Monthly Archives: July 2007

Tumpangan bagi wanita Yahudi

Oleh: Anonim 

Konon pada masa-masa anti kulit berwarna di Eropa, banyak restoran  Dan hotel yang tidak mau menerima orang keturanan Yahudi untuk makan atau menginap.

Pada suatu hari seorang wanita keturuan yahudi yang telah menjadi  Katolik ditolak saat akan menginap di satu hotel dalam perjalanannya. Pemilik hotel dengan sinis menolak. “Kami tidak menerima Yahudi, katanya.

“Saya memang keturunan Yahudi tetapi sudah Katolik, jawab wanita tersebut.

“Kalau begitu apakah anda tahu mengenai Yesus?, tanya pemilik hotel.

“Ya” saya tahu jawab wanita itu. “Coba ceritakan sedikit, biar saya percaya” sambung pemilik hotel.

Dengan semangat 45, wanita Yahudi itu bercerita mengenai Yesus: ” Yesus lahir di Betlehem daerah Yudea, ibunya Maria dan bapaknya Roh Kudus, IA lahir di kandang domba yang hina, karena orang-orang seperti andalah  yang tidak mau memberikan tumpangan bagi seorang wanita Yahudi”.

Tempatnya Zakeus

Oleh: anonim 

Seorang Majelis yang tidak pernah aktif melayani di gereja, secara mendadak ditunjuk untuk memimpin ibadah pada hari Minggu berhubung karena pak Pendeta sedang tidak berada di tempat.

Dalam keadaan bingung dan tidak persiapan apapun dia ingat cerita dalam Lukas 19 mengenai Zakheus. Acara ibadah berlangsung cukup baik, sampai pada saat renungan, pak Majelis mulai cerita mengenai Zakheus, begini:

“Yesus tiba di kota Yerikho dan orang banyak ingin melihat Yesus, termasuk seorang pemungut cukai yang pendek badannya. Nama pemungut cukai itu adalah Lazarus!”.

(Jemaat semua pada bingung dan mulai bisik-bisik, karena mereka tahu bahwa sebenarnya yang dimaksud dalam cerita tersebut  adalah Zakheus-pemungut cukai bukan Lazarus. Majelis lain yang tahu akan kekeliruan ini mendekati mimbar dan membisikan kepada kepada majelis tersebut, bahwa sebenarnya bukan Lazarus, tetapi Zakheus).

Namun Mejelis tersebut tetap meneruskan  bercerita. “Karena tubuhnya yang pendek dan banyak orang yang ingin melihat Yesus, maka Lazarus memanjat ke atas sebatang pohon Ara supaya ia dapat melihat Yesus.

Kemudian saat Yesus lewat di bawah pohon Ara dan memandang ke atas, Yesus berkata “Hai Lazarus, turunlah dari   turunlah dari pohon Ara itu , karena itu bukan tempatmu, itu tempatnya Zakeus””

Mulailah Dengan Bertindak

Dalam “Perumpamaan Tentang Orang Samaria Yang Baik Hati”, terjadi perbincangan menarik tentang “siapakah sesama manusia” antara orang Farisi dengan Yesus. Perbincangan ini terjadi, ketika orang Farisi menanyakan tentang hal apakah yang bisa dilakukan untuk memperoleh hidup kekal. Yesuspun menjawab dengan mengacu kepada yang tertulis di kitab “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dan kasihilah sesamamu manusia…”. Ketika orang Farisi mempersoalkan tentang “siapakah sesama manusia”, Yesus tidak memberikan jawaban langsung tentang definisi tersebut, tetapi memberikan sebuah perumpamaan yang menarik tentang orang Samaria yang baik hati (kisah lengkapnya bisa dilihat di kitab Injil Lukas 10: 25-37).

