
Oleh: Sigit Darmawan
Kebijakan tarif baru yang diumumkan Presiden AS Donald Trump pada 3 April 2025, dalam narasi Liberation Day, menjadi pemicu ketidakpastian baru terhadap stabilitas rantai pasok global. Indonesia ikut terdampak, termasuk sektor Fast Moving Consumer Goods (FMCG) dan ritel modern yang selama ini menopang konsumsi rumah tangga secara nasional.
Sektor ini sebenarnya telah teruji oleh krisis sebelumnya. Pada periode Trump 1.0 (2017–2021), perang dagang AS–Tiongkok memicu peningkatan harga bahan baku impor, terutama kemasan dan bahan baku industri. Namun, konsumsi domestik tetap terjaga dan pertumbuhan industri FMCG Indonesia mencapai 5,3 persen pada 2019 (Nielsen, 2020).
Tahun 2020 menjadi ujian lebih berat. Pandemi COVID-19 mengganggu distribusi dan mobilitas barang. Namun sektor FMCG mampu mencatat pertumbuhan volume 5 persen (Kantar Worldpanel Indonesia, 2021) karena adopsi cepat terhadap e-commerce dan distribusi berbasis wilayah. Meski ritel fisik terdampak, konektivitas barang ke konsumen berhasil dijaga melalui saluran distribusi digital.
Memasuki fase pasca-pandemi, tekanan logistik belum mereda. Krisis energi, perang Ukraina-Rusia, dan kelangkaan kontainer mendorong lonjakan biaya distribusi global. Meski demikian, sektor FMCG Indonesia masih mampu tumbuh 4,2 persen pada 2023 (NielsenIQ), menunjukkan daya tahan rantai pasok yang relatif kuat.
Namun demikian, struktur pasokan dalam negeri masih menyimpan risiko. Data BPS (2023) menunjukkan sekitar 68 persen bahan baku industri makanan dan minuman masih diimpor. Selain itu, biaya logistik nasional mencapai 23,5 persen dari PDB, tertinggi di kawasan (INDEF, 2024).
Tarif impor baru AS memperparah tekanan pada rantai pasok nasional. Depresiasi rupiah ke level Rp17.059 per dolar AS—terendah sejak 1998—meningkatkan biaya bahan baku dan komponen impor. Sementara Indeks Harga Impor naik 7,36 persen secara tahunan pada triwulan IV-2024 (BPS, Maret 2025). Biaya distribusi domestik juga diperkirakan melonjak 9–11 persen akibat kenaikan harga energi dan inefisiensi logistik (ALI, 2025). Di sisi permintaan, konsumsi rumah tangga, terutama dari kelas menengah ke bawah, masih tertahan karena lemahnya ekspektasi pendapatan dan lambatnya pemulihan lapangan kerja (BI, Januari 2025). Dalam kondisi ini, industri menghadapi tekanan margin dan lemahnya permintaan secara bersamaan.
Tanpa mitigasi cepat dan terarah, depresiasi rupiah, tarif tinggi, biaya logistik, dan konsumsi yang melambat bisa mengguncang stabilitas rantai pasok—terutama sektor konsumsi yang menjadi penopang utama daya beli masyarakat
Pelajaran dari Krisis: Tiga Pilar Ketahanan
Dari krisis ke krisis, sektor FMCG dan ritel Indonesia telah menunjukkan pola daya tahan yang menarik untuk dicermati. Setidaknya terdapat tiga pelajaran utama yang terbukti penting dalam menjaga keberlangsungan rantai pasok sektor ini.
Pertama, fleksibilitas sumber dan saluran distribusi menjadi kunci. Ketika pelabuhan tertutup dan pasokan terganggu, perusahaan yang memiliki diversifikasi pemasok dan saluran distribusi alternatif (termasuk e-commerce dan logistik skala kecil) terbukti mampu menjaga kelancaran pasokan ke pasar.
Kedua, adopsi teknologi secara cepat dan tepat guna sangat menentukan kecepatan adaptasi. Perusahaan dengan perencanaan berbasis data dan distribusi otomatis lebih tanggap dibanding yang masih mengandalkan sistem konvensional.
Ketiga, kolaborasi dengan ekosistem lokal—seperti UMKM, koperasi konsumen, dan komunitas logistik—terbukti memperkuat ketahanan rantai pasok. Di kawasan industri seperti Karawang dan Kendal, forum logistik lokal membantu menyelaraskan jadwal pengiriman, berbagi armada, dan mengatasi inefisiensi distribusi. Kolaborasi ini menjadi bantalan penting saat terjadi guncangan pasokan.
Pelajaran ini seharusnya tidak berhenti menjadi praktik insidentil. Ia perlu dijadikan fondasi dalam merancang ulang strategi nasional ketahanan rantai pasok yang lebih tangguh dan inklusif.
