Mewarisi Kekayaan atau Mewarisi Peluang? Menelisik Sumber Kekayaan Para Miliarder Dunia


Oleh: Sigit Darmawan

Apakah kekayaan luar biasa para miliarder dunia lahir dari kerja keras? Ataukah sekadar keberuntungan lahir di keluarga yang tepat? Pertanyaan ini kerap terdengar klise bagi kita.

Namun, laporan Forbes edisi Juni 2025 memberi kita alasan untuk berpikir ulang. Data Forbes : Self-Made vs. Inherited Wealth, memperlihatkan bahwa 67,05% miliarder dunia merintis kekayaannya sendiri. Sementara 32,95% lainnya adalah pewaris kekayaan lintas generasi—baik melalui keluarga, kongsi usaha, maupun aset warisan.

Angka ini tidak sekadar statistik. Ia adalah cermin yang memperlihatkan betapa ketimpangan kekayaan global masih erat kaitannya dengan faktor kelahiran.

Di Eropa Barat, warisan memainkan peran dominan. Jerman menempati posisi tertinggi. Sebanyak 75% miliardernya berasal dari warisan keluarga. Disusul Spanyol (74%), Meksiko (73%), Belgia (73%), dan Italia (64%). Pola ini mencerminkan ekonomi yang telah mapan berabad-abad. Banyak keluarga pengusaha mempertahankan dominasinya lewat kelompok usaha keluarga, saham, dan strategi pewarisan yang sistematis.

Di Meksiko dan negara Amerika Latin, warisan sering melekat pada struktur sosial yang feodal. Kelas menengah sulit menembus dinding kekuasaan ekonomi. Di negara-negara ini, kekayaan lebih mudah dicapai jika seseorang lahir di garis keluarga yang tepat. Bukan semata karena ide brilian atau daya juang.

Fenomena Self-Made dan Posisi Indonesia

Di sisi lain, Rusia dan Tiongkok mencatatkan angka mencolok. Sebanyak 97% miliarder mereka adalah mandiri. Ini mengejutkan, mengingat latar belakang ekonomi mereka sebelumnya adalah sistem komando. Namun, liberalisasi pasca-1990 membuka peluang. Privatisasi, sektor energi, dan teknologi digital menjadi ladang kekayaan baru.

Amerika Serikat tetap menjadi simbol American Dream. Sekitar 73% miliardernya tergolong self-made. Meski begitu, banyak dari mereka berasal dari keluarga kelas menengah atas. Mereka menikmati pendidikan elite, akses modal, serta jaringan mentor sejak dini.

Narasi self-made sering menutupi kenyataan. Tidak semua orang memulai dari titik nol. Peluang sejak awal tidak pernah setara. Di negara tanpa jaminan kesehatan dan pendidikan publik yang merata, menjadi mandiri sering kali hanya mungkin bagi yang sudah punya modal sosial.

Bagaimana dengan Indonesia?

Menurut Forbes, 70% miliarder Indonesia adalah self-made, dan 30% lainnya pewaris kekayaan. Angka ini menempatkan Indonesia sejajar dengan Jepang. Bahkan sedikit lebih tinggi daripada Australia dan Taiwan.

Sekilas, ini menunjukkan bahwa peluang masih terbuka. Banyak pengusaha lokal meraih kesuksesan dalam dua dekade terakhir. Mereka tumbuh dari sektor seperti ritel modern, properti, platform digital, teknologi finansial, dan komoditas ekspor.

Sebagian memulai dari skala menengah, lalu melesat berkat momentum, kebijakan, dan keterampilan membaca pasar. Namun, pertanyaannya: apakah peluang itu merata?

Fakta menunjukkan, kekayaan masih banyak terkonsentrasi pada kelompok yang memiliki akses istimewa. Baik dalam hal dana, perizinan, maupun hubungan politik.

