“Hari Pembebasan” Trump: Saat Dunia Mulai Menata Ulang Meja Perdagangan


Oleh: Sigit Darmawan

I. Trump 2.0 dan Kebijakan Tarif Baru AS

Pada 3 April 2025, dunia kembali diguncang. Trump—yang menduduki Gedung Putih untuk periode kedua—mengumumkan paket tarif besar-besaran atas barang impor ke Amerika Serikat. Kali ini lebih sistematis, lebih agresif, dan menyasar hampir seluruh mitra dagang utama AS, termasuk Indonesia. Donald Trump menyebutnya sebagai Liberation Day. Sebuah hari kemenangan. Tapi untuk siapa?

Tarif yang diumumkan:

  • 25% untuk mobil buatan luar negeri,
  • Tarif khusus untuk fentanyl dari Meksiko dan Kanada,
  • Tarif balasan (reciprocal tariffs) sebesar: China (34%, meningkat menjadi 54% dengan tambahan tarif terkait fentanyl), Vietnam (46%), Indonesia (32%), Thailand (36%), dan lainnya. (Reuters, 3 April 2025)

Trump menyebut kebijakan ini sebagai “cara yang adil”—karena tarif ini adalah “setengah dari tarif yang dikenakan negara-negara tersebut pada produk AS”. Narasi yang menggugah nasionalisme Amerika, tapi juga membuka babak baru ketegangan ekonomi global.

Namun lebih dari sekadar retorika populis, kebijakan tarif tinggi ini lahir dari sejumlah alasan strategis yang mencerminkan kekhawatiran dalam negeri AS:

Pertama, deindustrialisasi Amerika yang sudah berlangsung sejak 1980-an. Banyak pabrik pindah ke luar negeri demi efisiensi biaya, menyebabkan hilangnya jutaan lapangan kerja manufaktur. Trump ingin membalikkan tren ini dengan memaksa relokasi industri kembali ke AS melalui mekanisme tarif. Data dari U.S. Bureau of Labor Statistics menunjukkan bahwa jumlah tenaga kerja di sektor manufaktur AS turun dari 17 juta pada 1990 menjadi sekitar 12,8 juta per Februari 2025. (U.S. BLS)

Kedua, defisit perdagangan yang kronis. AS telah lama mengalami defisit perdagangan dengan banyak negara, terutama China. Pada tahun 2024, defisit perdagangan barang AS dengan China mencapai sekitar US$295,4 miliar, menjadikannya mitra dagang dengan defisit terbesar. (Statista, 2025) Tarif dianggap sebagai alat korektif untuk menciptakan perdagangan yang lebih “adil” dalam persepsi Trump dan pendukungnya.

Ketiga, ketergantungan pada rantai pasok global yang rapuh. Pandemi COVID-19 dan ketegangan geopolitik membuka mata dunia, termasuk AS, akan rentannya ketergantungan terhadap rantai pasok yang terkonsentrasi di luar negeri. Laporan McKinsey Global Institute (2023) menyebut bahwa lebih dari 75% perusahaan global mengalami gangguan rantai pasok selama pandemi, mendorong urgensi diversifikasi dan relokasi rantai pasok. 

Keempat, kalkulasi politik domestik. Dalam periode awal pemerintahannya yang kedua, Trump memperkuat basis politiknya dengan menggulirkan kebijakan ekonomi nasionalis. Isu pengembalian lapangan kerja, relokasi industri, dan proteksi perdagangan kembali diangkat sebagai simbol pembalasan atas ketimpangan global yang menurutnya merugikan Amerika. Survei Gallup pada Februari 2025 menunjukkan bahwa 62% pemilih Partai Republik menganggap kebijakan perdagangan proteksionis sebagai alasan utama mendukung Trump.

Reaksi pasar langsung terasa: S&P 500 turun 8,4% dan Nasdaq terkoreksi hampir 9% dalam perdagangan pasca-pengumuman. Ini menandakan kecemasan serius investor global terhadap potensi eskalasi perang dagang. (Investors.com, 3 April 2025)

Namun yang lebih penting dari gejolak pasar adalah: ke mana dunia akan beralih?

II. Ketika Pusat Ekonomi BergeserDampak Global dari Kebijakan Tarif Trump

Kebijakan tarif baru AS telah mempercepat fragmentasi perdagangan global yang sebelumnya telah terkikis akibat pandemi dan ketegangan geopolitik. Negara-negara yang terkena tarif tinggi akan terdorong untuk mengalihkan fokus dari pasar AS dan membentuk blok perdagangan alternatif.

