JEMBATAN


Oleh: Sigit Darmawan

I will be your bridge over deep water if you trust in me“.

I.
Sepenggal kalimat yang diucapkan oleh Rev Claude Jeter, seorang penyanyi Gospel dari kwartet “Silverstone“, telah menginspirasi Paul Simon untuk menulis lagu “Bridge Over Troubled Water“.

Lagu ini adalah refleksi persahabatan Simon dan Jeter. Liriknya memotret nilai-nilai pengorbanan, kasih, dan kepedulian. Meski berangkat dari realitas keputusasaan manusia, lagu ini mengingatkan bahwa kita tidak diciptakan untuk menjalani hidup seorang diri. Kita butuh jembatan– sebuah penopang di tengah derasnya arus kehidupan.

Religiositas lagu ini telah menjadi inspirasi bagi banyak orang. Tidak heran, lagu ini menjadi lagu populer sepanjang masa dan menyabet penghargaan 8 platinum.

Peristiwa Natal adalah juga tentang pengorbanan dan kasih. Yesus Kristus lahir di dunia untuk menjadi jembatan antara Allah dan manusia.

Dalam dosa, manusia terpisah dari Allah, tetapi melalui kedatangan-Nya, Yesus memberikan jalan untuk mendamaikan hubungan itu.

Sama seperti dalam lagu tersebut, Yesus adalah sahabat sejati yang siap menopang, memberi kekuatan, dan membawa pengharapan bagi manusia yang lemah dan rapuh.

II.
“We need a bridge, not a wall”. Kata Paus Fransiskus ketika merayakan 25 tahun keruntuhan Tembok Berlin. Paus menyatakan bahwa di mana ada tembok dan dinding, di situ ada hati yang tertutup. Itu berarti ada pengasingan manusia.

Tembok Berlin yang dibangun tahun 1961 adalah simbol tentang pemisahan manusia berdasarkan ideologi negara. Banyak masyarakat yang terluka karena keterpisahan antar keluarga, antar saudara, maupun antar teman.

Natal, sebaliknya, mengajarkan tentang penyatuan—bahwa dalam kasih Kristus, tidak ada tembok yang terlalu tinggi atau jarak yang terlalu jauh untuk diatasi.

Keberagaman sejatinya adalah sebuah kekayaan. Tetapi seringkali berubah menjadi tembok yang memisahkan. Perbedaan-perbedaan itu menjadi sebuah dinding yang menghalangi komunikasi dan interaksi, menciptakan permusuhan dan rasa curiga.

Rasul Paulus menulis “Dalam hal ini tidak ada lagi orang Yahudi atau Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” (Galatia 3:28)

Dalam Kristus, segala perbedaan menjadi tidak relevan. Yesus lahir bukan hanya untuk satu bangsa atau kelompok, tetapi untuk seluruh dunia.

Dia menjadi jembatan di tengah-tengah masyarakat yang terpecah. Dia melayani seorang wanita Samaria di sumur (Yohanes 4:7-26), suatu tindakan radikal di tengah ketegangan antara orang Yahudi dan Samaria.

Yesus menunjukkan bahwa kasih Allah tidak terbatas pada satu kelompok saja, tetapi melampaui tembok-tembok pemisah yang dibuat manusia.

III.
Dalam bukunya “The Cost of Community” (2011) Jamie Arpin-Ricci, seorang pendeta dan penulis, menggambarkan bagaimana komunitas Kristen dipanggil untuk menjadi agen rekonsiliasi di dunia yang terpecah.

Buku ini menekankan bahwa komunitas yang sejati dibangun di atas keberanian untuk menerima perbedaan dan bersedia berkorban demi menciptakan harmoni. Arpin-Ricci menulis, “True community thrives not in sameness, but in the richness of diversity, united in the love of Christ.”

Senada dengan Jammie , Owen Hylton, seorang pendeta, dalam bukunya “Crossing the Divide” (2015) mengeksplorasi bagaimana gereja dapat menjadi model keberagaman. Gereja harus melampaui perbedaan budaya dan etnis, dengan fokus pada kasih sebagai dasar dari semua hubungan.

Sedangkan Timothy Keller, pendiri Redeemer Presbyterian Church, dalam bukunya “Generous Justice” (2010) menantang iman Kristen untuk mendorong keadilan sosial. Menurut Keller, membangun jembatan bukan hanya tentang mengatasi konflik, tetapi juga tentang memperjuangkan keadilan dan memperhatikan mereka yang termarjinalkan.

Natal adalah momen refleksi untuk melihat diri kita: apakah kita sudah menjadi jembatan bagi orang lain? Selamat Natal

Leave a comment