Bukan Sekadar Akuisisi: Perebutan Mesin Cerita Warner Bros Discovery


Oleh: Sigit Darmawan

Kita sering mengira perang streaming itu soal hal sederhana. Soal harga langganan. Soal siapa punya serial paling banyak.

Padahal, drama perebutan Warner Bros Discovery (WBD) di akhir 2025 menunjukkan sesuatu yang jauh lebih dalam. Yang sedang diperebutkan bukan cuma perusahaan. Bukan cuma katalog film. Yang diperebutkan adalah cerita—dan nilai yang dibawa cerita itu ke miliaran orang, termasuk ke ruang-ruang keluarga di Indonesia.

Saya tidak akan menjelaskan kompleksitas akuisi yang penuh intrik dan politis. Tetapi saya hanya ingin melihat perspektif lain tentang dampak dari proses akuisi yang sedang berlangsung saat ini.

Warner Bros bukan sekadar studio film. Ia adalah gudang imajinasi global. Di dalamnya ada Warner Bros Pictures dan Television yang memproduksi film dan serial lintas generasi, HBO dengan standar kualitas cerita global, DC Studios dengan mitologi kepahlawanannya, hingga CNN yang membentuk opini publik dunia. WBD juga menguasai gim, animasi, olahraga, dan konten nonfiksi melalui Discovery Networks.

Ketika Netflix sepakat membeli bisnis studio dan streaming WBD dengan nilai sekitar US$82,7 miliar, yang berpindah tangan bukan sekadar aset. Yang berpindah tangan adalah kendali atas cerita, informasi, dan nilai yang akan terus diulang, diperkuat, dan dinormalisasi secara global dan masuk ke miliaran layar di seluruh dunia —termasuk di Indonesia.

Tak lama kemudian, Paramount Skydance, yang disokong dana besar dari sovereign wealth fund dari kawasan Teluk, datang membawa tawaran lebih besar—sekitar US$108 miliar, tunai.
Dari luar, ini tampak seperti perang harga. Perang perebutan korporasi. Tetapi dari dalam, ini adalah perang perebutan “mesin cerita” dan perang nilai.

Pertarungan memperebutkan WBD kian memuncak. Pada mulanya ia tampak seperti adu angka dan valuasi, tetapi pelan-pelan berubah menjadi urusan politik.

Saya melihat bagaimana kesepakatan bernilai puluhan miliar dolar ini tidak lagi dibaca sebagai transaksi korporasi semata, melainkan sebagai perebutan pengaruh. Regulator mulai angkat bicara. Politisi ikut memberi peringatan.

Muncul kekuatiran tentang pemusatan kekuatan media (monopoli), tentang dominasi yang berlebihan, dan tentang siapa yang kelak mengendalikan arus cerita serta opini publik dunia. Ketika nama-nama seperti CNN ikut terseret dalam percakapan, makin jelas bahwa perebutan WBD telah bergeser: dari adu harga menjadi tarik-menarik kepentingan politik dan ideologis di panggung global.

Dari Studio ke Algoritma

Dulu, Hollywood digerakkan oleh intuisi kreatif. Produser membaca naskah. Sutradara mempertimbangkan dan mengambil risiko atas naskah cerita. Dan nilai sebuah cerita lahir dari perdebatan manusia dengan manusia.

Sekarang, arah mulai berubah. Netflix hidup dari data. Apa yang ditonton sampai habis. Apa yang paling cepat memicu emosi. Apa yang paling mudah viral. Netflix adalah ikon holywood baru.

Jika Warner dan HBO benar-benar masuk ke dalam ekosistem Netflix, maka nilai-nilai yang berkembang global adalah yang paling “ramah algoritma”. Dampaknya akan sangat terasa nyata. Konten yang cepat, emosional, dan mudah dipahami lintas budaya cenderung lebih sering muncul di layar.

Cerita yang pelan, kontekstual, atau sarat nilai lokal bisa tenggelam jika tidak “cukup menarik” bagi sistem rekomendasi global. Bukan karena ceritanya buruk. Tetapi karena tidak cocok dengan ritme algoritma.

