by: Sigit Darmawan

I.
Squid Game adalah fenomena global. Sejak pertama kali dirilis pada 7 September 2021 di Netflix, serial asal Korea Selatan ini telah menjadi serial Netflix paling populer sampai sekarang.
Film ini telah ditonton 142 juta rumah tangga dalam 4 minggu pertama, dan menghasilkan pendapatan sebesar $900 juta USD. Jauh dari biaya produksinya yang hanya $21 juta USD.
Musim kedua dari serial Squid Game yang ditayangkan 26 Desember 2024 juga menuai kesuksesan yang sama. Dan penggemarnya sedang menantikan serial musim ketiga sebagai serial terakhir di pertengahan tahun 2025
Plotnya sederhana: 456 orang yang terjebak dalam lilitan utang diundang untuk memainkan serangkaian permainan anak-anak. Dengan iming-iming, hadiah sebesar 45,6 miliar won (setara 38 juta dolar).
Tapi ada satu syarat: kalah berarti mati. Jadi sudah pasti ada “kebrutalan” dalam film ini.
Para kritikus film menyebut bahwa film ini sesungguhnya adalah cermin yang menunjukkan wajah buruk masyarakat global kita.
Ini bukan sekadar serial tentang permainan mematikan; ia adalah alegori tentang kapitalisme.
Permainan ini diciptakan oleh segelintir orang kaya –yang disebut VIP — untuk hiburan mereka. Tidak peduli bahwa setiap kompetisi harus ada korban nyawa.
Di mata mereka, peserta hanyalah bidak-bidak yang bisa digerakkan, dilihat, lalu dibuang. Para VIP ini duduk santai, menyaksikan peserta saling membunuh demi uang, sambil menyeruput anggur mahal.
Dehumanisasi –proses menghilangkan martabat manusia serta menjadikan manusia sebagai obyek — ini mengingatkan kita akan film Gladiator (2000) karya Ridley Scott. Film ini menggambarkan era kekaisaran Romawi, ketika gladiator bertarung sampai mati di Colosseum, sementara para bangsawan bersorak di tribun.
Hanya bedanya, Maximus, sang Gladiator di film karya Scott, secara aktif berjuang melawan sistem dan tirani yang menindasnya.
Dalam Squid Game, peserta, yang awalnya hanya korban, perlahan berubah menjadi predator. Dalam berbagai jenis permainan, ketakutan membuat mereka egois –hanya fokus menyelamatkan diri.
Dalam permainan lain, mereka tega mengkhianati teman demi bertahan hidup. Pada akhirnya, mereka lupa: mereka semua manusia. Bukankah ini juga terjadi di dunia nyata?
(Terinspirasi dari popularitas serial asli Squid Game dari Korea, dibuatlah Squid Game The Challenge sebagai serial televisi reality show di tahun 2023 di Inggris.
Squid Game :The Challenge telah menghilangkan aspek “kekerasan” dan fokus kepada hiburan. Dan serial inipun berhasil mengekor kesuksesan serial aslinya di minggu-minggu awal peluncurannya)
II.
Buku “Capital in the Twenty-First Century” karya Thomas Piketty (2013) memberikan gambaran serupa. Dalam buku yang menjadi buku ekonomi paling berpengaruh di dekade ini, Piketty menjelaskan bagaimana kekayaan terkonsentrasi di tangan segelintir orang, menciptakan jurang besar antara kaya dan miskin.
Statistik menunjukkan bahwa 1% populasi terkaya di dunia menguasai lebih dari 50% kekayaan global.
Permainan dalam Squid Game adalah metafora bagi struktur seperti yang digambarkan oleh Piketty: mereka yang berada di atas menonton, sementara yang di bawah bertarung, bukan untuk hidup lebih baik, tetapi untuk bertahan hidup.
Ketimpangan ekstrim ini, menurut Piketty, menjadi akar konflik sosial di berbagai belahan dunia. Ketimpangan itu juga mempengaruhi struktur sosial dan keadilan di masyarakat. Mereka yang menguasai kekayaan dan pengaruh, bisa menentukan siapa yang layak bertahan, dan siapa yang layak mati.
Fenomena Squid Game juga memiliki relevansi yang mendalam jika kita melihat konteks sosial budaya di Indonesia.
