Followership: Seni Mengikuti dalam Kepatuhan (2)


Oleh: Sigit Darmawan

Barbara Kellerman, dosen senior Harvard Kennedy School, dalam bukunya Followership: How Followers Are Creating Change and Changing Leaders (2008), mengatakan bahwa pengikut bukanlah sekadar penerima arahan, melainkan bagian integral dari dinamika kepemimpinan.

Menurut Kellerman, ada lima jenis pengikut berdasarkan tingkat keterlibatan mereka:

Pertama, Isolates. Ini adalah pengikut yang tidak terlibat sama sekali dan cenderung pasif. Mereka hanya mengikuti arus, dan minim dalam kontribusi.

Kedua, Bystanders. Kelompok pengikut ini sadar akan apa yang terjadi, hadir secara fisik, tetapi memilih untuk tidak bertindak. Sikapnya netral dan sering kali menghindari konflik. Dalam jumlah kecil, kelompok ini bisa diterima ketika kehati-hatian diperlukan dalam mengambil keputusan.

Ketiga, Participants. Pengikut yang terlibat secara aktif tetapi hanya pada isu-isu tertentu: dapat mendukung atau menentang dengan cara yang jelas, tergantung keyakinan mereka.

Mereka sangat diperlukan karena mereka inilah yang sesungguhnya menjadi agen perubahan, inovasi, pengambilan keputusan berbasis data.

Keempat, Activists. Pengikut ini sangat terlibat, baik mendukung maupun menentang pemimpin. Mereka berkontribusi dengan energi dan dedikasi tinggi, tetapi perlu diarahkan agar produktif.

Kelima, Diehards. Pengikut ini terlibat secara penuh dan sangat setia kepada pemimpin atau tujuan, bahkan siap mengorbankan segalanya.

Kelompok ini dibutuhkan dalam jumlah kecil. Terutama dalam situasi krisis yang memerlukan komitmen total.

Barbara Kellerman lebih lanjut menjelaskan bahwa kualitas kepemimpinan juga ditentukan oleh kualitas followership.

Pengikut yang terlibat aktif memberikan dinamika positif dalam kepemimpinan dan mendukung tercapainya tujuan bersama.

***

Mengapa Followership penting? Dalam berbagai diskusi di beragam organisasi, saya mengamati banyak orang terjebak dalam paradigma bahwa hanya pemimpin yang penting.

Namun, tanpa pengikut yang baik, tidak akan ada kepemimpinan yang efektif. Disinilah Followership penting karena pengikut yang baik menciptakan harmoni dan keselarasan dalam organisasi, serta membantu mewujudkan visi pemimpin.

Followership mengajarkan kita untuk melepaskan ego demi tujuan yang lebih besar. EGO adalah tantangan terbesar dalam followership. Banyak orang, termasuk saya, sering gagal menjalaninya.

Pengikut yang bijak adalah calon pemimpin yang baik di masa depan. Calon pemimpin yang akan mampu memahami peran dari kedua sisi.

Barbara Kellerman menambahkan bahwa pengikut yang efektif memiliki kesadaran akan peran dan tanggung jawabnya, baik terhadap pemimpin maupun tujuan yang ingin dicapai.

Ini melibatkan keberanian untuk mendukung pemimpin yang benar dan menentang pemimpin yang salah.

Followership dibutuhkan sepanjang waktu, tetapi menjadi penting dalam situasi krisis. Ketika arahan yang jelas diperlukan, pengikut harus bersatu dan mendukung pemimpin dengan sepenuh hati.

Ketika organisasi berada di fase pertumbuhan, followership juga diperlukan: menjadi pengikut yang baik untuk menyerap ilmu dan pengalaman.

***

Followership bukan tanda kelemahan, melainkan kekuatan. Dalam konteks organisasi, pengikut yang proaktif, setia, dan bijak dapat membawa dampak besar.

Dalam konteks spiritual, mengikuti Tuhan dan pemimpin yang diutus-Nya adalah panggilan yang mulia.

Di balik perjalanan pemimpin yang baik, ada perjalanan panjang sebagai pengikut yang setia.

Ketika kita memahami esensi followership, kita belajar untuk melayani, mendengarkan, dan tumbuh.

Seperti Yesus yang mengajarkan kita untuk menjadi pengikut sebelum memimpin, kita perlu merenungkan kembali panggilan kita.

Followership bukan hanya soal mengikuti. Tetapi soal menjadi pribadi yang membangun dan mendukung setiap tujuan mulia di tempat yang Tuhan percayakan kepada kita.

Leave a comment