Bagi orang Farisi mempersoalkan “siapa sesama manusia” itu merupakan suatu hal penting dan perlu kejelasan. Tetapi tidak bagi Yesus. Kasih adalah kasih. Kasih itu tidak memandang manusia. Itu tidak perlu didefinisikan. Orang Samaria dalam perumpamaan tersebut adalah contoh orang yang tidak “mendefinisikan” atau memikirkan seperti apa dan siapa “sesama manusia” itu. Dia tidak berpikir dan berdebat berbagai teori tentang manusia. Tetapi yang dilihat oleh orang Samaria adalah kebutuhan manusia untuk dikasihi. Tidak peduli jika “mungkin” yang ditolong adalah musuhnya.

Di akhir perumpamaan Yesus bertanya kepada orang Farisi, siapakah diantara ketiga orang – orang Farisi, orang Lewi, dan orang Samaria – yang menunjukkan belas kasihan kepada sesama. Maka bisa dibayangkan raut muka orang Farisi yang malu dan tidak punya pilihan jawaban selain menunjuk kepada orang Samaria yang sudah menolong dan berbuat kebaikan tersebut. Malu, karena selama ini mereka berkutat banyak ke hal-hal yang bersifat teoritis, dan bukan praktis. Sesuatu perintah yang sedemikian jelas dan sederhana, tetapi ingin diperdebatkan secara panjang lebar. Tentu saja alasan memperdebatkan itu bukan karena ingin memahami perintah itu lebih dalam, tetapi karena ingin mempertahankan “budaya basa-basi”nya itu.  Apabila ditilik jauh kedalam,  motivasi yang sebenarnya adalah “keengganan untuk bertindak” karena konsepsi mereka tentang “siapa sesama itu” berbeda dengan perintah Yesus itu. Orang Farisi lebih peduli dan mempersoalkan tentang konsepsi sebuah perintah, dibanding mempersoalkan bagaimana segera bertindak. Pemahaman yang dalam terhadap sesuatu, tidak menjamin sebuah tindakan konkrit akan dilakukan. Yesus mengajarkan untuk memulai dengan melakukan suatu perintah itu yang sederhana itu, dan bukan mempersoalkannya.

Pelajaran penting dari perumpamaan ini adalah “mulailah dengan bertindak”. Seringkali kita tidak bersedia dan tidak mau bertindak, karena kita terlalu sibuk dengan “definisi” dan hal-hal teoritis yang justru menghambat tindakan kita. Kita menunda-nunda berbuat sesuatu yang konkrit, dengan alasan ingin mendapatkan kejelasan terhadap sesuatu. Ini tidak berarti kita mengabaikan berbagai pertimbangan dan rasio dalam memutuskan suatu tindakan. Tetapi jika hal itu menghambat kita dalam bertindak, maka mungkin memang kita perlu “mengesampingkan” terlebih dahulu berbagai perdebatan dan pergulatan pikiran yang menyita energi kita tersebut, dan “mulai bertindak”. Tentu saja, kita bertindak dalam batas-batas pengertian yang dipahami saat itu. 

Sejalan dengan tindakan tersebut, kita bisa belajar dan merenung-ulangkan semua proses dan pertimbangan, supaya ada perbaikan dalam tindakan selanjutnya. Jadi proses “memahami sesuatu” itu berjalan seiring dengan proses “bertindak”. Tetapi “mulai bertindak” adalah langkah awal untuk sebuah perubahan dan kemajuan hidup kita. Berani?

Piala Asia dan Rasa Kebersamaan

Gemuruh riuh rendahnya dukungan para penyemangat kesebelasan nasional Indonesia sungguh luar biasa. Tanpa batas dan sekat diantara manusia Indonesia, semua berbaur memberikan dukungan dengan penuh kebersamaan dan solidaritas untuk keberhasilan tim sepakbola. Rasanya sudah cukup lama kebersamaan seperti ini tidak terasakan lagi di berbagai even olah raga. Bulutangkis yang pernah menyatukan manusia Indonesia, sudah tidak keras lagi gaungnya. Ini sejalan dengan kemorosotan prestasi bulutangkis yang sudah sampai titik nadir. Rasa kebanggaan akan olah raga satu ini sudah mulai memudar. Rasanya hampir sebagian besar anak muda indonesia sudah tidak mampu lagi menghafal pemain bulutangkis yang sekarang.

