Oleh: Sigit Darmawan

I. Kebangkitan dan Kerapuhan
Dalam dua dekade, Nissan dikenal sebagai raksasa otomotif yang tak terkalahkan — salah satu simbol kebangkitan industri otomotif Jepang. Mereka menjadi pelopor mobil listrik dengan Nissan Leaf yang revolusioner. Namun hari ini, Nissan bagai raksasa yang limbung dan sedang berjuang untuk bertahan dalam krisis. Mereka tersandung oleh masalah yang sebenarnya bisa dihindari.
Fakta yang mengkhawatirkan menunjukan penjualan global Nissan merosot 38% dalam lima tahun terakhir. Dari 5.2 juta unit di tahun 2019 menjadi hanya 3.2 juta unit di tahun 2024. Kondisi keuanganpun berubah drastis. Dari untung $3.9 miliar di tahun 2019 menjadi rugi $1.5 miliar pada tahun 2024.
Yang lebih memprihatinkan, pangsa pasar EV yang pernah mencapai 20% di tahun 2018 kini terjun bebas menjadi hanya 5% di tahun 2024. Ini bukan sekedar masalah pasar, melainkan kegagalan membaca perubahan zaman.
II. Anatomi Kerapuhan Nissan
Apa yang menjadi penyebab kerapuhan bisnis Nissan? Inilah “Lima Faktor Penyebab Kerapuhan Nissan” yang bisa menjadi pelajaran bagi kita.
Pertama, Soal Kekuasaan yang Tidak Terkendali – The Ghosn Effect.. Nama Charlos Ghosn, tidak bisa dilepaskan dari sejarah Nissan. Ia adalah sosok yang menyelamatkan Nissan dari kebangkrutan pada akhir 1990-an. Ia menerapkan strategi efisiensi ekstrem, restrukturisasi organisasi, dan peluncuran kendaraan listrik (Electric Vehicle) inovatif pertama.
Di bawah kepemimpinannya, Nissan mencetak laba, dan margin keuntungan melonjak. Aliansi Renault-Nissan menjadi salah satu kolaborasi global tersukses di industri otomotif.
Ghosn dianggap sebagai pemimpin krisis yang visioner dan berani mengambil risiko besar. Dialah yang mendorong elektrifikasi mobil saat mayoritas produsen lain masih ragu.
Namun, keberhasilan itu menyisakan bom waktu. Sistem kepemimpinannya yang otoriter menumbuhkan budaya organisasi tanpa checks and balances yang memadai. Pasca-skandal keuangan dan pelariannya pada 2019 membuat Nissan berhadapan dengan krisis tata kelola yang dalam. Aliansi dengan Renault mulai retak, budaya inovasi melemah, dan organisasi tidak tumbuh sehat.
Kisah Ghosn adalah cermin bahwa kepemimpinan yang sukses di awal tidak menjamin keberlanjutan jika tidak disertai transformasi budaya dan sistem yang tangguh. Nissan mengalami kekacauan kepemimpinan dengan tiga kali pergantian CEO dalam lima tahun.
John Paul MacDuffie, profesor dari Wharton School, mengatakan, “Kekuasaan absolut tanpa checks and balances adalah bom waktu. Ghosn adalah contoh nyata bagaimana kepemimpinan otoriter merusak budaya perusahaan.” (CNBC, 2020)
BBC dalam artikelnya “Nissan’s Leadership Crisis: What Went Wrong?” (2023) juga menyoroti kegagalan dewan direksi mengawasi eksekutif puncak. Nyaris tidak ada transparansi dan akuntabilitas.
Kedua, Nissan Gagal Dalam Menjaga Keunggulannya di Kendaraan Listrik. Nissan, pelopor kendaraan listrik, kini tertinggal jauh oleh Tesla, Hyundai, dan BYD. Nissan terjebak dengan teknologi charger usang CHAdeMO, saat seluruh pasar sudah beralih ke standar CCS.
Dalam periode 2021-2024, Nissan hanya meluncurkan dua model baru, sementara kompetitor seperti Hyundai meluncurkan 11 model. Ini menunjukkan inovasi Nissan berjalan sangat lambat. Kesalahan strategi harga semakin memperparah keadaan. Nissan Ariya ditawarkan $12.000 lebih mahal daripada Tesla Model 3 yang menjadi benchmark pasar.
