oleh: Sigit Darmawan

Dalam risetnya di tahun 2023, Barna Group mengidentifikasi beberapa faktor yang berkontribusi pada krisis meningkatnya kesepian dan tekanan mental di kalangan pendeta. Diantaranya:
Pertama: Ekspektasi Berlebihan dari Jemaat.
Pendeta diharapkan menjadi guru, pemimpin, konselor, mediator konflik, administrator, dan motivator—semuanya dalam satu paket.
Mereka tidak hanya harus berkhotbah dengan baik, tetapi juga harus memimpin organisasi gereja, mengatur keuangan, serta menjadi penggerak komunitas sosial.
Kedua: Isolasi dalam Pelayanan.
Kurangnya tempat curhat membuat banyak pendeta merasa tidak punya ruang aman untuk berbagi pergumulan mereka.
Mereka khawatir bahwa jika mereka terbuka tentang kesulitan mereka, jemaat akan kehilangan kepercayaan kepada mereka.
Pendeta yang tidak mendapatkan dukungan atas pergumulan mereka, lebih rentan mengalami burn out dan depresi.
Ketiga: Tekanan dari Perubahan Sosial dan Digital.
Gereja saat ini harus beradaptasi dengan perubahan: digitalisasi, media sosial, dan perbedaan generasi. Kompleksitas dan kesulitan pelayanan juga meningkat dalam 5 tahun terakhir.
Dan kritik yang muncul di media sosial atau ruang publik sering kali meningkatkan tekanan mental dan kecemasan bagi pendeta, yang merasa terus-menerus diawasi dan dihakimi.
Keempat: Budaya Pelayanan yang Mengabaikan Kesehatan Mental.
Banyak gereja masih memegang budaya “Culture Burnout for Jesus“, di mana istirahat dianggap sebagai kelemahan dan pelayanan harus dilakukan tanpa batas waktu.
Pendeta yang mencoba mengambil waktu istirahat sering kali merasa bersalah atau dianggap kurang berdedikasi.
***
Bagaimana dengan Indonesia? Meskipun belum ada riset sscara khusus terkait kondisi mental pemimpin gereja di Indonesia, namun apa yang terjadi di Amerika Serikat bisa terjadi di negara kita.
Pemimpin gereja di Indonesia juga menghadapi tekanan dan tantangan yang unik dan kompleks. Dan ini berpotensi berpengaruh kepada kesehatan mental pemimpin gereja.
Namun sebuah penelitian tahun 2022 memberikan gambaran awal akan situasi pemimpin gereja di Indonesia. Penelitian berjudul “Pendampingan Pastoral Bagi Pasutri Pendeta: Menelusuri Kerapuhan Pasutri Pendeta dan Implikasi Pedagogis” ditulis oleh Welhelmina Manuputty dari Sekolah Tinggi Filsafat Theologi Jakarta.
Artikel penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership, Volume 3, Nomor 2, pada Desember 2022.
Penelitian ini menyorot tentang temuan dimana pasutri pendeta sering menghadapi ekspektasi tinggi dari jemaat dan masyarakat, yang menuntut mereka untuk menjadi teladan dalam berbagai aspek kehidupan.
Penelitian tersebut juga menyorot temuan tentang “kerapuhan” yang dialami oleh pasutri pendeta dalam menghadapi berbagai konflik, baik dalam pelayanan maupun kehidupan rumah tangga.
Benturan dan konflik ini seringkali menempatkan mereka dalam tekanan psikologis yang besar. Dan hal itu berdampak pada kesehatan mental dan emosional pasangan serta anak-anak mereka.
Penelitian itu juga menemukan kurangnya dukungan pastoral bagi pasutri pendeta. Banyak pasutri pendeta enggan mencari bantuan atau pendampingan pastoral karena ketakutan terhadap stigma, takut dihakimi atau dianggap tidak mampu menjalankan peran mereka.
Dan gereja sering kali tidak memiliki mekanisme pendampingan yang berkelanjutan untuk mendukung kesehatan mental dan emosional pasutri pendeta.
Penelitian ini menekankan bahwa pasutri pendeta tetaplah manusia yang memiliki kerapuhan dan membutuhkan dukungan. Gereja perlu menyediakan pendampingan pastoral yang komprehensif dan berkelanjutan untuk mendukung pasutri pendeta bisa menjalani pelayanan dengan lebih sehat secara emosional dan spiritual.
Gereja juga perlu memahami bahwa pasutri pendeta juga membutuhkan komunitas yang supportif, dan membantunya dalam keseimbangan pelayanan dan keluarga.
Studi ini juga mengingatkan bahwa gereja yang sehat dimulai dari pemimpin yang sehat. Jika pasutri pendeta tidak mendapatkan dukungan yang mereka butuhkan, dampaknya tidak hanya pada keluarga mereka, tetapi juga pelayanan dan jemaat yang mereka layani.
Di sisi lain, pemimpin gereja di Indonesia juga menghadapi kompleksitas pelayanan multikultur. Jemaat dengan latar belakang budaya dan teologi yang beragam sering kali menuntut pendekatan pastoral yang berbeda-beda.
Tantangan lainnya adalah ekonomi gereja lokal. Banyak gereja menghadapi kendala finansial, yang memaksa pemimpin untuk berpikir dan bekerja lebih keras dengan sumber daya terbatas.
Lalu apa yang solusi untuk membantu pergumulan para pemimpin gereja kita?