Sepakbola adalah sebuah olah raga global yang mampu menyihir milyaran manusia – termasuk jutaan manusia Indonesia – untuk melupakan sejenak semua problematika kehidupan manusia. Olah raga ini juga mampu menyatukan solidaritas manusia dan rasa kebersamaan setiap bangsa. Piala Asia 2007 ini memberi bukti tentang hal ini. Untuk sejenak, masyarakat Indonesia melupakan perihnya kelangkaan bahan bakar minyak, kenaikan minyak goreng, belum beresnya penanganan korban lumpur lapindo, kebingungan tentang perjanjian pertahanan Indonesia-Singapore, sampai riuh rendahnya kasus “Ghost Voter” di pilkada Jakarta. Semua perhatian terpaku kepada perjuangan tim sepakbola nasional di laga piala Asia.

Berbagai pertandingan ujicoba yang dilakukan sebelum digelarnya even inipun sudah menyita perhatian masyarakat bola. Semua ingin menyaksikan tim nasional berlaga memberikan yang terbaik, dengan hasil yang maksimal. Semua menjadi “demam”. Energi masyarakat yang keluarpun sungguh luar biasa besarnya, hanya untuk menumbuhkan kebanggaan sebagai negara yang mampu “unjuk gigi” sedikit dalam percaturan bola Asia. Di dua pertandingan yang sudah dilakoni oleh tim sepakbola kita, energi yang luar biasa besar itu sudah terbukti mampu dihimpun.

Saya berandai-andai, jika energi yang sama kita gunakan untuk memecahkan berbagai persoalan negara ini, alangkah besar dampaknya. Kita perlu energi dan solidaritas masyarakat yang besar untuk berjuang memerangi kemiskinan, korupsi, ketidakadilan, dan membangun kesejahteraan bersama. Pemimpin negara kita harus mampu memanfaatkan dan menggalang energi masyarakat yang sedemikian besar ini untuk membangun kehidupan yang lebih baik, sejahtera, adil, dan tanpa terkotak-kotak oleh keberagaman yang kita miliki. Justru energi yang berasal dari keberagaman itulah yang akan “meledakkan” potensi kebersamaan untuk berjuang bagi berbagai solusi persoalan bangsa. Slogan “Bersama kita bisa” masih relevan terus diperjuangkan. Bravo Indonesia

Turun Gunung

Presiden menangis mendengar penuturan perwakilan korban lumpur “ganas” lapindo di cikeas beberapa saat lalu. Tidak hanya menangis, presiden berjanji akan “turun gunung” untuk memastikan proses penyelesaian ganti rugi terhadap masyarakat korban lumpur tersebut segera selesai.  Turun gunungnya presiden berwujud dengan berkantor di “tempat berjarak 15 km dari semburan lumpur”, dan melakukan koordinasi dengan pimpinan lapindo untuk pemecahan masalah tersebut. Presidenpun memberi tenggat waktu 10 hari kepada lapindo untuk menyelesaikan pembayaran uang muka 20 persen ganti rugi. Itulah makna “turun gunung” bagi presiden.

Seorang pendekar silat yang “mumpuni” terpaksa turun gunung, ketika di dunia kacau balau oleh ulah pendekar-pendekar “hitam” dan tidak ada seorang pendekar putihpun yang mampu menandinginya. Sang pendekar “terpaksa” turun dari gunung – sebuah tempat kompemplasi baginya untuk menjauhkan diri dari hiruk pikuknya problem kehidupan, dan mencari makna kehidupan.

Ketika dulu presiden Soeharto mengutarakan keinginannya untuk “lengser keprabon, mandheg pandhita”, dia memaknainya sebagai undur dari  berbagai problematika masyarakat langsung dan menjadi penasehat kehidupan bermasyarakat belaka. Soeharto memaknainya sebagai “naik gunung”. Berlawanan makna dengan “turun gunung”.