Maryann Keller, analis industri otomotif, di Automotive News World Conggress (2022), menyebut kegagalan Nissan adalah contoh klasik perusahaan yang berhenti mendengarkan pasar. Nissan terjebak dengan keyakinan lama dan gagal beradaptasi. BBC dalam artikelnya “Nissan’s Electric Vehicle Strategy: Falling Behind the Competition” (2023) juga menyebut: Nissan gagal berinvestasi di teknologi baterai dan infrastruktur EV.
Ketiga, Nissan Melakukan Pemotongan Biaya yang “Membunuh” Inovasi. Kebijakan pengurangan biaya yang diambil Nissan justru berbalik menjadi bumerang. Keputusan mem-PHK 9000 karyawan memperparah kemampuan inovasi perusahaan. Sementara kompetitor meningkatkan belaja R&D, Nissan melakukan pemotongan sebesar 25%.
Utang perusahaan melonjak 2,3 kali lipat dalam rentang 4 tahun terakhir 2020-2024. Sementara laba menurun tajam 90% di tahun 2024. Ini menunjukkan tidak efektifnya strategi penghematan tersebut.
Michael Useem, profesor Wharton School, mengatakan: “Memotong biaya tanpa strategi pertumbuhan adalah bunuh diri bisnis. Nissan memotong R&D, padahal itu jantung inovasi” (Harvard Business Review, 2023).
Keempat, Budaya Internal Nissan Menghambar Inovasi. Nissan mengembanglan sistem birokrasi yang justru menghambat kemajuan dan inovasi. Proses pengembangan produk dan strategi masuk ke pasar mereka 50% lebih lambat dibanding Toyota.
Hirotaka Takeuchi, profesor Harvard Business School, mengatakan, “Birokrasi yang kaku membunuh kreativitas. Nissan terjebak dalam budaya yang menghambat kemajuan.” (2021).
Pelajaran terbesarnya adalah: perubahan budaya menjadi tantangan terbesar perusahaan. Kelincahan (agility) dan fokus pada kinerja adalah kunci. Dan birokrasi yang rumit hanya akan membunuh inovasi.
Kelima: Kegagalan Merger Dengan Honda. Upaya merger Nissan-Honda di tahun 2024 berakhir dengan kegagalan yang mahal. Konflik budaya birokrasi Nissan dan pendekatan inovatif Honda menjadi penyebab utamanya.
Honda masuk dengan posisi kuat, baik penjualan maupun citra mereka. Nissan datang dengan beban. Ketika membahas soal kepemimpinan, terjadi ketegangan. Honda ingin memimpin, sementara Nissan ingin setara. Akhirnya, merger itu gagal total. Dan Nissan menanggung kerugian sebesar $600 juta untuk biaya konsultan proses merger ini, yang setara dengan anggaran R&D satu tahun.
Prof. Jeffrey Sonnenfeld dari Yale School of Management dalam wawancara dengan Bloomberg (2024), mengatakan: “Merger tanpa keselarasan budaya dan visi adalah resep kegagalan. Nissan dan Honda tidak pernah sejalan.” Sementara artikel BBC “Nissan-Honda Merger: A Costly Failure” (2024) menulis perbedaan budaya dan visi sebagai penyebab utama kegagalan. Nissan terlalu optimis tanpa mempertimbangkan perbedaan mendasar.
III. Pola Klasik Disrupsi
Nissan tidak jatuh karena dunia berubah. Nissan rapuh karena tidak mau berubah. Mereka terlalu lambat bergerak. Nissan memiliki semua bahan untuk sukses, tetapi kegagalan dalam mengambil keputusan yang tepat itu telah melemahkannya.
Kisah Nissan memiliki kemiripan pola dengan kejatuhan Nokia dan Kodak—dua perusahaan besar yang pernah memimpin pasar global. Keduanya tumbang karena gagal beradaptasi dengan perubahan.
Nokia menguasai pasar ponsel, Kodak menjadi raja film fotografi, dan Nissan adalah pelopor mobil listrik. Namun ketika disrupsi datang, mereka terlambat merespons, terjebak dalam keyakinan bahwa kejayaan masa lalu akan cukup untuk mempertahankan posisi di masa depan.
