Di Balik Mimbar: Pergumulan Tak Terlihat Para Pemimpin Gereja (3)


oleh: Sigit Darmawan

Jika kita berpikir bahwa pemimpin rohani tidak mungkin mengalami depresi atau kelelahan, maka kisah Nabi Elia adalah bukti sebaliknya. Elia, nabi besar yang baru saja mengalami kemenangan di Gunung Karmel, jatuh dalam depresi mendalam. Setelah mengalahkan nabi-nabi Baal melalui demonstrasi kuasa Tuhan, Elia dikejar oleh ancaman Ratu Izebel.

Ia pun melarikan diri ke padang gurun, penuh ketakutan dan kelelahan. Dalam kondisinya yang hancur, Elia bahkan memohon kepada Tuhan agar hidupnya diakhiri (I Raja-raja 19). “Cukuplah itu, ya Tuhan. Ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari nenek moyangku.” (1 Raja-raja 19:4).

Tuhan tidak membiarkan Elia sendirian. Ia mengirim malaikat untuk memberinya makanan, minuman, dan istirahat. Tuhan juga berbicara kepada Elia memulihkannya dalam ketenangan dan kepedulian.

Pelajaran dari kisah ini adalah: bahwa pemimpin paling kuat pun bisa merasa lelah dan ingin menyerah. Tapi Tuhan tetap menyediakan pemulihan bagi mereka. Dan pemulihan itu bisa dalam berbagai cara yang manusiawi.

***

Jika krisis kesehatan mental pendeta terus dibiarkan, dampaknya bisa sangat merugikan. Baik bagi gereja dan bagi jemaat.Pendeta yang kelelahan secara emosional tidak bisa menjalankan pelayanan dengan optimal. Termasuk memberikan bimbingan bagi jemaatnya.

Jika terjadi peningkatan jumlah pendeta yang meninggalkan pelayanan, maka gereja bisa kehilangan pemimpin berkualitas dalam jumlah besar. Dan ini berdampak negatif sangat besar bagi jemaat. Jemaat yang melihat pendeta mereka lelah, stres, atau bahkan meninggalkan gereja bisa kehilangan kepercayaan pada kepemimpinan gereja.

Singkatnya, kesehatan mental pemimpin gereja bukan hanya masalah mereka sendiri, tetapi juga masalah bagi seluruh gereja.

*

Apa solusi untuk membantu pergumulan para pemimpin gereja kita? Dari beberapa penelitian diatas, hal-hal berikut bisa menjadi bahan pertimbangan.

Pertama: Gereja Perlu Mengubah Budaya dan Mendukung Pemimpin. Gereja perlu mengubah budaya pelayanan para pemimpin gerejanya dari “harus selalu ada dan tersedia” menjadi “sehat secara emosional dan spiritual”. Karena itu gereja harus memprioritaskan kesehatan mental para pendeta.

Termasuk diantaranya: menyediakan anggaran untuk konseling, mentorship bagi pemimpin gereja mereka. Cuti sabatikal dan istirahat yang cukup bagi pendeta adalah mutlak penting.

Kedua: Membangun Komunitas Kolega Pemimpin Gereja yang Saling Mendukung. Sesama pemimpin gereja perlu membangun komunitas pendeta yang bisa saling berbagi beban tanpa takut dihakimi. Bukan untuk saling bersaing, tetapi saling meneguhkan. Gereja perlu memfasilitasi terbentuknya komunitas ini.

Pendeta senior bisa menjadi mentor bagi pemimpin muda, membimbing mereka menghadapi tekanan pelayanan.

Ketiga: Memfasilitasi Konseling Profesional bagi Pendeta. Gereja perlu menyediakan akses ke konselor atau psikolog profesional. Dan normalisasi perawatan kesehatan mental di kalangan pemimpin gereja perlu dilakukan dengan serius.

Keempat: Jemaat Harus Menjadi Mitra, dan Bukan Penuntut. Jemaat harus memahami bahwa pemimpin gereja adalah manusia biasa. Jangan hanya menuntut, tetapi juga berikan dukungan emosional dan spiritual. Jadilah mitra pendeta dalam melayani.

Mendoakan para pemimpin gereja kita adalah langkah pertama yang bisa kita lakukan: untuk kesehatan mental, hikmat, dan kekuatan mereka.

Penutup

Kesehatan mental pendeta adalah urusan kita semua! Laporan dari Barna Group adalah peringatan keras bahwa kesehatan mental para pemimpin gereja tidak bisa lagi diabaikan. Apa yang terjadi di Amerika Serikat, sangat mungkin (bahkan sudah?) terjadi di Indonesia.

Jika gereja dan jemaat kita tidak segera bertindak, dampaknya bisa sangat merugikan—baik bagi pemimpin gereja itu sendiri maupun bagi jemaat yang mereka layani.

Krisis kesehatan mental pemimpin gereja bukan hanya masalah individu; ini adalah tanggung jawab bersama. Jika gereja, kolega pemimpin, dan jemaat bersatu untuk mendukung mereka, maka kita akan melihat gereja yang lebih kuat dan sehat.

Karena di balik setiap pemimpin yang dipulihkan, ada jemaat yang diberdayakan. Dan di balik setiap jiwa yang lelah, selalu ada harapan untuk disembuhkan.

Leave a comment