Soft Power Baru dan Posisi Indonesia sebagai Konsumen Budaya

Selama ini kita mengenal soft power sebagai kekuatan memengaruhi melalui budaya negara. Ada Hollywood Amerika. K-pop Korea. Anime Jepang.

Namun perebutan Warner akan menunjukkan babak baru. Kini soft power juga akan dimiliki oleh platform global dan pemilik modal lintas negara.

Indonesia berada di posisi unik. Pasarnya besar. Penontonnya aktif. Generasi mudanya sangat digital. Artinya, Indonesia bukan hanya penonton, tetapi ladang subur penyebaran nilai global. Apa yang dianggap keren, normal, lucu, atau pantas di layar—cepat atau lambat—akan memengaruhi cara berpikir, berbicara, bahkan bercita-cita generasi muda Indonesia.

Nilai tentang keluarga, relasi, kepemimpinan, maskulinitas, feminitas, dan kesuksesan diserap bukan lewat kurikulum, tetapi lewat tontonan harian.

Di satu sisi, konsolidasi global membuka peluang. Platform raksasa membutuhkan konten lokal. Indonesia bisa menjadi pasar produksi penting.

Namun ada risikonya.

Jika standar cerita terlalu ditentukan oleh selera global dan algoritma, maka cerita Indonesia berisiko dipoles agar “terasa global”, bukan agar jujur pada konteks lokal. Nilai-nilai khas lokal—gotong royong, ketelatenan, kebijaksanaan kolektif—bisa kalah oleh narasi yang lebih keras, cepat, dan individualistis.

Bioskop Lokal dan Ruang Sosial Indonesia

Bioskop di Indonesia bukan hanya tempat menonton. Ia ruang sosial. Tempat keluarga berkumpul. Tempat anak muda berdiskusi. Tempat film nasional menemukan penontonnya.

Jika strategi rilis film makin condong ke streaming global, bioskop lokal bisa kehilangan sebagian perannya. Film Indonesia yang tidak dianggap “cukup besar” bisa makin sulit mendapat layar.

Menonton pun menjadi pengalaman individual, bukan pengalaman bersama. Di ponsel. Di kamar. Tanpa ruang dialog bersama. Padahal, di masyarakat seperti Indonesia, ruang bersama itu penting untuk membentuk nilai kolektif.

Lalu apa yang akan bertahan di Indonesia?

Pada akhirnya, pertarungan Netflix dan Paramount bukan soal siapa paling memiliki dana. Ini soal siapa yang akan menentukan nilai apa yang bertahan di ruang budaya global.

Nilai apa yang dianggap wajar. Nilai apa yang dianggap lucu. Nilai apa yang dianggap layak ditiru. Dan cerita adalah guru tanpa papan tulis. Ia punya kekuatan memengaruhi orang. Ia mendidik tanpa terasa.

Jika cerita yang dominan terlalu seragam, masyarakat ikut menyerap keseragaman itu. Jika cerita memberi ruang bagi keberagaman dan konteks lokal, nilai lokal punya kesempatan hidup.

Jika Netflix menang, platform teknologi global akan menguasai kerajaan cerita klasik dan menyebarkannya lewat algoritma ke miliaran layar, termasuk layar-layar di Indonesia.

Jika Paramount menang, konsolidasi studio lama yang disokong modal global akan tetap membawa arus nilai besar ke pasar lokal.

Apa pun hasilnya, satu hal pasti: ini bukan sekadar akuisisi perusahaan. Ini adalah perebutan siapa yang membentuk imajinasi dan nilai masyarakat global—dan bagaimana Indonesia akan menempatkan dirinya di dalam arus itu.

Tetapi sebagai penonton Indonesia, kita bukan sekadar konsumen. Kita adalah bagian dari ekosistem nilai.

Pilihan kita—apa yang kita tonton, apa yang kita dukung, apa yang kita abaikan—ikut menentukan cerita mana yang akan hidup dan memengaruhi kita.

Leave a comment