
Gambar: dw.com
(Catatan dari Bulgaria dan suara anak muda lintas dunia)
Oleh: Sigit Darmawan
Dalam beberapa tahun terakhir, saya makin sering menemukan pola yang sama ketika membaca berita dunia. Negara berbeda. Budaya berbeda. Sejarah politik berbeda. Namun ada satu kesamaan yang terus berulang: ketika Generasi Z bergerak, peta kekuasaan ikut bergeser.
Perubahan itu tidak selalu datang dengan letupan besar. Tidak selalu dramatis. Tetapi dampaknya nyata.
Pemerintahan jatuh. Kebijakan dipaksa berubah. Elite lama kehilangan pijakan moral.
Bulgaria adalah salah satu contoh terbaru yang menarik perhatian saya. Bangladesh menyusul dengan kisahnya sendiri. Dari Hong Kong hingga Chile, dari jalanan Eropa Timur hingga kampus-kampus Asia Selatan, anak-anak muda tampil bukan sekadar sebagai pengamat, melainkan sebagai penggerak.
Yang membuat saya tertegun, mereka tidak bergerak karena ambisi merebut kekuasaan. Mereka bergerak karena satu hal yang sangat manusiawi: rasa keadilan yang terus diabaikan dan masa depan yang terasa makin sempit.
Bulgaria: Saat Anak Muda Menarik Tanda Bahaya
Di Bulgaria, sejak 2020 hingga 2024, Generasi Z menjadi tulang punggung gelombang unjuk rasa yang menjatuhkan pemerintahan. Isunya memang klasik—korupsi, elite yang enggan berbenah, dan demokrasi yang berhenti di tataran prosedur.
Yang menarik dan berbeda dari gerakan ini adalah keteguhan anak-anak muda. Dan bukan kemarahannya.
Bulgaria konsisten menempati jajaran terbawah Uni Eropa dalam Corruption Perceptions Index dalam kurun waktu 2020-2023 oleh Transparency Internasional.
Namun bagi Generasi Z Bulgaria, laporan itu bukan sekadar angka dalam dokumen internasional. Ia menjadi pengingat keras bahwa negara yang menutup telinga terhadap suara anak muda mungkin tampak tenang hari ini, tetapi sesungguhnya sedang menimbun krisis keabsahan di masa depan.
Saya melihat satu pola yang berulang ketika Generasi Z memilih bergerak. Mereka tidak mencari jalan pintas. Tidak pula menunggu figur penyelamat. Yang mereka tempuh justru jalan panjang dan melelahkan: unjuk rasa damai, membangun tekanan opini publik, serta menolak kompromi elite yang sekadar mengganti wajah tanpa menyentuh watak kekuasaan.
Dalam liputannya sepanjang 2021 hingga 2024, Reuters menggambarkan situasi politik Bulgaria sebagai sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar soal teknis pemilu.
Pemilihan umum yang berulang-ulang, disusul jatuh bangunnya pemerintahan, mencerminkan persoalan yang lebih mendasar: runtuhnya kepercayaan publik. Secara formal, demokrasi memang masih berjalan. Namun di bawah permukaan, keyakinan warga terhadap sistem itu perlahan tergerus.
Bangladesh: Mahasiswa dan Keberanian Menjaga Nurani
Bangladesh memberi pelajaran lain. Gerakan anak muda dan mahasiswa di negara ini bermula dari satu kegelisahan yang sangat konkret. Mereka mempersoalkan sistem rekrutmen pegawai negeri yang dipandang tidak adil dan sarat kolusi.
Dari situ, tuntutan awal perlahan berkembang. Ia tidak lagi berhenti pada soal seleksi aparatur negara, tetapi melebar menjadi kritik terbuka terhadap cara negara dikelola, praktik korupsi yang mengakar, serta makin sempitnya ruang keadilan sosial.
Laporan BBC News dam Al Jazeera dari 2018 hingga 2023 menggambarkan bagaimana mahasiswa dan Generasi Z di Bangladesh tampil sebagai suara nurani publik. Mereka bukan sekadar kelompok penekan, melainkan penanda bahwa ada kegelisahan yang tak lagi bisa diabaikan oleh penguasa.
Yang menarik bagi saya, Generasi Z Bangladesh tidak bergerak karena lapar semata. Mereka bergerak karena merasa masa depan mereka dikunci oleh sistem yang tidak memberi ruang naik kelas secara adil.
Dari Hong Kong hingga Chile
Pola serupa juga terlihat di tempat lain.
Di Hong Kong, Generasi Z mulai bergerak ketika mereka merasa sesuatu yang mendasar sedang tergerus. Rasa kebebasan perlahan menyempit, sementara kecemasan tentang masa depan kian nyata.
Sejak 2019, anak-anak muda di Hongkong ini berada di barisan terdepan gelombang protes. Bukan semata karena isu pro-demokrasi atau rancangan undang-undang tertentu, melainkan karena kekhawatiran yang lebih dalam: masa depan mereka sendiri terasa tidak lagi pasti. Mereka membaca arah perubahan zaman lebih cepat dibandingkan elite politik yang mengendalikan sistem.
