami tren besar dunia di masa depan.
Laporan ini dirancang untuk memberikan wawasan strategis, mengidentifikasi peluang dan risiko, serta mendorong diskusi kebijakan jangka panjang. Tidak hanya melibatkan komunitas intelijen AS, NIC juga menggandeng pakar global, think tank internasional seperti Atlantic Council, serta berbagai konsultan strategis dari Cina hingga Timur Tengah. Semua ini dilakukan agar laporan memiliki perspektif global yang solid.
Termasuk memikirkan skenario berbagai kemungkinan masa depan, seperti dunia tanpa dominasi barat (“A World Without the West”)
***
Lalu, apa yang bisa kita pelajari dari laporan ini?
Pertama, Perubahan Peta Kekuasaan. Amerika Serikat, meski masih penting, kini menghadapi kenyataan: dominasinya berkurang. Dua raksasa Asia, Cina dan India, sedang bangkit. Mereka kembali ke posisi historis sebagai pusat ekonomi dunia, seperti di abad ke-18.
Namun, bukan hanya negara yang mengambil peran. Aktor non-negara seperti perusahaan global, komunitas digital, hingga jaringan kriminal turut berpengaruh besar. Dunia tidak lagi hanya tentang kekuatan negara, tetapi siapa saja yang mampu menciptakan dampak global.
Kedua, Pergeseran Kekayaan ke Timur: Asia Memimpin, Barat Berbenah. Pergeseran kekayaan dari Barat ke Timur adalah salah satu perubahan terbesar dalam sejarah modern. Ada dua alasan utama:
- Lonjakan harga komoditas. Negara-negara seperti Rusia dan Teluk menikmati surplus besar dari kenaikan harga minyak dan gas.
- Efisiensi produksi di Asia. Cina dan India menjadi pusat manufaktur dunia, berkat kebijakan negara yang mendukung industrialisasi. Meskipun mulai terjadi Great Reallocation, dengan keluarnya perusahaan-perusahaan multinasional dari China, namun China masih dominan setidaknya dalam satu dekade mendatang.
Pada 2025, Cina akan menjadi ekonomi terbesar kedua di dunia dan importir sumber daya alam terbesar. Model kapitalisme negara yang mereka jalankan memungkinkan pemerintah tetap memegang kendali, menciptakan efisiensi luar biasa. Sementara itu, India, dengan pertumbuhan kelas menengahnya, ikut mengubah pola konsumsi global.
Namun, pergeseran ini tidak merata. Sub-Sahara Afrika dan beberapa negara Amerika Latin tetap tertinggal, terjebak dalam ketimpangan. Negara kaya semakin makmur, sementara yang miskin semakin terpinggirkan.
Situasi ini memberikan tantangan besar bagi Amerika dan Eropa. Mereka tidak bisa diam. Mereka harus mengelola transisi ini dengan dua cara:
- Mengurangi ketergantungan pada energi fosil. Mengelola energi secara lebih efisien untuk menopang daya saing ekonomi.
- Mempertahankan keunggulan teknologi dan jasa. Jika Barat sampai kehilangan posisi dan inovasi di bidang ini, dominasi mereka di ekonomi global akan semakin melemah.
Namun laporan ini juga memberikan catatan penting: pergeseran kekayaan ini bukanlan permainan zero-sum game. Ada ruang bagi Barat untuk tetap relevan, tetapi hanya jika mereka beradaptasi dengan cepat.
Ketiga, Krisis Sumber Daya dan Perubahan Iklim: Ujian Peradaban
Pertumbuhan ekonomi yang pesat menciptakan tekanan besar pada sumber daya alam. Pada 2025, permintaan makanan akan naik 50%, sementara akses air bersih semakin langka di banyak wilayah, terutama negara berkembang.
Dunia akan menghadapi krisis Energi. Produksi minyak dan gas menurun, tetapi ketergantungan pada fosil masih tinggi. Dunia sedang menuju transisi energi besar, dari minyak ke gas alam dan energi alternatif.
Namun, transisi ini tidak mudah:
- Teknologi belum siap. Energi terbarukan seperti angin dan surya masih membutuhkan waktu puluhan tahun untuk diadopsi secara luas.
- Ketergantungan pada kawasan tidak stabil. Sebagian besar cadangan energi masih berada di Timur Tengah, yang rawan konflik.
Laporan itu juga menyebutkan bahwa dunia akan menghadapi kelangkaan air dan makanan. Pertumbuhan populasi 1,2 miliar jiwa dalam 20 tahun ke depan akan memperburuk tekanan pada air dan pangan. Urbanisasi cepat di negara berkembang menambah tantangan besar.
Namun, laporan Global Trend ini optimis bahwa teknologi bisa menjadi solusi dan penyelamat. Inovasi seperti irigasi pintar dan tanaman tahan kekeringan berpotensi meningkatkan produksi pangan. Teknologi pengolahan air dengan sistem pemurnian dan distribusi air yang efisien akan menjadi solusi di masa depan.
Selain itu perubahan iklim akan menjadi pemicu konflik. Dampak perubahan iklim bukan hanya soal suhu naik atau hujan kurang. Konflik atas air, makanan, dan energi diprediksi akan meningkat, terutama di wilayah seperti Asia Selatan dan Timur Tengah.
Keempat, Konflik Baru di Dunia Multipolar
Dunia multipolar adalah dunia peluang sekaligus risiko. Konflik bisa muncul antara negara besar seperti Cina dan India, atau di wilayah sumber daya seperti Timur Tengah. Terorisme tetap menjadi ancaman, meski laporan ini optimis bahwa peluang kelompok ekstremis akan menurun jika ekonomi di Timur Tengah membaik.
Kelima, Tantangan Kepemimpinan Global
Institusi global seperti PBB dan IMF berada di persimpangan jalan. Mereka menghadapi tantangan besar untuk tetap relevan di dunia yang semakin kompleks. Dibutuhkan kepemimpinan yang visioner dan kolaboratif untuk mencegah dunia terjebak dalam fragmentasi.
***
Global Trend 2025 menyajikan gambaran dunia yang penuh dengan peluang, tetapi juga tantangan. Dunia berada di persimpangan. Dunia yang lebih ramai, lebih kompetitif, tetapi juga lebih rentan. Pertanyaannya, apakah Indonesia akan menjadi penonton, atau pemain yang berperan aktif membentuk masa depan?
Indonesia, dengan posisinya yang strategis, populasi besar, dan kekayaan alam melimpah, punya potensi besar untuk menjadi aktor global. Namun, itu hanya bisa terwujud jika kita siap berubah, berinovasi, dan berkolaborasi.
Karena, seperti yang disimpulkan laporan ini: “Kepemimpinan itu penting. Tidak ada tren yang tidak bisa diubah jika kita bertindak tepat waktu.”
Mari bersiap, karena 2025 bukan hanya tentang Cina atau Amerika. 2025 juga tentang kita. Indonesia.