Laporan Credit Suisse mencatat bahwa 1% orang terkaya menguasai 46,6% total kekayaan nasional. Sementara itu, 10% kelompok teratas menguasai hingga 75,3% kekayaan. Bahkan, kekayaan 40 orang terkaya setara dengan kekayaan 50 juta penduduk.

Rasio Gini Indonesia juga tetap tinggi. Nilainya berada di kisaran 0,375 hingga 0,382. Ini mencerminkan kesenjangan penghasilan yang lebar. Ketimpangan ini menunjukkan bahwa akses terhadap modal, aset, dan peluang ekonomi tidak merata.

Kelompok dengan hak istimewa sosial, ekonomi, dan politik masih mendominasi. Akibatnya, mobilitas sosial terhambat. Sistem ekonomi pun menjadi tidak adil bagi mayoritas masyarakat.

Ini membuat narasi “mandiri” tak sepenuhnya merefleksikan kenyataan. Banyak miliarder sejatinya tumbuh dalam keluarga yang sudah mapan secara sosial dan ekonomi.

Yang lebih mengkhawatirkan, hanya segelintir dari mereka yang muncul dari sektor vital. Seperti pendidikan, pangan, atau kesehatan. Ini menandakan adanya bias struktural. Kekayaan justru tumbuh di sektor margin tinggi dan regulasi longgar. Bukan dari sektor berdaya guna luas bagi rakyat.

Sistem bisnis Indonesia pun masih dipengaruhi relasi sosial-politik. Kedekatan keluarga dan jaringan elite sering menjadi jalur pintas menuju proyek dan pendanaan. Maka, meski angka self-made cukup tinggi, privilese tersembunyi tetap dominan.

Namun ada harapan. Generasi muda Indonesia semakin terbuka terhadap teknologi dan dunia global. Ekosistem startup, UMKM inovatif, dan ekonomi kreatif sebenarnya sudah mulai tumbuh. Pemerintah pun perlu didorong untuk memperkuat infrastruktur digital dan memperluas inklusi keuangan.

Yang penting, pertumbuhan ekosistem ini harus dirawat. Jangan sampai hanya melahirkan segelintir unicorn, tapi gagal memberi ruang bagi ribuan pelaku usaha kecil untuk naik kelas.

Pendidikan kewirausahaan, pembiayaan mikro, dan perlindungan hukum harus menjadi pijakan. Supaya miliarder masa depan muncul dari berbagai kalangan—bukan hanya mereka yang lahir dengan kemudahan.

Antara Harta, Nilai, dan Masa Depan

Lantas, mengapa semua ini penting? Sebab narasi tentang kekayaan menjadi acuan generasi muda dalam menentukan arah hidup.

Jika kita hanya memuja Elon Musk, Jeff Bezos, atau Jack Ma, tanpa memahami bahwa sepertiga miliarder dunia adalah pewaris, kita tengah menjajakan harapan palsu.

Data dari Forbes ini memberi pelajaran penting:

  • Akses pada pendidikan, jejaring, dan jaminan sosial adalah fondasi kesetaraan.
  • Kaya bukan satu-satunya tolok ukur keberhasilan.
  • Negara dan masyarakat harus membangun sistem yang inklusif. Agar tidak hanya elit lama yang terus berkuasa, tetapi muncul wajah-wajah baru dari kelas bawah dan menengah.

Mewarisi harta itu mudah. Tapi mewarisi nilai—kejujuran, kerja keras, dan keberanian berinovasi—itu jauh lebih langka. Dunia butuh generasi yang bukan hanya menerima, tapi juga mencipta. Bukan hanya mempertahankan, tapi juga memperluas manfaat.

Dalam satu tahun terakhir, total kekayaan miliarder dunia meningkat 13,4%. Di tengah lonjakan itu, mari bertanya ulang. Apakah pertumbuhan ini membawa kesejahteraan bersama? Ataukah hanya memperlebar jurang?

#self-madebillionare #inheritedwealth #kewirausahaan #warisan

Leave a comment