Ketika Tumbler Jadi Cermin Bangsa: Mengapa Hal Sepele Bisa Menjadi Huru-hara?


Oleh: Sigit B. Darmawan

Ada kalanya sebuah bangsa bercermin bukan melalui peristiwa besar, melainkan lewat hal-hal kecil yang tidak kita sangka. Beberapa hari ini kita disuguhi kisah sebuah tumbler Tuku yang tertinggal di kereta dan tiba-tiba menjelma menjadi drama nasional. Linimasa penuh sesak, komentar tak henti bermunculan, media ikut mengulas, seolah negeri sedang diguncang isu strategis—padahal yang menjadi pusat perhatian hanyalah botol minum.

Sebuah tumbler, dengan harga yang bahkan tidak setara upah harian sebagian pekerja, berubah menjadi panggung tempat emosi publik, cara berpikir, dan watak digital kita tampil tanpa tapisan. Di situlah letak menariknya: bukan peristiwanya yang penting, tetapi reaksi kita.


Dalam masyarakat yang terhubung sepanjang waktu, hal sepele tidak lagi benar-benar sepele. Para peneliti menyebut kita hidup dalam information-rich world —dunia yang dibanjiri informasi tetapi kekurangan perhatian. Herbert Simon, peraih Nobel Ekonomi, telah mengingatkan sejak 1971: “ketika informasi melimpah, yang menjadi langka adalah perhatian manusia”.

Artinya, setiap konten yang berhasil merebut atensi—betapapun remeh—akan diangkat oleh algoritma dan ditempatkan di etalase teratas. Kisah tumbler itu memilikitiga “bahan bakar” utama: Pertama, ia memantik emosi (perlakuan, rasa keadilan, dan pengalaman diperlakukan tidak semestinya).

Kedua, mudah dipahami (setiap orang pernah kehilangan barang). Ketiga, mudah memisahkan posisi (siapa benar, siapa keliru). Tak heran jika ia berubah menjadi huru-hara kecil yang menguasai ruang digital.

***
Para pakar komunikasi menyebut keadaan ini sebagai attention economy: yang diperebutkan sekarang bukan hanya uang, melainkan jam mata dan jam pikiran manusia.

Laporan Digital 2024 menunjukkan Indonesia memiliki lebih dari 185 juta pengguna internet dan sekitar 139 juta pengguna media sosial, dengan durasi penggunaan yang termasuk tertinggi di dunia. Kita bekerja, bercakap, berdebat, hingga berselisih di layar.

Masalahnya, algoritma tidak dirancang untuk menemukan apa yang penting, melainkan apa yang paling memancing reaksi. Kajian mengenai moral outrage—kemarahan bermuatan moral—menunjukkan bahwa konten yang menimbulkan marah, jijik, atau tersinggung moral cenderung lebih cepat menyebar dan lebih sering dibagikan.

Maka, ketika muncul narasi bahwa sebuah tumbler “dipermasalahkan”, “diabaikan”, atau “diperlakukan tidak adil”, algoritma langsung bekerja: mengangkatnya, memperluas jangkauan, memperbesar gaung. Perhatian publik pun “dibajak”— attention hijack —oleh perkara yang sebetulnya dapat selesai dengan cara biasa.

Di balik tumbler itu, tampak pola yang kian sering muncul: kita mudah simpati, mudah empati, namun sama mudahnya berubah menjadi amarah kolektif. Kajian tentang _outrage culture_ menunjukkan bahwa kemarahan di media sosial kerap bukan sekadar respons spontan, tetapi juga bersifat performatif—ada hasrat untuk menunjukkan “ini keberpihakan moral saya”, “lihat bahwa saya berada di sisi yang benar”.

Di Indonesia, dengan budaya kolektivisme yang kuat, fenomena ini terasa semakin pekat. Begitu ada satu narasi yang dianggap tidak adil, linimasa berubah menjadi gelanggang untuk mencari siapa yang keliru, siapa yang patut ditegur, dan siapa yang pantas dipermalukan.

