Human-Centered Business: Peran Manusia di Era Teknologi dan Otomasi


Oleh: Sigit Darmawan

I.
Tulisan saya tentang “Dark Factory: Revolusi Manufaktur Tanpa Sentuhan Manusia” telah memunculkan beragam pertanyaan yang ditujukan kepada saya. Muara pertanyaannya sama: bagaimana situasi manusia dengan semua perubahan akibat teknologi tersebut? Tulisan saya ini adalah respon atas pertanyaan yang (mungkin) menjadi kegelisahan, sekaligus kecemasan kita semua.

Dalam satu dekade terakhir, kita menyaksikan percepatan transformasi teknologi yang luar biasa. Otomasi, kecerdasan buatan (AI), robotik, dan big data telah mengubah bisnis secara global. Namun, di tengah gelombang perubahan ini, satu pertanyaan mendasar muncul: di manakah posisi manusia?

Banyak yang kuatir bahwa teknologi akan menggantikan peran manusia. Mesin-mesin canggih di pabrik, algoritma data analitik, dan sistem otomasi yang mampu mengerjakan tugas-tugas rutin seolah-olah menggeser manusia dari pusat aktivitas bisnis.

Namun, saya melihat ini sebagai peluang untuk kembali memusatkan peran manusia dalam bisnis—sebuah konsep yang disebut oleh banyak ahli sebagai Human-Centered Business.

Pertama-tama, kita harus memahami bahwa teknologi adalah alat, bukan pengganti manusia. Teknologi diciptakan untuk memperkuat kapabilitas manusia, bukan untuk meniadakannya.

Contoh sederhana adalah penggunaan AI dalam analisis data. Meskipun AI mampu memproses data dalam jumlah besar dengan cepat, ia tidak memiliki kemampuan untuk memahami konteks sosial, emosi, atau nilai-nilai kemanusiaan yang mendasari keputusan bisnis. Di sinilah peran manusia menjadi krusial.

Erik Brynjolfsson dalam bukunya “The Second Machine Age” (2014), mengatakan teknologi memang mampu menggantikan tugas-tugas rutin. Tetapi teknologi tidak bisa menggantikan kreativitas, empati, dan kemampuan manusia untuk berpikir secara holistik. Dan dalam konsep Human-Centered Business, teknologi harus dilihat sebagai enabler—sebuah alat untuk manusia bekerja lebih efisien, kreatif, dan strategis.

Hal kedua adalah bahwa di era teknologi, inovasi menjadi kunci utama dalam bersaing. Namun, inovasi tidak bisa lahir dari mesin. Inovasi adalah produk dari pemikiran manusia yang mampu melihat peluang, merasakan kebutuhan, dan menciptakan solusi yang relevan.

Dalam teori Disruptive Innovation (1997), Clayton Christensem menekankan bahwa inovasi sering kali datang dari pemahaman mendalam terhadap kebutuhan pelanggan—sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh manusia. Human-Centered Business menempatkan manusia sebagai pusat inovasi.

Perusahaan-perusahaan terkemuka dunia seperti Apple, Google, dan Tesla tidak hanya mengandalkan teknologi canggih, tetapi juga kemampuan manusia untuk berpikir out of the box. Mereka paham bahwa teknologi hanyalah alat, sedangkan nilai (value) diciptakan oleh manusia.

II.
Salah satu aspek yang tidak bisa digantikan oleh teknologi adalah empati. Dalam bisnis, memahami kebutuhan dan keinginan pelanggan adalah kunci sukses.

Teknologi mungkin bisa menganalisis pola konsumsi, tetapi hanya manusia yang bisa merasakan emosi, memahami konteks sosial, dan membangun hubungan yang bermakna dengan pelanggan.

Sebagai contoh di industri layanan kesehatan. Meskipun AI dapat membantu diagnosis dan operasi, pasien tetap membutuhkan sentuhan manusia—empati dari dokter, perawat, dan tenaga medis lainnya. Di sinilah Human-Centered Business menjadi relevan. Bisnis yang sukses adalah bisnis yang mampu menggabungkan kekuatan teknologi dengan sentuhan manusia.

Kepemimpinan organisasi juga mengalami transformasi. Pemimpin tidak hanya perlu paham teknologi, tetapi juga harus mampu memimpin dengan empati. Mereka harus bisa menginspirasi, membangun tim yang kolaboratif, dan menciptakan budaya organisasi yang menghargai manusia.

John Kotter dalam bukunya Leading Change (1996), menekankan pentingnya kepemimpinan yang adaptif dan berpusat pada manusia. Terutama ketika organisasi harus menghadapi perubahan yang cepat. Dalam konsep Human-Centered Business, pemimpin harus menjadi jembatan antara teknologi dan manusia. Pemimpin perlu memastikan teknologi digunakan untuk memberdayakan manusia, bukan mengabaikannya.

III.
Salah satu tantangan terbesar dalam menerapkan Human-Centered Business adalah resistensi terhadap perubahan. Banyak orang takut bahwa teknologi akan mengambil alih pekerjaan mereka. Maka tugas kita sebagai pemimpin di organisasi: memberikan edukasi dan pelatihan, agar tim dapat beradaptasi dengan perubahan.

Organisasi yang adaptif dan inklusif adalah kunci untuk menghadapi perubahan. Organisasi perlu menciptakan lingkungan kerja yang mendukung kolaborasi antara manusia dan teknologi (Edgar Schein, 2010). Integrasi teknologi dilakukan secara bertahap, sambil terus mengembangkan keterampilan anggota tim.

Di era teknologi dan otomasi, manusia tetap menjadi pusat dari segala aktivitas bisnis. Teknologi adalah alat yang hebat. Ia tidak akan pernah bisa menggantikan kreativitas, empati, dan nilai-nilai kemanusiaan. Human-Centered Business mengajak kita untuk melihat teknologi sebagai mitra, bukan ancaman.

Pada akhirnya “teknologi adalah tentang apa yang bisa dilakukan, sedangkan manusia adalah tentang mengapa kita melakukannya”. Dan tantangannya adalah: mampukah kita membangun bisnis yang manusiawi, inovatif, dan relevan di era teknologi ini?
(Sigit B. Darmawan | http://www.sc-academy.id )

Leave a comment