Strategi Adaptif dan Ketangguhan Lokal
Strategi adaptasi menjadi krusial dalam menjaga keberlangsungan rantai pasok di tengah tekanan global dan ketidakpastian struktural. Pelaku industri FMCG skala besar mulai menerapkan pendekatan terintegrasi berbasis mitigasi risiko dan efisiensi.
Pertama, dilakukan diversifikasi sumber bahan baku. Produsen besar mulai mengalihkan sebagian pasokan dari China ke pemasok regional di ASEAN serta menggandeng pemasok lokal untuk mengurangi risiko hambatan impor. Kedua, digitalisasi rantai distribusi diperluas melalui pemanfaatan teknologi prediktif dan sistem manajemen persediaan berbasis data. Ini bertujuan untuk mempercepat respons terhadap fluktuasi permintaan dan mengoptimalkan biaya logistik. Namun, Digitalisasi logistik masih didominasi korporasi besar. Perusahaan menengah perlu insentif teknologi dan kemitraan logistik digital.
Ketiga, saluran penjualan langsung ke konsumen atau “direct-to-consumer (D2C)” diperkuat, guna memangkas rantai distribusi tradisional dan meningkatkan margin. Keempat, perusahaan mengembangkan portofolio merek internal sebagai strategi harga dan penetrasi pasar, terutama di tengah penurunan daya beli.
Di sisi lain, UMKM menunjukkan pola adaptasi yang khas. Mereka cenderung responsif secara operasional: memanfaatkan bahan lokal, membangun jaringan distribusi komunitas, serta menggunakan platform digital sebagai saluran pemasaran dan transaksi. Fleksibilitas, relasi sosial, dan kecepatan pengambilan keputusan menjadi keunggulan utama UMKM dalam menghadapi tekanan rantai pasok. Namun daya tahan UMKM tetap sangat bergantung pada keberpihakan regulasi dan infrastruktur digital yang merata di wilayah
Urgensi Kebijakan dan Peran Negara
Ketahanan rantai pasok tidak bisa hanya ditanggung pelaku usaha. Ketimpangan antara korporasi besar dan UMKM membuat kebijakan pemerintah semakin krusial. Negara harus mengambil peran sebagai fasilitator struktur pasokan yang lebih efisien, terintegrasi, dan inklusif.
Pertama, agenda penggantian impor bahan baku harus ditopang dengan kebijakan insentif fiskal, penguatan riset industri, serta insentif terhadap pemanfaatan produk dalam negeri. Upaya ini tidak hanya mengurangi ketergantungan, tetapi juga membuka peluang penciptaan nilai tambah lokal.
Kedua, percepatan reformasi logistik nasional mendesak dilakukan. Ini mencakup integrasi antarmoda transportasi, konsolidasi distribusi antarwilayah, dan pemangkasan biaya logistik yang saat ini masih di atas 20 persen dari PDB. Ketiga, UMKM perlu didukung secara sistemik melalui perluasan akses pembiayaan, pelatihan rantai pasok berbasis digital, serta integrasi dengan ekosistem distribusi nasional.
Keempat, diplomasi dagang perlu diarahkan untuk menjaga pasokan bahan baku, menekan hambatan dagang, dan memperluas kerja sama kawasan.. Dalam iklim perdagangan global yang semakin terfragmentasi, kecepatan dalam menjalin aliansi dagang menjadi aset yang tidak kalah penting dari kapasitas produksi itu sendiri
Ketahanan sebagai Sistem Nasional
Serangkaian krisis global—perang dagang, pandemi, dan gangguan pasokan energi—telah membuktikan bahwa ketahanan rantai pasok tidak dapat dibangun hanya dalam kondisi stabil. Justru tekanan ekstrem yang sering kali menjadi pemicu akselerasi adaptasi dan transformasi sistemik.
Tantangannya adalah bagaimana mengubah tekanan eksternal menjadi peluang untuk menata ulang sistem rantai pasok nasional. Sektor FMCG dan ritel, sebagai tulang punggung konsumsi domestik, harus melampaui strategi bertahan. Yang dibutuhkan adalah sistem rantai pasok yang tangguh secara struktural—fleksibel, kolaboratif lintas sektor, dan mampu merespons volatilitas global dengan cepat.
Ketahanan rantai pasok sebagai agenda strategis bukan hanya soal efisiensi, tetapi fondasi daya tahan ekonomi jangka panjang. Di tengah ketidakpastian global, industri konsumsi hanya dapat tumbuh jika ditopang oleh sistem pasokan dan distribusi yang kuat, adaptif, dan terkoneksi secara regional.
Saatnya pemerintah, industri, dan masyarakat bersinergi menjadikan ketahanan rantai pasok sebagai prioritas nasional. Bukan hanya untuk menghadapi gangguan hari ini, tetapi juga untuk memastikan ekonomi Indonesia tetap tangguh dalam menghadapi krisis yang akan datang.
#Tradewar20 #Trump20 #FMCG #RantaiPasok Indonesia #SupplyChainIndonesia #Tranformation #KetahananEkonomi #SupplyChainResilience