Good Side of Bad: Cahaya di Tengah Gelap (2)


oleh: Sigit Darmawan

I.
Ketika badai kehidupan menghantam, ke mana kita berpaling? Ketika orang yang kita kasihi berjuang dengan kesehatan mentalnya—terjebak dalam kecemasan, depresi, atau bahkan gangguan yang lebih berat—apa yang bisa kita lakukan?

Dalam Good Side of Bad, Florence dan saudara-saudaranya menghadapi kenyataan bahwa skizofrenia tidak memiliki solusi instan. Ini bukan sekadar masalah “harus lebih kuat” atau “harus lebih beriman.” Ini adalah perjuangan jangka panjang. Sebagai orang percaya, kita sering bergumul dengan pertanyaan: “Mengapa Tuhan mengizinkan penderitaan ini?”

Namun, di dalam iman Kristen, kita menemukan jawaban bukan dalam kepastian hidup tanpa masalah, tetapi dalam kekuatan untuk tetap bertahan dan berpengharapan.

Bagaimana prinsip-prinsip iman kita bisa membantu keluarga-keluarga yang menghadapi kesulitan akibat gangguan kesehatan mental?

Ketika memfasilitasi connecting support group bagi keluarga-keluarga kristen yang terdampak, saya melihat beberapa pergumulan dan pengalaman konkrit dari keluarga-keluarga ini:

Pertama, Mengasihi Tanpa Syarat. “Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri” (Markus 12:31)

Cinta tanpa syarat adalah inti dari iman Kristen. Yesus sendiri menunjukkan kasih yang tidak terbatas kepada mereka yang dianggap “berbeda” oleh masyarakat—mereka yang sakit, terluka, dan bahkan yang dianggap “tidak sehat.”

Bagi keluarga yang memiliki anggota dengan gangguan kesehatan mental, kasih tanpa syarat berarti menerima tanpa menghakimi: tidak menuntut mereka untuk segera “normal” atau “pulih.” Sebaliknya, kita hadir, mendampingi, dan mengasihi mereka dalam setiap prosesnya.

Kasih ini tidak selalu mudah. Ada hari-hari yang melelahkan, ada frustrasi, ada keputusasaan. Tapi ketika kita mengingat bahwa Tuhan memanggil kita untuk mengasihi, kita menemukan kekuatan untuk tetap ada, meski dalam kondisi yang sulit.

Kedua, Kekuatan dalam Doa “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu” (1 Petrus 5:7)

Menghadapi gangguan kesehatan mental dalam keluarga bisa terasa seperti berjalan di dalam kegelapan tanpa petunjuk. Doa bukanlah alat ajaib yang langsung menghilangkan masalah. Namun, doa memberikan ketenangan, kekuatan, dan pengharapan. Ketika kita berdoa, kita menyerahkan beban yang terlalu berat untuk kita pikul sendiri kepada Tuhan.

Banyak keluarga Kristen yang menghadapi tantangan ini menemukan bahwa doa harian—baik secara pribadi maupun bersama sebagai keluarga—membantu mereka tetap kuat. Tidak selalu ada jawaban instan, tetapi selalu ada damai yang melampaui pengertian manusia.

Ketiga, Komunitas dan Persekutuan “Saling menguatkan dan membangun satu sama lain” (1 Tesalonika 5:11)

Salah satu bahaya terbesar dalam menghadapi gangguan kesehatan mental adalah isolasi. Banyak keluarga merasa malu, takut dihakimi, atau berpikir bahwa mereka harus menyelesaikan semuanya sendiri.

Namun, Alkitab mengajarkan bahwa kita diciptakan untuk hidup dalam komunitas. Gereja, persekutuan, dan kelompok kecil bisa menjadi tempat di mana kita mendapatkan dukungan, baik secara emosional maupun spiritual.

Ada beberapa gerakan akar rumput yang punya program edukasi konseling Kristen yang membantu keluarga menghadapi tantangan ini. Ada kelompok pendukung penghubung keluarga (family connecting support group) yang bisa menjadi tempat berbagi beban. Ada saudara seiman yang bisa menjadi pendengar tanpa menghakimi.

Keempat, Pengharapan dalam Kristus

“Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau” (Ibrani 13:5)

Salah satu tantangan terbesar bagi keluarga yang menghadapi gangguan kesehatan mental adalah rasa putus asa. Ada hari-hari ketika segalanya terasa terlalu berat, ketika tidak ada perubahan yang berarti, ketika semua usaha tampak sia-sia.

Kita mungkin tidak selalu melihat pemulihan seperti yang kita harapkan. Tetapi kita percaya bahwa Tuhan selalu bekerja, bahkan di tengah kekacauan. Seperti kata Roma 8:28, “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia.”

Kelima, Mengubah Perspektif tentang Kesembuhan.

Dalam dunia medis, gangguan kesehatan mental sering kali dianggap sebagai kondisi yang bisa dikelola, tetapi tidak selalu bisa “sembuh” dalam arti sepenuhnya kembali seperti dulu. Pemulihan diartikan sebagai menemukan makna dan tujuan hidup baru.

Namun, dalam iman Kristen, kita belajar bahwa kesembuhan tidak selalu berarti “kembali seperti semula.” Kadang-kadang, kesembuhan sejati adalah menerima keadaan dan menemukan cara untuk hidup dengan damai di dalamnya.

Yesus tidak selalu menghilangkan penderitaan orang-orang yang datang kepada-Nya. Tapi Dia selalu memberikan mereka harapan, makna, dan tujuan baru.

Bagi keluarga yang menghadapi gangguan kesehatan mental, ini berarti belajar melihat kesembuhan sebagai perjalanan, bukan tujuan akhir. Ini berarti memahami bahwa seseorang dengan gangguan mental tetap bisa hidup dengan penuh makna dan produktif. Bahwa mereka tetap memiliki tempat dalam rencana Tuhan.

II.
Iman, Harapan, dan Kasih: Kunci untuk Bertahan.

Apa yang membuat keluarga mampu melewati badai gangguan kesehatan mental bukanlah karena mereka lebih kuat, lebih pintar, atau lebih kaya.

Yang membuat mereka bertahan adalah iman yang terus menerus dijaga, kasih yang tidak bersyarat, dan harapan yang tidak padam.

Seperti yang ditunjukkan Good Side of Bad, tidak ada keluarga yang sempurna. Tidak ada jawaban instan. Tapi ada keberanian untuk tetap bertahan. Ada cinta yang tetap ada, meskipun dalam kondisi yang sulit.

Dan bagi kita yang beriman, kita tahu bahwa kita tidak pernah sendirian. Di tengah kegelapan, selalu ada cahaya.

“Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.” (Mazmur 34:19)

Jika keluarga kita sedang menghadapi tantangan ini, jangan menyerah. Carilah dukungan, tetap berdoa, dan percayalah bahwa Tuhan masih bekerja, bahkan ketika kita tidak bisa melihatnya.

Karena pada akhirnya, bukan tentang selalu mengerti. Kadang, cukup untuk tetap percaya.

Leave a comment