Category Archives: Personal

Kepahitan itu telah pergi

Sabtu siang, 3 Maret 2007

Ketika aku sedang bergairah dengan internet boot camp ku, tiba-tiba telepon genggam yang aku taruh di saku celana bergetar. “Wah, ada pesan masuk!”, batinku. Karena pikiran dan konsentrasi sedang tertuju kepada apa yang disampaikan oleh seorang pakar internet, maka pesan itu aku abaikan.

Dalam jeda acara, aku membaca pesan masuk, yang ternyata “Pak S telah meninggal dunia tadi siang. Ibu S histeris….”. Tertegun aku membaca pesan singkat itu, setengah tidak percaya. “Oh my God…”. Hanya itu komentarku. Aku teringat 2 hari lalu anak saya, tata, masih di sapa dengan ramah oleh pak S itu. Dia adalah satu-satunya tetanggaku yang dekat dengan anakku .

Aku juga kembali teringat akan percakapanku dengan pak S di pagi hari, beberapa bulan yang lalu. Ketika dengan wajah sedih pak S bercerita tentang persoalan hidupnya, persoalan keluarganya. Sesudah percakapan terakhir itu, aku jarang bertemu. Sesekali berpapasan, tanpa sempat untuk berbicang-bincang labih lanjut.

Dan, pak S itu telah pergi. Membawa kepahitan hidup yang selama ini menggelayutinya. Juga menggelayuti keluarganya. Aku tidak tahu apakah kepahitan telah berkurang di hari terakhirnya itu. Jika belum, mungkinkah kematian adalah jalan terbaik untuk memutuskan kepahitan itu? Ah, tentunya tidak. Tuhan masih sanggup mengubah hati manusia, betapapun kerasnya hati manusia. Tuhan bisa menyembuhkan luka hati yang paling parah sekalipun. Jadi selama manusia masih hidup, ia punya kesempatan untuk untuk memulihkan hubungan dengan orang lain yg telah hancur. Hanya jika Tuhan menyentuh hati dan nurani manusia.

Tercenung aku untuk sesaat di tengah gegap gempita sorak sorai peserta boot camp yang sedang dimotivasi oleh pembicara yg karismatis itu. Tercenung, oleh kesadaran bahwa aku memiliki kesempatan untuk memperbaiki hubungan dengan orang-orang yang di dekatku. Ah, ternyata peristiwa ini memberikan pelajaran yang berharga untukku. Tuhan memberikan juga kesadaran ke hati dan pikiranku.

Aku tidak tahu, apakah pak S pergi dengan kepahitan yang sudah berkurang. Semoga jeritan histeris istri dan anaknya, memberikan tanda bahwa mereka sudah berdamai dengan kepahitan itu.

Sabtu malam, 3 Maret 2007

Bergegas aku ke rumah ibu S, sepulang dari boot camp yang berakhir sampai larut malam itu. Aku hanya bisa mengucapkan kesedihan atas kepergian pak S dan minta maaf tidak bisa membantu kerepotan pada saaat pemakaman sore hari itu.

Wajah ibu S yang memerah dan mata membengkak sudah cukup menyatakan kesedihannya yang mendalam. Anak lelakinya memeluk aku dan meminta aku memaafkan semua kejadian dalam keluarganya yang sudah mengganggu para tetangganya – Jujur aku memang pernah terganggu kalau pak dan Ibu S itu bertengkar. Suara pertengkaran itu bisa menembus dinding rumahku dan menimbulkan kerisauan yang amat dalam. Sempat terpikir olehku untuk pindah rumah, karena risau akan dampak pertengkaran mereka ke anak-anakku.

“Sudahlah…”. Hanya itu yang aku bisa katakan.

Aku memang tidak tahu apakah kepahitan itu telah pergi karena kematian itu. Ataukah kepahitan itu pergi, sesaat sebelum kematian itu. Hanya keluarga itu yang tahu. Aku hanya bisa berharap. Semoga terjadi yang kedua.

KEPAHITAN

Oleh: Sigit. B. Darmawan 

Rabu, 10 Januari 2007

Mendadak pagi ini aku teringat tetanggaku. Seorang bapak, yang berusia kurang lebih 50 tahun. Dia sudah beristri dan beranak dua. Aku tahu ada masalah keluarga yang sangat berat, yang dihadapinya. Sudah satu bulan ini aku tidak bertemu dengannya. Ah, apa khabarnya sekarang!

