Oleh: Sigit Darmawan

I.
China dikenal sebagai pusat manufaktur global (factory of the world), tempat jutaan pekerja memenuhi pabrik-pabrik raksasa, merakit produk dengan kecepatan luar biasa. Tapi itu sekarang berubah. Upah naik, tenaga kerja menyusut, persaingan semakin ketat. China memilih jalan paling radikal: menghilangkan manusia dari pabrik.
Lahirlah Dark Factory—pabrik tanpa cahaya yang tidak membutuhkan pekerja manusia. Ini adalah pabrik yang benar-benar dijalankan dengan sistim automasi penuh. Tidak ada jam kerja, tidak ada lembur, tidak ada keluhan, dan tidak perlu cahaya. Robot bekerja tanpa henti, 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Bagi banyak orang, ini seperti film fiksi ilmiah. Tapi ini sudah menjadi kenyataan.
Mengapa China membangun Dark Factory? Ada tiga alasan utama mengapa China mengambil langkah ekstrem ini.
Pertama, kenaikan upah dan kekurangan tenaga kerja. China bukan lagi negara dengan tenaga kerja murah. Upah buruh naik pesat, sementara populasi usia kerja mulai menyusut. Kenaikan upah di China rata-rata 5-10% pertahun (China Labour Bulletin, 2023). Pabrik kesulitan mencari tenaga terampil.
Menurut CIIC Consulting (2022) lebih dari 80% industri China kekurangan tenaga kerja sebesar 10-30% dari total tenaga kerja mereka. Kementerian Pendidikan China memperkirakan kekurangan 30 juta pekerja manufaktur di tahun 2025 (Antara, 2022). Jika ingin tetap kompetitif, solusinya hanya satu: robot.
Kedua, persaingan global yang makin ketat. Dunia tidak lagi hanya bergantung pada China. Vietnam, India, dan Meksiko menawarkan tenaga kerja lebih murah.
Fenomena The looming of Great Reallocation , perpindahan pabrik-pabrik keluar dari China, mendorong tumbuhnya pusat-pusat rantai pasok yang baru. Jika China ingin tetap jadi pemain utama, mereka harus bermain di level yang lebih tinggi: efisiensi maksimal, biaya minimal.
Ketiga, dorongan dari pemerintah. Lewat inisiatif “Made in China 2025“, pemerintah mendorong industri beralih ke otomasi dan kecerdasan buatan. Subsidi besar-besaran diberikan untuk investasi di robot dan AI. Nilai subsidi untuk industri robotika dan AI China diperkirakan mencapai 2-3 miliar USD per tahun, atau 0.1-0.2% dari PDB (International Federation of Robotics, 2023)
Dan China telah membuat langkah strategis. Mereka sadar bahwa masa depan manufaktur tidak ditentukan oleh siapa yang punya tenaga kerja terbanyak, tapi siapa yang bisa memproduksi lebih cepat, lebih presisi, dan lebih murah.
Pabrik-pabrik tanpa manusia ini sudah beroperasi di China. Salah satunya Xiaomi Smart Factory di Beijing. Pabrik ini bisa memproduksi satu Smartphone setiap detik tanpa sentuhan manusia. Semua dikerjakan oleh AI, robot, dan sistem otomatisasi penuh. Ini bukan sekadar efisiensi, tapi lompatan teknologi. (Metrology News, 2024)
Contoh lain adalah pabrik Geely Auto di Xi’an. Ini salah satu produsen mobil terbesar di China. Di pabrik Geely, mobil dibuat tanpa intervensi manusia. Setiap komponen dirakit oleh robot dengan presisi tinggi, tanpa risiko kesalahan. Hasilnya? Lebih cepat, lebih hemat, lebih akurat. (Trumony, 2021)
Tak hanya manufaktur, JD dan Alibaba telah mengoperasikan gudang logistik tanpa pekerja manusia. Paket disortir dan dikirimkan oleh AI dan robot dengan efisiensi yang tak tertandingi.
II.
Bagaimana pabrik bisa berjalan tanpa manusia? Tiga teknologi utama yang menjadi tulang punggung revolusi Dark Factory ini:
Pertama adalah Robot Industri – dimana ABB, Fanuc, dan Kuka menyuplai robot canggih yang menggantikan tenaga kerja manusia. China adalah pasar robot industri terbesar di dunia, dengan lebih dari 50% penjualan robot global (Laporan IFR, 2023)
Kedua adalah AI & Machine Learning – Sistem pintar yang memastikan produksi berjalan optimal dan bisa belajar dari kesalahan.
