Membaca Pikiran Gen Z: Generasi Berisik yang Butuh Didengar


by: Sigit Darmawan

(Catatan Kecil dari Seminar Bisnis oleh Yongky Susilo, Consumer Insight Strategist)

Di tengah hiruk-pikuk perubahan teknologi, sosial, dan budaya, muncul satu generasi yang kerap menjadi bahan perbincangan: Gen Z. Generasi ini lahir di era digital, tumbuh besar dengan ponsel pintar, dan hidup dalam dunia yang selalu terkoneksi.

Generasi ini penuh kontradiksi—mereka bisa terlihat santai di luar, tetapi penuh keresahan di dalam. Jadi, bagaimana kita benar-benar memahami mereka?

Generasi ini dikenal sebagai generasi yang inklusif, ambisius, dan melek teknologi. Namun, ada lima segmen utama yang mencerminkan keberagaman mereka, berdasarkan data 2023:

Pertama, Stressed Strivers (35% dari Gen Z). Segmen gen Z ini memiliki ambisi luar biasa, tapi mereka sering merasa terbebani oleh tekanan untuk memenuhi ekspektasi tinggi, baik dari diri sendiri maupun lingkungan. Mereka sering cemas karena standar kesuksesan yang mereka tetapkan. Mereka perlu dukungan untuk keseimbangan antara tekanan akademik/profesional dan kesehatan mental.

Kedua, Authentic Activists. (22% dari Gen Z). Kelompok ini sangat peduli isu sosial, lingkungan, dan keadilan. Mereka memiliki suara yang kuat dan aktif dalam memperjuangkan perubahan. Mereka perlu dukungan dan platform untuk menyuarakan pendapat mereka.

Ketiga, Big Dreamers (18% dari Gen Z). Mereka adalah pemimpi besar yang optimis terhadap masa depan. Namun, mereka seringkali belum memiliki strategi konkrit untuk mewujudkan impian tersebut. Mereka perlu bimbingan dan mentor.

Keempat, Secluded Perfectionists(20% dari Gen Z).
Mereka sangat berorientasi detail dan sangat perfeksionis hingga sering merasa terisolasi dari lingkungan. Mereka membutuhkan komunitas dan koneksi sosial.

Kelima, Carefree Constituents (5% dari Gen Z).
Mereka adalah kelompok yang santai, menikmati hidup tanpa banyak tekanan. Mereka cenderung menjalani hari demi hari tanpa terlalu khawatir soal masa depan. Segmen ini membutuhkan kekuatan motivasi untuk tujuan masa depan, dan kesiapan menghadapi risiko perubahan.

*

Kebutuhan Gen Z: Yang Mereka Mau, Tapi Jarang Diucapkan

Di balik layar ponsel dan unggahan media sosial, Gen Z sebenarnya memiliki kebutuhan mendasar yang, jika dipahami, bisa menjadi kunci untuk mendekati mereka.

Gen Z ini memerluian koneksi yang bermakna. Mereka tidak hanya ingin didengar, tetapi juga ingin merasa dipahami. Sebuah interaksi yang autentik lebih berharga bagi mereka daripada sekadar formalitas.

Tekanan akademik, sosial, hingga tuntutan karier membuat kesehatan mental menjadi prioritas. Mereka membutuhkan akses mudah ke layanan kesehatan mental tanpa stigma. Banyak anak muda Gen Z ingin akses tersebut, tetapi orang tua justru sering ‘menghambat’.

Gen Z juga tidak ingin dikekang oleh jadwal kaku. Dalam pekerjaan maupun pendidikan, fleksibilitas adalah nilai yang mereka junjung tinggi.

Mereka ingin memiliki panggung, baik untuk mengekspresikan ide maupun menyuarakan kepedulian sosial. Mereka membutuhkan platform untuk berpendapat.

*

Hidup di dunia yang terus berubah bukan perkara mudah. Gen Z menghadapi tantangan unik yang tidak dialami generasi sebelumnya:

Merekan menghadapi overload informasi. Hidup dalam era digital membuat mereka tenggelam dalam arus informasi yang tak terbatas. Kadang, sulit membedakan mana informasi yang benar dan mana yang menyesatkan.

Mereka juga mengalami krisis identitas digital. Di media sosial, mereka harus menghadapi standar kesempurnaan yang tidak realistis. Ini sering kali membuat mereka merasa tidak cukup baik.

Generasi menghadapi beragam ketidakpastian masa depan. Perubahan lingkungan, sosial-ekonomi, dan perkembangan teknologi yang cepat menciptakan rasa tidak aman terhadap masa depan mereka.

Memahami Gen Z berarti memahami cara mereka berinteraksi dengan dunia. Mereka perlu ruang terbuka untuk menyampaikan ideasi dan ekspresi. Mereka juga perlu pemimpin/ pembimbing yang terbuka. Ini akan membantu jangkauan ke Gen Z lebih efektif.

Mereka mendambakan autentisitas dan tidak teoritis. Mereka menghargai yang jujur, transparan, dan relevan. Mereka lebih melihat role model dibandingkan teori.

Mereka lebih tertarik pada isu-isu yang mereka pedulikan. Melayani mereka berarti memahami isu-isu yang menjadi ketertarikan mereka.

Pada akhirnya, Gen Z adalah generasi yang berisik, tapi di balik kebisingan itu ada pesan penting yang perlu didengar.

Jika kita bisa memahami kebutuhan, tantangan, dan cara mereka memandang dunia, kita tidak hanya akan relevan di mata mereka, tetapi juga bisa bersama-sama menciptakan masa depan yang lebih baik.

Leave a comment