Tren yang mulai tampak pada paruh awal 2025:

  • Kebangkitan aliansi Asia–Afrika dan Global South sebagai respons atas dominasi AS dan China.
  • Penguatan inisiatif RCEP dan BRICS+ sebagai jalur integrasi ekonomi non-Barat.
  • Penurunan ketergantungan pada dolar AS dalam transaksi lintas negara melalui adopsi pembayaran berbasis mata uang lokal.

Beberapa negara seperti Vietnam dan India memperkuat posisi mereka sebagai alternatif hub manufaktur global. Meksiko dan Brasil mulai diuntungkan oleh kedekatan geografis dengan pasar Amerika Utara namun tetap harus menghadapi ketidakpastian politik dari AS.

Laporan UNCTAD awal 2025 menyebut bahwa aliran investasi asing langsung (FDI) global mengalami penyesuaian tajam, dengan pergeseran signifikan dari AS ke kawasan Asia Selatan dan Timur Tengah. Ini merupakan sinyal bahwa pusat gravitasi ekonomi sedang mengalami perubahan struktural.

Dunia akan semakin multipolar secara ekonomi. Dalam konteks ini, Indonesia dan negara-negara ASEAN memiliki kesempatan untuk memperkuat peran sebagai simpul perdagangan dan produksi alternatif. Namun, hal itu hanya akan tercapai jika stabilitas domestik dan kualitas kebijakan perdagangan mampu menjawab tantangan transisi global ini.

III. Indonesia di Pusaran PerubahanDampak Sosial Ekonomi dan Strategi Ketahanan Nasional

Dengan tarif 32% terhadap produk Indonesia yang diberlakukan AS, potensi tekanan terhadap sektor ekspor manufaktur menjadi nyata. Data BPS 2024 menunjukkan bahwa AS tetap menjadi tiga besar tujuan ekspor nonmigas Indonesia, dengan nilai mencapai US$29 miliar. Sektor yang paling rentan meliputi tekstil, alas kaki, elektronik, furnitur, dan komponen otomotif.

Dampak utama yang mulai terasa:

  • Penurunan pesanan ekspor dari pabrik-pabrik berorientasi AS di Jawa Barat dan Jawa Tengah.
  • Potensi PHK massal di sektor padat karya.
  • Kelesuan ekonomi lokal di daerah-daerah industri ekspor.

Laporan World Bank (Q1 2025) mencatat bahwa 56% industri kecil menengah (IKM) Indonesia masih tergantung pada satu hingga dua pasar utama ekspor. Dengan struktur ekspor yang belum terdiversifikasi secara geografis maupun sektoral, tekanan ini berisiko menimbulkan ketimpangan sosial baru.

Di sisi lain, kesempatan untuk menarik relokasi industri dari China dan Vietnam tetap terbuka. Namun hal ini memerlukan:

  • Reformasi birokrasi dan perizinan yang lebih progresif.
  • Perbaikan kualitas SDM dan insentif pelatihan vokasi.
  • Kebijakan insentif fiskal dan infrastruktur logistik yang kompetitif.

Kebijakan Trump ini menjadi ujian ketahanan ekonomi Indonesia. Apakah kita akan tetap bergantung pada model ekspor murah berorientasi pasar tunggal, atau mulai berani membangun struktur industri yang berdaulat, terdiversifikasi, dan berbasis pada kekuatan domestik?

Di tengah dunia yang sedang berubah arah, Indonesia harus memilih peran: hanya menjadi pasar, atau menjadi pemain yang menentukan arah baru rantai pasok global.

Refleksi:
Kebijakan ekonomi yang lahir dari politik dalam negeri negara lain tidak pernah bisa kita kendalikan. Namun, cara kita meresponsnya akan menentukan masa depan kita sendiri. Indonesia tidak boleh hanya bereaksi dengan keluhan atau kebijakan tambal sulam. Yang kita butuhkan adalah visi industrialisasi jangka panjang: membangun ketahanan dari dalam, memperkuat integrasi regional, dan menciptakan rantai nilai yang tak mudah dikunci oleh negara lain. Dunia sedang mencari pusat gravitasi ekonomi baru, dan Indonesia bisa menjadi salah satunya—jika kita cukup berani dan cukup siap.

#liberationday #tradewar #trump2.0 #business #competition

Leave a comment