Sementara itu, di Chile, perubahan konstitusi lahir dari tekanan serupa. Pada 2019, kaum muda memimpin gelombang protes besar yang akhirnya memaksa negara membuka kembali fondasi hukumnya.
Ketimpangan sosial yang mengendap selama puluhan tahun menemukan jalannya ke ruang publik. Saluran aspirasi yang lama tersumbat akhirnya pecah, dan suara generasi muda menjadi pemicunya (The Guardian, 2020).
Berbeda dengan di Amerika Serikat dan Eropa Barat, Generasi Z bergerak melalui isu-isu yang sangat dekat dengan kehidupan mereka: krisis iklim, keadilan rasial, dan etika dalam penggunaan kekuasaan. Gerakan itu lahir dari ruang-ruang kelas, lalu meluas ke jalan-jalan kota. Perlahan, tetapi pasti, tekanan ini memaksa para pemimpin dunia menengok kembali apa yang selama ini mereka anggap prioritas.
Salah satu contoh paling nyata adalah gerakan Fridays for Future. Diprakarsai oleh Greta Thunberg, gerakan ini menjelma menjadi suara global anak muda. Kehadirannya mengguncang forum-forum internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan mendorong para pemimpin dunia meninjau ulang komitmen mereka terhadap krisis iklim dan pemanasan global.
Negaranya berbeda. Isunya beragam. Namun benang merahnya sama: Generasi Z tidak mau lagi menerima ketidakadilan sebagai sesuatu yang “normal”.
Mengapa Generasi Z Memilih Bergerak?
Banyak orang mengira Generasi Z bersikap ekstrem. Pengamatan saya justru sebaliknya.
Temuan Pew Research Center pada survei tahun 2018 dan pembaruan pada 2022 menunjukkan satu hal yang menarik. Di banyak negara, Generasi Z masih memegang kuat nilai-nilai demokrasi. Mereka percaya pada keadilan dan menjunjung tinggi hak asasi manusia. Nilai-nilai itu tidak hilang. Yang berubah justru tingkat kepercayaan mereka terhadap para pengelolanya.
Generasi Z sejatinya tidak sedang melawan negara. Yang mereka tolak adalah cara berpolitik yang kehilangan empati dan arah. Melissa Deckman, pakar ilmu politik, dalam bukunya The Politics of Gen Z (2024) mencatat bahwa generasi ini tidak membatasi partisipasi politiknya pada bilik suara. Mereka memadukan pemilu dengan aksi sosial, advokasi, dan berbagai bentuk keterlibatan publik lain yang mereka anggap lebih jujur dan berdampak.
Generasi Z hidup di dunia yang serba terbuka. Ketimpangan terlihat jelas di layar gawai. Ketidaktulusan cepat terbaca. Janji kosong sulit disembunyikan. Mereka tidak menentang negara. Mereka menolak politik yang kehilangan empati dan arah.
Catatan untuk Para Pemimpin Indonesia
Di titik ini, Indonesia tidak bisa merasa aman.
Generasi Z Indonesia tumbuh sebagai generasi yang kritis, akrab dengan teknologi, dan peka terhadap isu keadilan serta korupsi. Generasi ini tidak selalu turun ke jalan. Mereka aktif membentuk opini, menarik garis moral, dan memberi penilaian yang terbuka dan jujur—bahkan sering kali lebih jujur daripada yang disadari para elite.
Apa yang dipelajari dari Bulgaria, Bangladesh, dan negara-negara lain? Bukan tentang bagaimana meredam protes anak-anak muda. Namun, pelajaran terbesarnya adalah bagaimana pemimpin menjaga kepercayaan sebelum ia jatuh dan runtuh.
Kekuasaan tidak bisa bertahan hanya karena jabatan atau kemenangan di bilik suara. Semua itu penting, tetapi tidak pernah cukup. Kekuasaan perlu dijaga setiap hari—dengan kejujuran, keberpihakan yang benar-benar terasa, serta keberanian untuk terbuka menjelaskan ke mana arah bangsa ini akan dibawa.
Apa yang dituntut generasi Z bukan pemimpin yang sempurna. Tetapi pemimpin yang tulus dan masuk akal. Mereka hanya ingin tahu ke mana bangsa ini sedang diarahkan. Mereka juga ingin memastikan bahwa dalam perjalanan itu, ada ruang bagi mereka untuk ikut melangkah, bukan sekadar menjadi penonton.
Sejarah di banyak negara menunjukkan pola yang mirip. Ketika suara Generasi Z diabaikan terlalu lama, perubahan tidak pernah benar-benar berhenti. Ia hanya menunggu waktu. Dan saat perubahan itu datang, ia sering hadir dengan caranya sendiri—di luar kendali pusat kekuasaan, di luar skenario yang disiapkan para elite.