Jika presiden SBY hendak turun gunung, tentu maksudnya adalah karena adanya kekacauan dalam penyelesaian ganti rugi korban lumpur lapindo, akibat tidak mampunya pejabat bawahannya menangani masalah tersebut, maka sang presiden memandang perlu dirinya untuk terjun langsung dalam proses tersebut. Dalam konteks komunikasi massa, tindakan presiden SBY ini ingin menjaga citra dirinya, sebagai presiden yang peduli dengan situasi masyarakat korban lumpur tersebut dan “tidak bersalah” dalam kekusutan ganti rugi tersebut. Dan bahwa tidak kunjung terselesaikannya ganti rugi tersebut, lebih disebabkan karena laporan yang diterima dirinya tidak seperti kenyataannya – alias abs; bahwa pejabat dibawahnya tidak kompeten menyelesaikan masalah tersebut, bukan dirinya; bahwa instruksi yang diberikan kepada menteri-menteri terkait tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkannya.

Kembiguan sang presiden ini semakin menegaskan sosok dirinya sebagai sang pemimpin yang “peragu dan tidak tegas” dan hanya peduli dengan citra dirinya. Bukankah tanggung jawabnya sebagai presiden, mengharuskan dirinya untuk untuk tetap bersentuhan dengan berbagai persoalan masyarakat secara riil, bukannya sedang di “gunung” untuk bertapa dan melihat dari kejauhan? Bukankah seorang presiden harus merasakan denyut nadi kehidupan rakyat, supaya mampu memimpin rakyat dengan negara ini dengan “tepat” dan “benar”? Bagaimana bisa selama satu tahun sejak lumpur meluber membenamkan kehidupan masyarakat porong, presiden “tidak sadar” bahwa berbagai persoalan terkait dengan “bencana lumpur” tersebut, sama sekali belum terselesaikan?

Baiklah, mungkin sang presiden juga sudah memberikan instruksi kepada menteri-menteri terkait, bahkan sudah membentuk tim – belakangan menjadi badan – penanggulangan lumpur sidoarjo. Tetapi kasus lapindo ini sudah lama dan menjadi kasus nasional, kenapa perhatiannya sangat minim? Dan media pun secara gencar memberitakan perkembangannya, termasuk berita “nglurug”nya warga sidoarjo ke ibukota beberapa saat lalu. Lalu informasi apa lagi yang dibutuhkan presiden untuk bersikap tegas terhadap bawahannya yang tidak mampu bekerja sesuai dengan instruksi dirinya dan memberi perhatian maksimal terhadap hal ini? Bukankah berita-berita yang ada sudah mengindikasikan bahwa ada “sesuatu yang tidak beres” dalam kasus lapindo ini. Janganlah kasus lapindo ini menjadi kasus yang terlunta-lunta, seperti kasus “PHK’nya PT Dirgantara Indonesia; yang belum terselesaikan sampai sekarang.

Jika presiden SBY adalah seorang yang ingin menjaga citra, maka jadikanlah kasus lapindo ini untuk memperbaiki citra, dengan menyelesaikan dengan segera dan tanpa pandang bulu – termasuk bulu salah seorang menterinya, yang empunya lapindo. Ketidakmampuan dan ketidakmauan presiden untuk menyelesaikan persoalan lapindo ini secara tegas, akan menyimpan “bara api” dalam sekam kehidupan masyarakat, dan menunggu waktu terjadinya “pergolakan sosial” yang lebih besar dampaknya. Tentu saja kita tidak menginginkan hal itu terjadi. Terlalu mahal ongkosnya.

Come on mr presiden!

 

“Ayo Benahi Jakarta” vs “Jakarta Untuk Semua”

Slogan itu yang muncul dalam berbagai poster dan spanduk yang akhir-akhir ini marak – walaupun kampanye pilkada jakarta baru mulai tanggal 22 juli – di berbagai belahan ibu kota. Entah siapa yang memulai duluan memasang slogan “provokatif” di berbagai tempat itu, yang jelas kedua kubu bersikeras untuk tidak menurunkannya, jika hanya sepihak.