Kita masih menghadapi ketimpangan sosial dan ekonomi. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa rasio Gini Indonesia pada 2023 berada di angka 0,38, mengindikasikan ketimpangan yang masih tinggi.
Fenomena pinjaman online (pinjol) adalah bukti nyata bagaimana masyarakat Indonesia, terutama di kalangan bawah, sering kali terjebak dalam utang untuk memenuhi kebutuhan dasar.
Laporan OJK hingga awal 2024, ada 68 juta akun pinjol aktif aktif di Indonesia, dengan banyak pengguna yang kesulitan melunasi hutang. Sama seperti peserta Squid Game, banyak dari mereka merasa tidak punya pilihan lain.
Di sisi lain, budaya kompetisi di Indonesia sering kali diperparah oleh sistem pendidikan dan pekerjaan.
Kita terjebak dalam kompetisi yang tidak sehat. Dari bangku sekolah hingga dunia kerja, tekanan untuk “menang” semakin besar. Masyarakat kita berada dalam sistem meritokrasi semu. Dimana segala keberhasilan dilihat dari “angka-angka baik”- akademik, pekerjaan, kedudukan, penghasilan dan sebagainya.
Bank Dunia (2023) mencatat bahwa tingkat pengangguran di Indonesia mencapai 5.45% dengan jutaan orang hidup dalam ketidakpastian. Ini menciptakan tekanan tambahan dalam mencari pekerjaan. Tekanan ini menciptakan pola pikir survival yang serupa dengan permainan dalam Squid Game.
Dalam Squid Game, peserta sering kali saling mengkhianati demi bertahan hidup. Di Indonesia, kita menghadapi fenomena hilangnya solidaritas sosial seperti terlihat dalam praktik kehidupan sosial kemasyarakatan.
Masyarakat yang rentan ini mudah diadu domba untuk kepentingan pemilik kapital. Bahkan sering di eksploitasi dalam aktivitas politik.
Apakah kita akan terperangkap dalam jurang ketimpangan, kompetisi yang tidak sehat, dan solidaritas yang makin terkikis?
III.
Squid Game meninggalkan sebuah pertanyaan penting: apa arti hidup yang sejati? Apakah hidup adalah kompetisi tanpa akhir? Apakah manusia hanya diukur dari apa yang mereka miliki?
Alkitab mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki martabat ilahi. Kita diciptakan menurut gambar Allah (Kejadian 1:27) dan dipanggil untuk saling mengasihi, bukan saling menjatuhkan.
Yesus Kristus memberi kita teladan yang berbeda. Dia tidak memperebutkan kekuasaan, tetapi justru melayani.
Dia mengajarkan bahwa dalam Kerajaan Allah, yang terbesar adalah yang paling rendah hati, dan yang terakhir akan menjadi yang pertama (Matius 20:16).
Dalam konteks modern, ini berarti melawan struktur sosial yang tidak adil dengan kasih, empati, dan solidaritas. Squid Game mengingatkan kita bahwa dunia ini memang kejam, tetapi kasih Allah memanggil kita untuk menjadi agen perubahan.
Squid Game adalah cermin gelap masyarakat modern. Ia memperlihatkan bagaimana ketimpangan, kompetisi, dan materialisme telah merusak solidaritas kita sebagai manusia.
Namun, sebagai orang Kristen, kita dipanggil untuk menjadi agen perubahan—mengembalikan martabat manusia, menciptakan komunitas yang peduli dan solider.
Kita juga dipanggil untuk mengadvokasi keadilan ekonomi, melawan eksploitasi, menjadi suara profetik ditengah ketidakadilan, membantu beri ruang akses pendidikan dan peluang ekonomi, dan sebagainya.
Rujukan seperti “Capital in the Twenty-First Century” karya Piketty, memberikan konteks intelektual yang relevan dengan pesan yang diangkat dalam Squid Game. Namun, Alkitab memberikan sesuatu yang lebih dari itu: harapan dan jalan keluar.
Jadi, pertanyaannya adalah: apakah kita hanya akan menjadi penonton pasif dalam dunia nyata, ataukah kita akan terlibat untuk mengubah permainan ini?
Hidup bukanlah tentang menang atau kalah; hidup adalah tentang menghargai kemanusiaan dan tentang mengasihi.