Ketika Api Membakar Kota: Melihat Los Angeles dari Kacamata Teologi Bencana


Oleh: Sigit Darmawan

I.
Ketika api melahap Los Angeles, asapnya bukan hanya membumbung ke langit, tetapi juga menyeruak ke dalam hati dan pikiran manusia. Tragedi ini lebih dari sekadar bencana alam; ia adalah panggung tempat manusia, alam, dan ilahi berhadapan dalam peristiwa yang penuh makna.

Dalam api yang masih membara, teologi bencana mengajak kita untuk bertanya: Apa yang hendak Dia sampaikan melalui bahasa alam yang terkadang terdengar bising dan menyakitkan?

Kebakaran besar di Los Angeles ini, menurut laporan otoritas setempat, bermula dari musim panas yang panjang dan kering, diperparah oleh angin kencang Santa Ana yang menyebarkan api dengan cepat.

Perubahan iklim memperburuk kondisi dasar yang memingkatkan risiko kebakaran. Suhu yang terus meningkat, vegetasi yang kering, ditambah dengan ketidaksiapan pemerintah kota dalam mitigasi risiko adalah campuran berbahaya yang akhirnya memicu kebakaran besar ini.

Kebakaran besar ini telah menyebabkan 16 korban jiwa, 153.000 orang dievakuasi, sementara 166.000 lainnya menerima peringatan evakuasi.

Kebakaran besar ini juga telah menghancurkan lebih dari 12.000 struktur termasuk rumah, lebih dari 20.000 hektar, dan 35.000 rumah dan bisnis mengalami pemadaman listri. Disamping ekses sosial berupa penjarahan dan pencurian (BBC, 9 Januari 2025)

II.
Bencana besar seperti ini tidak hanya memunculkan kehancuran, tetapi juga membuka ruang bagi manusia untuk melakukan refleksi mendalam.

Namun, tidak semua orang melihat bencana dengan cara yang sama. Ada beragam perspektif yang menawarkan gambaran tentang bagaimana tragedi ini dipahami dari sudut pandang yang berbeda.

(Komentar di berbagai media sosial terkait dengan kebakaran besar Los Angeles itu merefleksikan keberagaman sudut pandang tersebut).

Dalam tradisi dan perspektif keagamaan, bencana sering dilihat sebagai ujian iman atau bahkan penghakiman atas dosa manusia. Dalam Kitab Ayub, misalnya, bencana yang menimpa Ayub digunakan untuk menguji kesetiaannya kepada Tuhan.

Namun, ada juga narasi seperti kisah Sodom dan Gomora, di mana bencana adalah manifestasi dari murka ilahi atas ketidakadilan manusia.

Dari sudut pandang ini, kebakaran Los Angeles bisa dimaknai sebagai seruan pertobatan dan introspeksi.

Namun kaum humanis cenderung melihat bencana ini sebagai akibat langsung dari tindakan manusia terhadap alam. Pemanasan global, urbanisasi tanpa batas, dan pengabaian terhadap keberlanjutan lingkungan adalah akar dari tragedi ini.

Dalam perspektif ini, bencana bukan datang dari kehendak Tuhan, tetapi dari ulah manusia sendiri yang gagal menjalankan tanggung jawabnya sebagai pelayan ciptaan.

Sedangkan para ilmuwan, dengan perpektif ilmiahnya, memandang bencana sebagai fenomena alam yang bisa dijelaskan dan diprediksi melalui data dan analisis. Kebakaran Los Angeles, menurut mereka, adalah konsekuensi dari siklus alami yang diperburuk oleh perubahan iklim.

Bencana ini bukan hukuman atau ujian, melainkan peringatan tentang perlunya pendekatan berbasis sains dalam mitigasi risiko.

Dalam pandangan spiritualitas yang lain, alam dilihat sebagai entitas hidup yang memiliki kehendak dan perasaan. Kebakaran ini mungkin dianggap sebagai cara alam mengekspresikan penderitaannya akibat eksploitasi manusia.

Perspektif ini mengajak manusia untuk memperlakukan alam dengan penghormatan yang setara.

III.
Sebuah buku dari C.S. Lewis “The Problem of Pain” mengeksplorasi bagaimana penderitaan, termasuk bencana, dapat menjadi sarana untuk mendekatkan manusia kepada Tuhan. Lewis menekankan bahwa penderitaan sering kali adalah “megafon Tuhan” untuk membangunkan dunia.

Dalam tradisi Alkitab, api sering kali hadir sebagai simbol kehadiran dan penghakiman Tuhan. Dari semak yang menyala di hadapan Musa hingga api yang melahap kota Sodom, api bukan sekadar elemen alam, melainkan medium komunikasi ilahi.

Namun, apakah api Los Angeles ini juga merupakan pesan Tuhan? Atau adakah ini sekadar akibat hukum alam yang berjalan dengan logikanya sendiri?

Teologi bencana tidak menawarkan jawaban hitam-putih, tetapi mengundang kita untuk merenung. Apakah kita lebih fokus “menyalahkan” Tuhan ataukah merenungkan tanggung jawab kita sebagai pelayan ciptaan-Nya?

Dalam tragedi seperti ini, manusia diundang untuk melihat ke arah yang sama: ke arah pengharapan dan tanggung jawab.

Ketika Yerusalem dihancurkan, nabi Yeremia menulis, “Kasih setia Tuhan tak berkesudahan, rahmat-Nya selalu baru setiap pagi” (Ratapan 3:22-23).

Bahkan di tengah abu dan reruntuhan, ada kesempatan untuk memulai kembali—dengan cara yang lebih bijaksana, lebih bertanggung jawab, dan lebih selaras dengan kehendak-Nya.

Api Los Angeles adalah cermin besar yang memperlihatkan wajah peradaban kita. Apakah kita akan terus hidup dalam pola eksploitatif yang mempercepat kehancuran, ataukah kita belajar dari tragedi ini untuk membangun hubungan yang lebih sehat dengan Tuhan, sesama, dan alam?

Api tidak hanya menghancurkan; ia juga memurnikan. Pertanyaannya, maukah kita manusia dimurnikan?

Leave a comment