Ketiga adalah 5G & Cloud Computing – Semua terkoneksi dalam jaringan real-time, memungkinkan pabrik dipantau dari jarak jauh.
Dark Factory memang memberikan keunggulan nyata. Produksi bisa dijalankan 24/7 tanpa henti dengan biaya tenaga kerja hampir nol. Selain itu proses produksi bisa dijalankan dengan presisi tinggi, nyaris tanpa kesalahan produksi. Dan tentunya operasi menjadi lebih hemat energi, lebih ramah lingkungan karena tidak perlu pencahayaan.
Namun, tidak ada perubahan besar tanpa risiko. Tentu banyak tantangan yang harus dihadapi. China menghadapi situasi dimana ribuan pekerja manufaktur kehilangan pekerjaan. Mau ke mana mereka setelah ini?
Investasi awal Dark Factory juga sangat mahal. Tidak semua perusahaan mampu membangun Dark Factory. Pabrik Greely menginvestasikan lebih dari 1.3 milliar USD untuk membangun pabrik dengan tingkat otomasi 90%. Hampir 1200 robot beroperasi dari proses awal sampai akhir.
Dan tantangan lainnya yang tidak kalah penting adalah ancaman keamanan siber. Saat semua bergantung pada AI dan cloud, bagaimana jika ada peretasan?
III.
Bagaimana negara di luar China membangun Dark Factory? Ini telah menjadi tren global dalam industri manufaktur. Negara-negara di luar China, seperti Jerman, Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan, juga mengadopsi konsep ini. Tujuannya sama yaitu meningkatkan efisiensi, mengurangi biaya, dan mempertahankan daya saing global.
Pabrik Siemens di Amberg, Jerman adalah contoh sempurna dari implementasi dark factory. Dengan tingkat otomatisasi mencapai 75% melalui teknologi AI, IoT, dan robotika, Siemens mampu memproduksi 12 juta komponen per tahun dengan 99% jaminan kualitas dan presisi tinggi (Siemens Amberg Factory Report, 2022).
Pabrik FANUC, produsen robot industri dunia di Oshino, Jepang mengoperasikan pabrik dengan tingkat otomasi 100% dan hanya 4 karyawan yang bertugas memantau sistem. Pabrik ini mampu beroperasi 24/7 tanpa henti dan menghasilkan ribuan robot per bulan.
Amerika dengan Tesla Gigafactory di Nevada, AS menjadi pelopor dark factory. Ini menjadi salah satu pabrik baterai kendaraan listrik dan sistem penyimpanan energi dengan tingkat otomasi produksi 95%. Dampaknya pabrik ini mampu memproduksi 35 GWh baterai per tahun untuk mendukung produksi masal mobil EV Tesla.
Di luar ketiga negara diatas, masih ada pabrik LG Chem di Korea Selatan dengan tingkat otomasi 90%. Ada pabrik Bosch di Bengaluru India dengan 80% proses produksi di otomatisasi.
Dan semua negara diatas berinvestasi dalam skala besar untuk pengembangan AI dan Robotika. Negara-negara ini berlomba-lomba meningkatkan kemampuan daya saing manufaktur mereka dengan berinvestasi di dark factory
Namun China menjadi pemimpin dalam tren dark factory dalam hal jumlah. China memiliki lebih dari 1000 dark factory di tahun 2023. Bandingkan dengan Amerika yang hanya 400, sementara Jerman 300, Jepang 200, dan Korea Selatan 150 dark factory di tahun yang sama (dari berbagai sumber). Data diatas menunjukkan dominasi China dalam percepatan adopsi teknologi industri 4.0.
Akhirnya apa yang bisa kita pelajari? China tidak menunggu masa depan. Mereka menciptakannya. Dark Factory bukan lagi eksperimen, tetapi standar baru manufaktur. Siapa yang cepat beradaptasi, dia yang akan bertahan. Pertanyaannya sekarang: Apakah belahan dunia lainnya siap menyusul langkah China? (Smart Corporate Academy | http://www.sc-academy.id)