Obituari Kwik Kian Gie: Suara Nurani yang Tak Pernah Padam


Oleh: Sigit Darmawan

Pada Senin malam, 28 Juli 2025, Indonesia kehilangan salah satu sosok penjaga nurani bangsa. Kwik Kian Gie, ekonom yang tajam dan pemikir independen, tutup usia di umur 90 tahun. Ia bukan semata mantan Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri atau Kepala Bappenas.

Bagi banyak dari kita, khususnya generasi yang besar di masa peralihan reformasi, Kwik adalah suara akal sehat yang tak lelah mengingatkan bahwa ekonomi bukan hanya urusan angka, melainkan persoalan keadilan bagi manusia.

Selama lebih dari empat dekade, saya mengikuti jejak dan pemikirannya. Dari artikel-artikel bernas di surat kabar, pernyataan tegas di ruang publik, hingga keberaniannya mengambil sikap di luar arus kekuasaan. Kwik adalah semacam kompas etika dalam percakapan ekonomi Indonesia.

Ekonomi yang Memandang Manusia

Di tengah gempuran narasi pertumbuhan dan target investasi, Kwik konsisten mengajukan pertanyaan dasar yang sering dilupakan: siapa yang benar-benar memperoleh manfaat dari semua ini?

Ia tak segan menyoroti kebijakan yang memanjakan segelintir elit namun mengorbankan rakyat luas. Sikap ini menjadikannya berbeda—dan justru karena itu, relevan.

Kwik menolak anggapan bahwa ilmu ekonomi bebas nilai. Baginya, ekonomi bukan sekadar alat ukur, tetapi perangkat keberpihakan. Ia pernah menulis, “Keberpihakan kepada rakyat bukan sekadar slogan politik, melainkan tanggung jawab moral seorang ekonom.”

Mendidik sebagai Jalan Perjuangan

Kwik tak berhenti pada kritik. Ia bertindak. Salah satu warisan pentingnya adalah pendirian lembaga pendidikan yang kini dikenal sebagai Kwik Kian Gie School of Business. Sebuah institusi yang tak sekadar mengajarkan neraca dan teori keuangan, tetapi menjadi ladang penanaman nilai kejujuran dan keberanian.

Dalam pandangannya, membentuk insan bisnis yang tangguh harus dimulai dari fondasi etika. Kritik tanpa aksi hanya menjadi kegaduhan intelektual. Karena itu, ia mendidik—dan membentuk kader-kader muda yang tak hanya cakap berpikir, tetapi juga berani bersuara.

Jejak Pemikiran dan Ketegasan Sikap

Satu hal yang membedakan Kwik dari banyak tokoh publik adalah keberaniannya berdialog melampaui garis ideologis. Meski identik dengan PDI Perjuangan, ia pernah menjadi penasihat ekonomi bagi Prabowo Subianto.

Ia tidak mengurung diri dalam pagar politik. Ia melintasinya, demi kebenaran dan akal sehat publik.

Bagi Kwik, komitmen terhadap nilai jauh lebih penting daripada loyalitas terhadap partai. Oleh sebab itu, ia tetap dihormati oleh kalangan yang sangat beragam. Ia menjadi contoh bahwa integritas tidak mengenal warna bendera.

Kwik tidak meninggalkan jejak kekuasaan, melainkan warisan moral. Ia menunjukkan bahwa keberanian berpikir kritis dan keteguhan memegang prinsip lebih abadi daripada jabatan.

Salah satu sikap paling tegasnya adalah penolakannya terhadap penerbitan SKL bagi debitur BLBI. Ia menyuarakan keberatan bukan karena sentimen politik, tetapi karena keyakinan bahwa hukum tidak boleh tunduk pada kalkulasi kepentingan sesaat. Di tengah sunyi suara-suara sejenis, Kwik memilih berdiri tegak.

Menjadi Penanda Arah Zaman

Dalam iklim politik yang semakin pragmatis dan kebijakan yang kerap beraroma kompromi kepentingan, suara seperti Kwik menjadi semakin langka. Ia tidak mudah dibungkam oleh jabatan, tak silau oleh imbalan. Ia tidak mengejar sorotan, tapi justru menjadi cahaya yang menuntun arah di tengah keremangan.

Hari ini, saat kita berbicara soal transformasi ekonomi, bonus demografi, atau visi Indonesia 2045, pertanyaan yang diajukan Kwik tetap relevan: untuk siapa semua ini dikerjakan? Apakah adil? Apakah bermartabat?

Kwik telah pergi. Tapi nilai-nilai yang ia jaga dan suarakan tidak boleh ikut padam. Ia telah mewariskan keberanian untuk berpihak, berpikir merdeka, dan bertindak berdasarkan hati nurani. Itulah yang seharusnya terus kita rawat—bukan sebagai kenangan, tapi sebagai pegangan.

Leave a comment