
Gambar : SINDONews.com
Oleh: Sigit Darmawan
Di balik perpindahan jutawan lintas negara, ada dinamika sangat kompleks. Ini bukan sekadar soal negara baru. Ini adalah sinyal penting: tentang kepercayaan pada iklim ekonomi, stabilitas politik, perlindungan hukum, dan mutu hidup.
Di era pascapandemi, persaingan antarnegara dalam menarik modal manusia semakin meningkat. Modal paling berpengaruh, yang tersembunyi dalam individu dengan kekayaan dan jaringan global.
Pada 2025, lebih dari 128.000 individu kaya (High Net Worth Individuals/ HNWI) diproyeksikan berpindah negara. Laporan Henley & Partners – Millionaire Migration Report 2025 menyebut ini sebagai angka tertinggi dalam 10 tahun.
Uni Emirat Arab (UAE) mencatat arus masuk terbesar. Sebanyak 9.800 jutawan pindah ke sana. Mereka tertarik pada pajak 0%, iklim bisnis ramah investor, dan gaya hidup mewah. Amerika Serikat, Italia, Swiss, dan Arab Saudi juga menarik ribuan HNWI. Daya tariknya: keamanan hukum, Golden Visa, dan kestabilan politik.
Sebaliknya, Inggris mencatat eksodus terbesar. Sebanyak 16.500 jutawan hengkang karena pajak kekayaan agresif dan pencabutan visa investor. Tiongkok kehilangan 7.800 HNWI akibat kontrol modal. India, Korea Selatan, dan Rusia pun termasuk negara-negara terdampak eksodus besar HNWI karena beban pajak tinggi dan ketegangan geopolitik.
Mengapa Mereka Pindah?
Beberapa alasan utama mendorong migrasi para HNWI. Motifnya kuat dan berulang.
Pertama, soal pajak dan perlindungan aset. Ini menjadi alasan paling dominan. Menurut Henley & Partners, 60% HNWI pindah demi menghindari pajak tinggi dan melindungi kekayaan.
Negara seperti UAE, Monaco, dan Bahama menawarkan rezim pajak ramah. Sebagian bahkan tak mengenakan pajak penghasilan atau warisan. Sementara itu, Inggris, Prancis, dan Jerman memperketat pajak dan pengawasan aset (IMF Fiscal Monitor, 2023).
Kedua, mereka mencari stabilitas politik dan kepastian hukum. HNWI sangat sensitif terhadap ketidakpastian hukum. OECD (2021) menyatakan, aspek ini sangat berpengaruh dalam keputusan migrasi. Laporan Global Wealth Migration Review 2023 mendukungnya. Banyak jutawan dari Rusia, Tiongkok, dan Afrika Selatan memilih negara dengan hukum transparan.
Ketiga, soal pendidikan dan kualitas hidup. Banyak HNWI pindah demi masa depan anak. Kanada dan Australia populer karena mutu pendidikan dan mutu hidup tinggi (BCG Global Wealth Report 2021).
Keempat, mobilitas global dan gaya hidup. Kota seperti Dubai, Zurich, dan Lisbon menjadi pusat elite dunia. Infrastruktur kelas dunia, keamanan, dan kemudahan akses menjadi daya tarik. UBS Global Wealth Insights (2022) mencatat, generasi HNWI kini lebih memilih gaya hidup fleksibel dan terhubung secara digital.
Golden Visa: Strategi Memikat Modal Manusia
Untuk menarik HNWI, banyak negara mengandalkan skema Golden Visa. Skema ini menawarkan izin tinggal jangka panjang, sebagai imbal balik atas investasi properti atau usaha.
Portugal, Italia, Yunani, dan UAE termasuk negara yang sukses memanfaatkannya. Tujuannya: pemulihan ekonomi dan peningkatan investasi jangka panjang.
Beberapa contoh program Golden Visa, misalnya:
- 🇵🇹 Portugal: Investasi atas properti €500.000 atau penciptaan 10 pekerjaan.
- 🇬🇷 Yunani: Investasi di properti €250.000. Ini termasuk yang termurah di Eropa.
- 🇮🇹 Italia: Investasi pada obligasi pemerintah atau proyek inovatif.
- 🇦🇪 UAE: Visa 10 tahun bagi investor, pengusaha, profesional.
Negara-negara ini paham bahwa kehadiran HNWI berarti masuknya investasi, properti terjual, lapangan kerja tercipta, dan pertumbuhan tanpa membebani fiskal negara.
Namun ada tantangan serius dari Golden Visa ini:
Pertama, pencucian uang dan risiko keamanan. Komisi Eropa menyuarakan kekhawatiran bahwa Golden Visa bisa menjadi celah masuk dana ilegal dan pihak berisiko tinggi. Transparency International (2021) mengkritik lemahnya verifikasi di beberapa negara. Program di Siprus dihentikan setelah skandal paspor emas 2020, yang terbongkar lewat The Cyprus Papers.
Kedua, distorsi pasar properti. IMF Working Paper (2022) menunjukkan, di Portugal dan Kanada, harga rumah melonjak di lokasi favorit investor asing. Warga lokal pun terpinggirkan.
Ketiga, soal moralitas kewarganegaraan. OECD mengingatkan bahwa kewarganegaraan seharusnya bukan komoditas. Memberikannya semata karena kekayaan memunculkan dilema etika. Sementara jutawan dapat membeli akses, warga biasa harus melewati proses panjang dan ketat.
Akibat kritik tersebut, Irlandia menghentikan investor visa pada 2023. Kanada menutup program serupa pada 2014. Alasan utamanya: manfaat ekonomi tak signifikan.
Indonesia: Potensi dan Tantangan
Indonesia diproyeksikan mengalami arus keluar -250 HNWI pada 2025 (Henley & Partners). Angkanya belum besar, tapi menjadi sinyal yang tak bisa diabaikan.
Faktor pemicunya adalah ketidakpastian hukum, birokrasi lamban, serta daya saing rendah di sektor pendidikan dan layanan kesehatan.
Laporan Knight Frank Wealth Report 2024 menyebutkan, banyak HNWI Indonesia memilih Singapura atau Australia. Alasannya: kestabilan dan iklim bisnis yang lebih ramah.
Indonesia memang telah merilis Second Home Visa pada 2022 (Permenkumham No. 5602/2022). Namun, skema ini belum cukup menarik. Ia belum terhubung langsung dengan insentif investasi produktif.
Dampak Strategis dan Refleksi
Migrasi HNWI bukan hanya soal pindah orang. Ini juga perpindahan modal dan kepercayaan.
IMF Working Paper (2022) menunjukkan korelasi antara migrasi HNWI dan turunnya investasi properti mewah, lesunya perbankan privat, serta menurunnya kontribusi sosial.
Eksodus jutawan juga berdampak pada reputasi negara. Indeks kepercayaan investor menurun, aliran FDI melambat, dan iklim investasi kehilangan daya tarik.
Peta migrasi ini menjadi cermin. Ia menunjukkan siapa yang dipercaya, dan siapa yang ditinggalkan. Ketika pemilik modal, ide, dan jaringan global memutuskan pergi, mereka membawa lebih dari kekayaan.
Negara yang menarik mereka bukan yang hanya menjual paspor, tetapi yang menawarkan kepastian, stabilitas, dan ruang tumbuh. Maka pertanyaan penting bagi Indonesia bukan “siapa yang pergi,” tapi “mengapa mereka tak ingin tinggal?
Peta migrasi jutawan bukan sekadar data perpindahan kekayaan—ia adalah peta kepercayaan dunia terhadap arah masa depan.