Aku teringat pertemuan dengannya saat bulan puasa tahun lalu. Di pagi hari saat aku bersiap untuk ke kantor, dia berjalan gontai kearahku. Wajahnya kelihatan murung. Tapi masih dia paksakan untuk tersenyum kepadaku. Aku menyapanya sejenak. Saat aku mulai akan masuk ke mobilku, tanpa terduga dia berbalik. Dengan wajah sedih, dia berkeluh kesah tentang dirinya, dan keluarganya. Betapa terlantarnya dia saat ini di tengah keluarganya sendiri. Istri dan anaknya sudah “mengusir” nya untuk tinggal di dalam rumah, sehingga dengan terpaksa dia harus tidur di depan rumahnya atau emperan rumah tetangga yang kosong.

Aku sudah menduga-duga sebelumnya. Karena dia sering bertengkar dengan istrinya, dengan suara yang sangat keras. Istrinyapun, dengan dibantu anaknya laki-laki, berteriak tidak kalah kerasnya. Tidak siang, tidak malam. Sebenarnya aku dan keluargaku sudah sangat terganggu dengan hal pertengkaran mereka. Demikian juga anak-anakku. Tapi apa mau dikata, suami istri itu kelihatannya sulit berdamai.

Pagi itu lelaki itu bercerita tentang tersingkirnya dia dari keluarganya, sejak dia terkena stroke sampai dia harus keluar dari pekerjaannya. Air matanya mulai berkaca-kaca. Dengan gemetar, dia membuka dompetnya. Dompet yang sudah sangat lusuh. Tidak banyak isinya. Tapi ada gambar lelaki muda yang sangat gagah dan tampan. “Ini adalah photo saya 5 tahun lalu”, katanya dengan menyisakan sedikit kebanggaan. Aku melihat sejenak foto itu, dan mencoba membandingkannya dengan yang sekarang. Betapa berbedanya! Raut wajah yang kelihatan tua, dengan kulit yang kecoklatan dan berkeriput. Betapa waktu 5 tahun sudah mengubah penampilannya secara drastis.

Lelaki itu bercerita betapa hidupnya sudah penuh dengan kepahitan terhadap istrinya. Konflik dalam keluarga yang sudah sedemikian parah telah menggerogoti tubuhnya, merusak penampilannya, dan akhirnya menjadi lelaki yang tanpa daya. Dicaci maki oleh istrinya, bahkan oleh anaknya sendiri. Mungkin saja lelaki itu juga sudah membuat kesalahan kepada keluarganya. Dan tidak segera memperbaikinya. Benih kepahitanpun tertanam.

Kepahitan itu sungguh merusak. Sumbernya bisa bermacam-macam. Bisa karena dikecewakan, disakiti, dihina, tidak dihargai. Dan ini bisa sengaja atau tidak disengaja. Sadar atau tidak sadar. Yang perlu kita lakukan adalah introspeksi, peka dengan reaksi orang, hati-hati dalam berkata dan bertindak, pupuk rasa menghargai, rendah hati untuk meminta maaf dan memaafkan.

Maaf. Itulah kunci untuk memulihkan kepahitan. Bersedia untuk memaafkan orang yang sudah menanam kepahitan dalam hidup kita. Dan bersedia untuk meminta maaf kepada orang lain, supaya tidak tumbuh kepahitan dalam diri orang lain karena tindakan kita.
Namun “empat huruf” itu ternyata tidak mudah dilakukan. Perlu kebesaran jiwa, kedalaman berpikir dan kerelaan hati untuk mengucapkan kata “maaf”. Berdamai dengan diri sendiri akan menjadi langkah awal untuk pengampunan kepada orang lain.

Ah! Lelaki itu sudah mengajarkan sesuatu kepadaku. Walaupun aku tidak mampu membantu persoalannya, tetapi setidak-tidaknya pemberian satu kaleng biskuit untuk berbuka puasanya mudah-mudahan meringankan kepahitan hidupnya. Dan tentu saja aku berdoa untuknya dan keluarganya. Tuhan bisa dan sanggup untuk mengubah hati manusia.