oleh: Sigit Darmawan

I.
Di dalam keluarga, kita selalu berpikir bahwa kasih sayang adalah lem yang bisa merekatkan segalanya. Tapi bagaimana jika yang dihadapi adalah sesuatu yang tak terlihat? Sesuatu yang bahkan dirinya sendiri tak bisa lawan?
oleh: Sigit Darmawan

I.
Di dalam keluarga, kita selalu berpikir bahwa kasih sayang adalah lem yang bisa merekatkan segalanya. Tapi bagaimana jika yang dihadapi adalah sesuatu yang tak terlihat? Sesuatu yang bahkan dirinya sendiri tak bisa lawan?
oleh: Sigit Darmawan

I.
Ketika badai kehidupan menghantam, ke mana kita berpaling? Ketika orang yang kita kasihi berjuang dengan kesehatan mentalnya—terjebak dalam kecemasan, depresi, atau bahkan gangguan yang lebih berat—apa yang bisa kita lakukan?
oleh: Sigit Darmawan

Jika kita berpikir bahwa pemimpin rohani tidak mungkin mengalami depresi atau kelelahan, maka kisah Nabi Elia adalah bukti sebaliknya. Elia, nabi besar yang baru saja mengalami kemenangan di Gunung Karmel, jatuh dalam depresi mendalam. Setelah mengalahkan nabi-nabi Baal melalui demonstrasi kuasa Tuhan, Elia dikejar oleh ancaman Ratu Izebel.
Continue readingOleh: Sigit Darmawan

“Tidak semua orang ditakdirkan untuk menjadi pemimpin, tetapi setiap orang dipanggil untuk menjadi pengikut yang baik.”
Kata “followership” sering kali tidak sepopuler “leadership.” Ketika kita berbicara tentang kepemimpinan, ada ribuan buku, seminar, dan pelatihan yang menjelaskan cara memimpin.
Continue readingOleh: Sigit Darmawan

Barbara Kellerman, dosen senior Harvard Kennedy School, dalam bukunya Followership: How Followers Are Creating Change and Changing Leaders (2008), mengatakan bahwa pengikut bukanlah sekadar penerima arahan, melainkan bagian integral dari dinamika kepemimpinan.
Continue reading