Di Balik Mimbar: Pergumulan Tak Terlihat Para Pemimpin Gereja (1)


oleh: Sigit Darmawan

Ketika seorang pendeta berdiri di mimbar, banyak yang melihatnya sebagai sosok penuh wibawa, pemimpin spiritual yang siap memberikan jawaban atas pergumulan hidup jemaat. Tapi pernahkah kita bertanya, bagaimana keadaan mereka?

Di balik setiap khotbah, doa, dan pelayanan yang dilakukannya, ada jiwa yang sering kali terluka, lelah, dan kesepian.

Data riset dari Barna Group tahun 2023 menyingkap realitas ini: pemimpin gereja di Amerika Serikat tengah menghadapi krisis kesehatan mental.

Barna Group adalah lembaga penelitian independen yang berbasis di Amerika Serikat, didirikan pada tahun 1984 oleh George Barna. Lembaga ini dikenal luas karena studinya yang mendalam tentang tren spiritual, gereja, budaya kristen, dan kepemimpinan.

Barna Group berfokus kepada penelitian berbasis data untuk memahami perilaku, kepercayaan, dan nilai-nilai orang Kristen, serta bagaimana gereja dapat merespons perubahan jaman.

Penelitian mereka banyak digunakan oleh pemimpin gereja, organisasi keagamaan dan institusi akademik sebagai referensi dalam pengambilan keputusan strategis dan pengembangan pelayanan gereja.

***

Laporan hasil riset dari Barna Group, “7-Year Trends: Pastors Feel More Loneliness & Less Support” (2022) dan “The State of Pastors” (2023), mengungkap tren mengkuatirkan dalam kesehatan mental dan emosional pemimpin gereja di Amerika.

Dalam kurun waktu tujuh tahun terakhir, pendeta menghadapi lonjakan kesepian, menurunnya dukungan dari komunitas, serta meningkatnya tekanan pelayanan yang berdampak pada kesehatan mental mereka (Barna, 2022).

Kedua laporan ini menunjukkan bahwa pemimpin gereja berada di titik krisis yang serius, dan jika tidak ada tindakan konkret, dampaknya bisa merugikan baik bagi mereka sendiri maupun bagi jemaat yang mereka layani.

Beberapa tren yang mengkuatirkan tersebut, diantaranya:

Pertama: Pendeta Semakin Kesepian dan Merasa Kurang Didukung.

Terjadi lonjakan kesepian yang dirasakan para pemimpin gereja dalam 7 tahun terakhir dari 2015 sampai 2022 (Barna, 2022).

Pada 2015, 42% pendeta melaporkan merasa kesepian dan terisolasi. Di 2022, angka ini melonjak menjadi 65%, dengan 18% pendeta mengaku sering merasa kesepian dengan intensitas tinggi.

Selain itu pendeta merasakan turunnya dukungan dari baik dari jemaat, maupun rekan sejawat. Tahun 2022, hanya 49% pendeta yang merasa mendapatkan dukungan spiritual dan emosional. Turun dibandingkan data 70% pada 2015.

Sementara itu, dukungan dari mentor atau komunitas bagi pendeta juga menurun—hanya 22% pendeta yang mendapatkan mentoring secara rutin, dibandingkan 37% pada 2015.

Selain itu, 65% pemimpin gereja tidak pernah memanfaatkan layanan bantuan profesional seperti konselor atau terapis. Ini menandakan rendahnya kesadaran akan pentingnya kesehatan mental di kalangan pemimpin gereja (Barna, 2023).

Data-data diatas menunjukkan bahwa banyak pendeta yang merasa kesepian, terisolasi, kekurangan dukungan, kurang mendapatkan bantuan, serta menghadapi tekanan yang tinggi dalam pelayanan dan kepemimpinan mereka.

Kedua: Meningkatnya Burnout dan Tekanan Mental dalam Pelayanan

Di tahun 2022, sebanyak 40% pendeta mengalami risiko tinggi burnout, naik 400% dari 11% pada 2015.

Dalam hal panggilan melayani, 35% pendeta yang merasa yakin dengan panggilannya pada 2022, turun dari 66% pada 2015.

Dari data ini, terlihat bahwa semakin banyak pemimpin gereja yang merasa terasing dalam panggilannya. Mereka menjalani pelayanan dengan beban berat tanpa ada tempat berbagi atau dukungan yang memadai.

Ketiga: Keinginan untuk Berhenti dari Pelayanan

Hal kritikal lainnya sebagai dampak dari burn-out, hasil riset di 2022 menunjukkan 42% pendeta serius mempertimbangkan untuk meninggalkan pelayanan penuh waktu. Data ini meningkat dari 11% pada 2017.

Sementara itu pendeta muda (di bawah usia 45 tahun) lebih rentan ingin meninggalkan pelayanan. Mereka merasa semakin sulit mempertahankan keseimbangan hidup dan tekanan pelayanan yang berat (Barna, 2023).

Hal yang paling serius adalah meningkatnya pemikiran untuk bunuh diri dari para pemimpin gereja. 18% pendeta di Amerika mengaku pernah mempertimbangkan untuk bunuh diri atau melukai diri sendiri dalam satu tahun terakhir (Barna, 2022).

Tren ini menunjukkan krisis mental yang nyata di kalangan pemimpin gereja. Tekanan pelayanan yang tidak terkendali membuat mereka semakin rentan terhadap kelelahan ekstrem dan depresi.

Data diatas bukan sekedar angka. Ini adalah jeritan hati para pemimpin yang merasa kelelahan, kesepian, dan kehilangan arah.

Leave a comment