Oleh: Sigit Darmawan

I.
Ketika api melahap Los Angeles, asapnya bukan hanya membumbung ke langit, tetapi juga menyeruak ke dalam hati dan pikiran manusia. Tragedi ini lebih dari sekadar bencana alam; ia adalah panggung tempat manusia, alam, dan ilahi berhadapan dalam peristiwa yang penuh makna.
Dalam api yang masih membara, teologi bencana mengajak kita untuk bertanya: Apa yang hendak Dia sampaikan melalui bahasa alam yang terkadang terdengar bising dan menyakitkan?
Kebakaran besar di Los Angeles ini, menurut laporan otoritas setempat, bermula dari musim panas yang panjang dan kering, diperparah oleh angin kencang Santa Ana yang menyebarkan api dengan cepat.
Continue reading