“Ayo benahi jakarta” adalah sebuah slogan strategis dari kubu adang-dani dalam memanfaatkan problematika jakarta yang tidak kunjung terselesaikan. Kemacetan, banjir, kesempatan kerja, adalah problem-problem utama yang memang menjadi menjadi keluhan dan hambatan warga ibu kota. Betapa tidak, banjir jakarta awal ferbuari 2007 lalu sungguh-sungguh menjadi bencana yang menimbulkan kerugian milyaran rupiah, lumpuhnya perekonomian ibu kota, terhentinya aktivitas dan sendi-sendi kehidupan warga (termasuk pendidikan), serta perasaan tramumatik akibat tidak memadainya penanganan banjir oleh pemerintah ibu kota. Belum lagi kemacetan yang membuang begitu banyak energi minyak bumi, mengurangi produktivitas warga, dan belum lagi  penyakit stres yang harus dihadapi warga. Sungguh jeli! Adang-dani mengambil mementum “kebosanan” masyarakat jakarta akan problem kesehariannya yang tak kunjung terselesaikan. Dengan warna oranye, kebanggaan kesebelasan persija, Adang-dani meneriakan slogan atas ketidakbecusan pemerintah daerah sekarang dalam mengelola dan mengurus kota jakarta.

Tentu slogan itu masih sebatas janji. Tidak terungkap sama sekali bagaimana janji itu akan direalisasikan. Warga yang cerdas, pasti akan bertanya bagaimana Adang-dani mengatasi keruwetan lalu lintas ibu kota dan banjir. Jika memang sudah memiliki konsep dan rencana, Adang-dani harus memaparkannya. Tentu warga akan melihat dan menganalisa apakah konsep dan rencana itu realistis atau tidak. Kalau realistis, bagaimana menghimpun potensi dan partisipasi warga untuk bekerja mensukseskan rencana itu. Salah satu bentuk partisipasi warga yang paling berat dan sulit untuk dikerjakan adalah membangun sikap disiplin warga. Inilah problematika utama banjir dan kemacetan. Tetapi bagian inilah yang paling sulit yang harus dilalui Adang-dani, jika ingin dipilih menjadi gubernur dan wakil gubernur dki jakarta. Sebuah “mission impossible” yang sedang dibuat “possible”. 

Lain adang-dani, lain lagi fauzi-prijanto. Slogan “Jakarta untuk semua” terasa menjadi slogan yang hambar. Tanpa ada “stressing” yang ingin disampaikan. Memang ide yang akan diusung adalah bahwa kota jakarta terbuka untuk semua komunitas, golongan, suku, dan kepentingan.  Dan konsekuensi dari itu adalah kemungkinan perbenturan sosial dan budaya. Tentu ini adalah sebuah fakta. Tetapi fauzi-prijanto ingin menyampaikan pesan bahwa karena keterbukaannya itu,  jakarta harus dimaknai sebagai sebuah model kota yang pluralis dimana ada penghargaan dan kesempatan untuk semua golongan dan kepentingan. Slogan ini ingin meng-“counter” ketakutan dari sekelompok golongan tentang kemungkinan adang-dani melakukan “penghijauan” jakarta, yang membuat kota jakarta tidak lagi plural.

Sayang sungguh sayang, slogan “mulia” itu ternoda oleh sikap primordial dari kubu fauzi-prijanto. Bagaimana tidak ternoda, jika isu yang ditonjolkan untuk mengangkat sosok fauzi adalah isu “anak betawi”? Berbagai iklan di televisipun tak urung menegaskan sikap primordial tersebut. Jika ingin menekankan wajah plural jakarta, maka janganlah mengusung isu-isu primordial tersebut. Warga akan melihat sebuah standar ganda dari sang calon pemimpin jakarta.

Siapa pilihan anda? Wallaualam. Keduanya tidak menjanjikan sesuatu.