“Kalau ibu mengeluarkan air mata, karena itulah salah satu kekuatan yang bisa membuat ibu menjadi tegar dan kuat menghadapi berbagai pergumulan hidup”, kata ibu saya beberapa hari yang lalu ketika saya berbincang-bincang santai dengan ibu saya. Kesempatan Natal tahun ini memang saya pergunakan untuk mengantar ibu saya kembali kerumah, setelah sekian lama menemani adik saya yang sedang dalam perawatan karena sakit di Jakarta.
“Itulah cara ibu mengatasi berbagai himpitan dan pergumulan hidup yang tidak habis-habisnya”, lanjut ibu saya sambil tersenyum. Saya terharu untuk beberapa saat mendengar penjelasan ibu saya. Selama ini saya sering melihat ibu menangis, apalagi kalau berbincang-bincang dengan saya. Tetapi baru kali ini saya mendapatkan penjelasan tentang arti tangisannya selama ini.
“Indonesia Menangis” itulah headline berita di sebuah stasiun Televisi swasta Indonesia ketika dalam “Breaking News”nya melaporkan bencana maha dashyat gempa bumi dan gelombang pasang (Tsunami) tanggal 26 Desember 2004 yang berpusat di Aceh, dan melanda 11 negara di kawasan Asia Selatan. Gempa dengan kekuatan 9.0 skala Richter dan gelombang pasang setinggi 5 m, diperkirakan menewaskan lebih dari 80.000 orang (BBC News 30 Desember 2004), dengan 45.000 korban berada di negara Indonesia. Tangisan merebak di penghujung akhir tahun ini akibat bencana yang tidak terduga, dan yang memang tidak mampu diduga oleh manusia tersebut. Dalam sekejab bencana itu
telah mengakibatkan kerugian yang luar biasa, penderitaan dan trauma bagi masyarakat yang menjadi korban, melumpuhkan aktivitas masyarakat dan pemerintahan, serta menimbulkan potensi penderitaan lainnya pasca gempa.
Jeritan masyarakat korban bencana tersebut terekam dalam berbagai media nasional dan internasional, mengugah perasaan hati dan rasa kemanusiaan kita yang paling dalam, membangkitkan rasa solidaritas dan kebersamaan antar sesama anak bangsa. Jeritan penuh kepiluan dan kegusaran “Kenapa ini mesti terjadi?”.
Tangisan bangsa ini sesungguhnya belumlah kering. Masyarakat belum pulih dari trauma gempa sebelumnya di Alor, NTT dan Nabire yang juga telah memporakporandakan kehidupan di daerah gempa. Bangsa ini tidak pernah berhenti didera berbagai penderitaan dan bencana. Tercatat sejak tahun 1998 telah terjadi 593 bencana alam dan banjir, yang mengakibatkan kerugian hampir 500 milyar dan korban jiwa hampir 2000 orang (Bali Post, 10 Ferbruari 2004). Dilihat dari jumlah korban dan kerugian, maka bencana Tsunami (Tsunami Disaster) tanggal 26 Desember 2004 kemarin merupakan bencana alam terbesar yang pernah dihadapi bangsa dengan tingkat kerugian, kerusakan, dan korban yang sedemikian besar.
Belum lagi bencana dan penderitaan lainnya yang diakibatkan oleh kesombongan dan keserakahan manusia akan kekuasaan, kedudukan, kehormatan dan ekonomi. Peristiwa Kudatuli 1997, kerusuhan mei 1998, konflik Poso 1998, Ambon berdarah 1999, konflik Sambas 1999, kerusuhan NTT 2000, adalah bencana dengan aktor manusia sebagai pengendalinya. Bencana jenis ini jauh lebih mengerikan karena mengakibatkan terkoyak-koyaknya hubungan antar masyarakat, karena dipenuhi perasaan saling curiga, dendam, dan keinginan untuk menghancurkan orang lain.
Kita memang perlu menangis, dan harus menangis. Supaya bangsa ini mendapatkan kekuatan dari tangisannya, supaya bangsa ini belajar dari tangisannya. Dengan menangis, pikiran dan hati kita diasah kembali untuk menyadari berbagai kesalahan dan ketidakmampuan kita dalam merespon tanda-tanda jaman. Melalui tangisan, bangsa ini bisa disadarkan dari keterpurukan dan kehinaannya sebagai bangsa, yang senantiasa mengabaikan keadilan dan hak-hak manusia. Hanya dengan tangisanlah, kita baru menyadari bahwa kita tidak memiliki kekuatan apapun, apabila diperhadapkan
dengan kekuatan dari Tuhan.
“Ketika kudengar berita ini, duduklah aku menangis dan berkabung selama beberapa hari…(Nehemia 1:1)” merefleksikan situasi yang sama ketika Nehemia menyadari bencana yang sedang dihadapi bangsanya. Bencana yang sungguh dahsyat dihadapi oleh bangsa Israel yang berada dalam pembuangan tentang kondisi negeri Yerusalem. Kerusakan total di negeri Yerusalem akibat bencana peperangan oleh kerajaan Babelonia tahun 586 S.M. Negeri Yerusalem tinggal puing-puing reruntuhan. Dibutuhkan dana dan usaha yang sangat besar untuk membangun kembali tembok Yerusalem. Nehemiapun menangis. Untuk sesaat Nehemia tidak tahu apa yang harus dilakukannya, kecuali menangis dan bekabung. Terlalu berat beban dan penderitaan bangsanya, sehingga perlu kekuatan dan ketetapan hati untuk menghadapi situasi tersebut. Tangisan Nehemia memberikan pembaharuan, kesadaran, dan ketegaran bagi Nehemia dalam situasi tersebut. Tangisan Nehemia juga memberikan tempat kepada Tuhan untuk menyatakan otoritas dan kehendakNya. Setelah masa berkabung lewat, dengan penuh keteguhan dan ketegaran Nehemia mulai bekerja membangun puing-puing reruntuhan tembok Yerusalem.
Menangislah bangsaku. Tangisilah reruntuhan bangunan, dan bergelimpangannya mayat-mayat di berbagai tempat. Tangisilah orang-orang yang kehilangan anggota keluarganya, yang tersapu gelombang maha dasyat itu. Koyakanlah baju kesombongan, kebanggaan, dan kekerdilan kita. Menangislah kepada DIA, Sang Pemilik Otoritas Kehidupan, agar kita menyadari bahwa kita sebenarnya tidak memiliki kuasa apapun. Biarlah tumbuh kesadaran akan berbagai kesalahan bangsa ini yang tidak menghargai berbagai kemajemukan masyarakat dan tidak memperhatikan keadilan diantara sesama anak bangsa.
Kedepan bangsa ini akan menghadapi masa-masa yang berat. Bukan saja karena 12 Trilliun biaya rehabilitasi infrastruktur pasca bencana Tsunami (Kompas 30 Desember 2004), tetapi juga bagaimana bangsa ini menata kembali puing-puing bencana yang mengakibatkan penderitaan rakyat di segala aspek kehidupan. Membangun kembali harmonisasi kehidupan bermasyarakat dan bernegara, yang mulai menemukan “rasa solidaritas” nya dimasa bencana ini.
Membangun rasa saling menghargai dalam pluralitas sosial, budaya, politik, dan ekonomi. Dengan tetap mengedepankan rasa kebersamaan, persatuan, dan kesatuan bangsa. Memang tidaklah mudah menatanya. Tetapi tangisan bencana Tsunami ini semoga mengajarkan kepada bangsa kita bagaimana menjalaninya.
Selamat datang tahun 2005