Nokia mengabaikan potensi sistem operasi terbuka seperti Android. Kodak menunda masuk ke fotografi digital meskipun mereka yang menemukannya lebih dulu. Nissan terlambat mengembangkan teknologi EV lebih lanjut setelah Leaf. Dan tindak hanya itu, Nissan semakin tertinggal dalam inovasi dan ekosistem kendaraan listrik.
Di balik ketiganya, ada pola yang sama: kepemimpinan yang salah mengambil arah, birokrasi internal yang membelenggu, dan budaya perusahaan yang membunuh keberanian untuk berinovasi.
Analogi ini menegaskan bahwa perusahaan bukan hanya dituntut untuk hebat di awal, tetapi juga untuk terus relevan, adaptif, dan rendah hati dalam membaca perubahan zaman. Tanpa transformasi budaya dan keberanian mengganti strategi yang sudah usang, perusahaan sebesar apa pun bisa menjadi legenda yang dikenang bukan karena kesuksesannya, tetapi karena kejatuhannya.
IV. Peta Jalan Kebangkitan
Nissan masih punya waktu untuk berbenah secara cepat, agar ramalan kejatuhan (fall prophecy) itu tidak terjadi. Dari situasi yang dihadapi Nissan, ada beberapa solusi konkret yang bisa menjadi “Peta Jalan Kebangkitan Nissan” dan bisa diimplementasikan.
Pertama, Transformasi Kepemimpinan. Nissan perlu melakukan transformasi kepemimpinan, untuk meningkatkan independesi pengawasan dan memastikan transparansi. Tugas pemimpin baru tersebut melakukan transformasi organisasi, dan yang terpenting melakukan “Organizational Cultural Reset” dengan KPI yang jelas. Tujuannya adalah mengubah budaya perusahaan dari dasar.
Kedua, Revolusi EV. Nissan harus mulai mengalokasikan minimal 30% dari belanja R&D untuk pengembangan teknologi baterai generasi baru. Kolaborasi strategis dengan dengan partner-partner baru agar dapat memberikan akses pada inovasi terbaru. Yang tak kalah penting, paket harga yang agresif perlu dirancang untuk merebut kembali pangsa pasar yang hilang.
Ketiga, Efisiensi Cerdas. Restrukturisasi harus dilakukan dengan prinsip “lean but innovative” yang seimbang. Biaya rantai pasok Nissan 15-25% lebih tinggi dari Renault (Bloomberg, 2022). Itu menunjukkan proses bisnis yang tidak efisien dan perlu diubah. Transformasi digital, kolaborasi stratejik, dan perbaikan proses bisnis adalah hal krusial untuk dilakukan di seluruh rantai pasoknya. Strategi ini akan mengurangi biaya operasional, meningkatkan produktivitas, dan mendorong inovasi.
Keempat, Lessons Learned. Nissan telah memberikan beberapa pembelajaran penting kepada para pemimpin bisnis. Berinvestasi dalam inovasi bertujuan untuk meningkatkan daya saing di era disrupsi seperti sekarang. Dalam pasar yang dinamis ini, maka kecepatan harus mengalahkan birokrasi. Kekuasaan yang tidak diawasi dengan sistem checks and balances akan menciptakan krisis. Dan yang terpenting kesuksesan masa lalu tidak menjamin masa depan.
V. Refleksi untuk Pemimpin Bisnis
Kisah Nissan adalah cermin yang berharga bagi setiap pemimpin bisnis. Tantangan yang dihadapi Nissan, bisa jadi adalah tantangan yang sedang diam-diam menunggu di organisasi kita hari ini.
Lima pertanyaan kritis dan reflektif berikut penting untuk kita pikirkan:
1. Apakah budaya organisasi kita masih relevan?
2. Seberapa cepat kita merespons perubahan pasar?
3. Apakah sistem checks & balances sudah memadai?
4. Apa yang akan terjadi jika model bisnis inti kita usang?
5. Apa yang bisa dipelajari dari kerapuhan Nissan?
Sebagaimana dikatakan Peter Drucke”Organisasi tidak runtuh karena perubahan pasar, tapi karena gagal beradaptasi.” Pertanyaannya sekarang adalah apa yang akan kita lakukan?
#leadership #business #transformation #innovation #disruption
(Smart Corporate Academy | http://www.sc-academy.id)