Pada titik ini, kita perlu bercermin secara jujur: apakah kita sungguh membela nilai, atau hanya terbawa arus emosi? Apakah energi itu akan mengarah pada pembenahan sistem, atau sekadar menjadi “kembang api digital” yang terang sekejap lalu padam?

Kasus tumbler juga membuka sisi lain: kesiapan lembaga publik menghadapi era viral. Sedikit keliru dalam intonasi komunikasi, sedikit terlambat merespons, sedikit bersikap defensif—risikonya dapat berlipat ganda.

Di banyak negara, kesalahan komunikasi kecil dari institusi kerap memicu krisis kepercayaan. Berbagai kajian mengenai _digital moral outrage_ menunjukkan bahwa respons pertama—nada permintaan maaf, cara menjelaskan, maupun isyarat memperbaiki keadaan—sering menjadi penentu apakah isu mereda atau justru membesar.

Pelajaran bagi institusi publik maupun swasta jelas: komunikasi harus lebih cepat, lebih empatik, dan lebih terbuka, bukan sekadar prosedural dan defensif.

***
Neil Postman, dalam bukunya Amusing Ourselves to Death (1985), mengingatkan bahwa media modern cenderung mengubah hampir segala hal—politik, agama, pendidikan—menjadi hiburan. Yang berbahaya, menurut Postman, bukan ketika kita kalah oleh informasi palsu, tetapi ketika kita terlalu terhibur sampai kehilangan kemampuan membedakan mana yang penting dan mana yang remeh.

Kalimat itu terdengar seperti cerminan linimasa kita hari-hari ini. Kita menghadapi berbagai persoalan besar: kesenjangan, pendidikan, lapangan kerja, kualitas transportasi, krisis lingkungan.
Namun perhatian kita habis untuk perang komentar soal sebuah tumbler.

Bukan berarti tumbler tidak layak dibicarakan. Boleh saja. Yang menjadi persoalan adalah proporsi energi. Jika untuk hal kecil kita begitu kompak, mengapa untuk hal besar kita justru kerap diam?

Di sisi lain, bangsa ini punya kelebihan yang patut disyukuri: kemampuan mengubah ketegangan menjadi humor. Meme tentang tumbler bermunculan cepat, parodi bertebaran, dan tawa bersama sering menjadi pelepas penat dari tekanan hidup sehari-hari.

Namun kita perlu menyadari bahwa humor dan ironi bisa menjadi kabut. Kita tertawa, tetapi tidak lagi sungguh-sungguh merenungkan apa yang sebenarnya terjadi.

Di sinilah pentingnya berhenti sejenak dan bertanya:*Setelah tertawa, apa yang kita pelajari? Setelah marah, apa yang kita perbaiki?*

Jika ditelaah, kasus tumbler ini bukan soal Tuku versus kereta, bukan soal pelanggan versus petugas, bukan pula soal siapa yang benar dan siapa yang keliru.

Yang dicerminkan adalah: betapa rapuhnya perhatian kita di tengah limpahan informasi; betapa mudahnya kita tersulut oleh isu simbolik dan melupakan isu struktural; betapa mendesaknya literasi digital dan literasi emosi di era media sosial.

Pertanyaan yang lebih dalam: jika untuk tumbler kita bisa ramai se-Indonesia, apakah mungkin kita melatih diri untuk sama lantangnya ketika membicarakan transportasi publik yang aman, pendidikan yang bermutu, udara yang layak, atau kesejahteraan pekerja?

Konon, karakter bangsa tidak hanya diuji melalui cara menghadapi krisis besar, tetapi juga melalui cara menangani perkara kecil.

Tumbler yang tertinggal itu akhirnya kembali. Linimasa perlahan bergeser ke isu lain. Hidup berjalan seperti biasa.

Pertanyaannya tinggal dua:Maukah kita bercermin lebih jujur? Beranikah kita mengarahkan ulang energi digital kita, dari sekadar marah dan tertawa menjadi refleksi dan tindakan nyata?

Jika sebuah tumbler dapat mengguncang perhatian se-nusantara, bayangkan apa yang bisa terjadi bila energi sebesar itu diarahkan pada hal-hal yang sungguh menentukan masa depan bangsa.

Leave a comment