Nurdin Halid, selaku ketua PSSI, pernah mencanangkan target lolos di Olimpiade 2012 dan Piala Dunia 2014. Sebuah target yang prestisius, mengingat kondisi sepakbola indonesia yang terpuruk saat ini. Membangun suatu kesebelasan nasional yang tangguh sungguh tidak mudah, komplek, dan perlu proses. Di dalam proses itu terkandung nilai-nilai yang menjadi semangat, ciri khas, dan identitas suatu bangsa. Karena itu kemajuan olah raga di suatu negara amat dekat dengan nilai-nilai yang menjadi acuan dalam mengelola kehidupan berbangsa dan bernegara.
Amerika maju dalam berbagai bidang olah raga, karena nilai demokratis yang diterapkannya mampu menggalang seluruh potensi rakyatnya. Kesempatan dan peluang diberikan seluas-luasnya kepada seluruh warganya, tanpa diskriminatif, untuk berpartisipasi dalam membangun kejayaan Amerika di bidang olah raga. China adalah kekuatan baru di bidang olah raga dunia. Pada Olimpiade 2004 di Athena, China mampu meraih posisi kedua dalam perolehan medali. Kemajuan China di bidang olah raga tidak terlepas dari kemampuan negara itu dalam membangun kekuatan jati diri nya sebagai bangsa yang disiplin (dalam konteks ini pemerintah militeristik ada gunanya), konsisten (contoh dalam pemberantasan korupsi), dan bekerja keras. Walaupun olah raga sepakbola belum menunjukkan geliat yang signifikan di pentas dunia, tetapi rasa-rasanya itu hanya tinggal menunggu waktu saja.
Singapura adalah salah satu negara yang maju dalam persepakbolaan, dan semakin di segani di asia tenggara. Ini sejalan dengan kemampuan ekonomi negara tersebut yang semakin maju, yang dilandaskan kepada nilai kerja keras dan ketertiban. Bagaimana dengan negara Afrika yang masih banyak yang belum maju, namun mampu menghasilkan olahragawan-olahragawati yang menguasai lomba lari dan sepakbola di even dunia itu? Kekuatannya adalah semangat untuk diakui jatidirinya sebagai bangsa yang setara dengan bangsa lain dan bermartabat. Perjuangan untuk diakui sebagai bangsa yang bermartabat dan sederajat inilah yang menjadi nilai utama dalam membangun kekuatan olahraga. Dan dari olahragalah mereka mulai mendapatkan pengakuan itu.
Kita perlu merenung lebih dalam. Nilai-nilai apa yang menjadi jati diri kita sebagai bangsa, dan yang akan menjadi modal utama bagi kita untuk bersaing di tingkat global? Harga diri? Rasa-rasanya kita mulai kehilangan ini di percaturan dunia. Tidak heran, Malaysiapun “melecehkan” kita dalam kasus penganiayaan utusan wasit karateka indonesia. Bahkan SBY pun “terpaksa” berdiri di barisan kedua ketika sesi foto dari pemimpin-pemimpin APEC, persis dibelakang Sultan Hasanah Bolkiah (pertanda Indonesia sudah tidak dianggap penting di Asia Pasifik?). Nilai disiplin? Kehidupan sehari-hari kita sebagai bangsa tidak nampak sebagai bangsa yang disiplin dalam berbagai hal. Kita tidak tertib dalam lalulintas. Kita tidak taat terhadap peraturan yang sudah dibuat. Kita hanya bangsa yang jago dalam membuat peraturan, tetapi pecundang dalam hal kepatuhan.
Dalam hal nilai kerja keraspun kita tertinggal. Tayangan televisi mayoritas dipenuhi dengan tayangan-tayangan yang kurang mendorong nilai-nilai seperti ini. Mentalitas kewirausahaan yang bercirikan kerja keras, kurang dibangun di negara kita. Budaya instan dan cepat puas begitu menggelora di masyarakat kita. Mari kita melihat tim sepakbola kita di pentas Asia lalu. Semangat berjuang hanya sesaat. Ketika gelora itu usai, tidak ada konsistensi kembali untuk mempertahankan performa yang sudah dicapai.
Kita “pernah” punya Pancasila, yang berasal dari nilai-nilai luhur yang menjadi jati diri kita sebagai bangsa. Dimanakah gerangan nilai-nilai itu sekarang? Sejak reformasi, pancasila seolah “tabu” untuk dibicarakan, hanya karena dianggap identik dengan orde baru. Kita sekarang kehilangan jati diri kita sebagai bangsa. Kita menjadi bangsa tanpa nilai. Tidak heran, keterpurukan kita sebagai bangsa di berbagai bidang “merosot” dengan sangat cepat. Kita menjadi bangsa yang minder, rendah diri, dan tidak memiliki semangat juang. Cermin dari kemunduran kita sebagai bangsa adalah merosotnya prestasi olah raga kita. 10 tahun lalu kita masih urutan pertama di pesta olah raga asia tenggara, sekarang kita berada di urutan keempat.
PSSI dan Nurdin Halid adalah contoh betapa kita sebagai bangsa tidak punya nilai dalam mengelola segala sesuatu. Sejak kasus Nurdin Halid mencuat di pengadilan, tidak ada ketegasan sikap dalam memutuskan apakah Nurdin Halid masih efektif atau “layak” menjadi ketua PSSI atau tidak. Apalagi sekarang Nurdin sudah divonis penjara dari Mahkamah Agung, maka demi perkembangan sepakbola yang menjujung tinggi nilai sportivitas dan moralitas, maka selayaknya Nurdin Halid mundur. Bangsa kita memang perlu belajar konsisten dan tegas dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Dan itu dimulai dari pemimpin.
Kita harus “menggali” kembali nilai-nilai jati diri bangsa kita yang mampu dipakai dalam persaingan global dalam berbagai bidang. Pemimpin haruslah memberikan teladan dalam mengaplikasikan nilai itu dalam memimpin masyarakat dan bangsa. Niscaya bangsakita ini akan kembali memiliki jati diri dan semangat untuk maju, berkembang, bersaing, bekerjasama dalam membangun kemajuan bangsa di berbagai bidang.