Film National Treasure yang dibintangi oleh aktor Nicolas Cage bercerita tentang perburuan harta karun “The City of Gold” Cibola yang berhasil ditemukan di monumen “Mount Rushmore”, setelah memecahkan serangkaian kode puzzle dalam pesan bersandi. Harta Karun yang ditemukan oleh Benyamin Gates (diperankan oleh Nicolas Cage) ini berupa warisan emas dan peninggalan-peninggalan budaya dan artefak yang tidak ternilai harganya. Film yang dilatarbelakangi oleh sejarah perang sipil di Amerika Serikat ini selain menceritakan berbagai intrik politik dimasa pembentukan Konfederasi Amerika Serikat, juga menceritakan upaya Benyamin untuk mencari kebenaran suatu sejarah melalui perburuan peninggalan budaya, artefak dan berbagai dokumen lain yang terkait dengan sejarah tersebut
Beberapa saat lalu diberitakan tentang pencurian lima arca di musium Radya Pustaka Solo yang ternyata sudah diperjualbelikan untuk dikoleksi menjadi milik pribadi seorang pengusaha ternama. Pencurian benda-benda purbakala ini ditengarai sudah berlangsung lama di berbagai tempat bersejarah di seluruh nusantara. Data resmi dari Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala Departemen Kebudayaan dan Pariwisata dalam kurun waktu 12 tahun dari 1995 -2007 tercatat 78 benda cagar budaya telah hilang. Diperkirakan kasus ini lebih besar lagi, karena banyak yang tidak terdeteksi dan dimutakhirkan datanya.
Juga berita tentang Malaysia yang berhasil mengklaim kepemilikan produk budaya nusantara melalui lagu “Rasa Sayange”, Seni angklung, Reog Ponorogo, dan Endang Dance (walaupun dua tarian terakhir sudah dihapus oleh pemerintah Malaysia setelah ada protes keras dari Indonesia). Malaysia yang terobsesi menjadi pusat budaya melayu sedunia juga terus mengincar naskah-naskah melayu klasik nusantara. Menurut Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) sejak beberapa tahun terakhir ratusan hasil penelitian dan naskah-naskah melayu klasik berhasil dibawa ke Universitas terkemuka di Kuala Lumpur.
Sekarang ini bangunan-bangunan tua dan kuno yang memiliki sejarah dan diakui sebagai warisan budaya sudah banyak yang hancur atau “dihancurkan” dengan alasan modernisasi, pembangunan ekonomi dan sebagainya. Bangunan-bangunan berarsitektur kuno dan memiliki nilai sejarah yang sejatinya merupakan saksi perkembangan budaya masyarakat di suatu kota, perlahan tapi pasti mulai tergeser oleh pembangunan gedung-gedung atau mal untuk tujuan ekonomi. Walaupun belum ada data resmi yang menunjukkan jumlah bangunan tua yang merupakan cagar budaya dari tahun ke tahun, tetapi secara kasat mata terlihat di beberapa daerah bangunan-bangunan yang dikategorikan sebagai bangunan bersejarah, telah banyak yang dirobohkan atau dialihfungsikan atau dibiarkan merana tanpa perawatan yang memadai.
Sesungguhnya kita, sebagai bangsa, memiliki “harta karun” tidak ternilai yang ada di berbagai: tradisi, budaya, situs, naskah, bangunan, artefak yang tersebar di seluruh nusantara. Harta nasional ini sangat penting untuk memahami sejarah budaya dan kehidupan masyarakat kita, termasuk sejarah bangsa kita. Nilai-nilai sejarah dan kehidupan bangsa yang terangkum dalam berbagai tradisi budaya, naskah, bangunan, artefak sangat perlu dipelihara, dilindungi, dan diturunkan dari generasi ke generasi sebagai suatu bentuk tanggung jawab untuk memperkuat jati diri kita sebagai bangsa. Ketidakmampuan kita untuk memelihara dan menjaga harta nasional akan membuat kita tercerabut dari perjalanan sejarah bangsa kita dan menjadikan kita bangsa yang limbung dan berada dalam krisis identitas.
Salah satu bukti akan ketidaksanggupan kita memelihara warisan harta nasional ini terlihat dari ketidakberdayaan kita menghadapi klaim kepemilikan seni budaya kita oleh negara lain. Musium, bangunan sejarah, naskah, artefak juga banyak yang tidak terawat dengan baik (bahkan raib). Ini menunjukkan kita tidak memiliki kebanggaan terhadap warisan harta tersebut dengan melakukan upaya-upaya perlindungan, pemeliharaan dan perawatan yang maksimal terhadap warisan budaya tersebut. Jika kebanggaan itu telah tiada, apa yang bisa kita andalkan sebagai identitas bangsa kita? Mari kita rawat harta kita.
wah, blog kontemplasi nya luar biasa pak. Saya ikut tercenung nih di sini. Sekali kali kunjungi blog saya pak http://www.entheos15.blogspot.com atau http://www.popomedi.blogspot.com atau web saya di http://www.agendastore.com atau http://www.1billiardsupplier.com
Yup bener, Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) kita gak dihargai. Malaysia juga dah ngambil batik kita lho, pdhl I really love batik..
Btw, film National Treasure-nya keren ya pak 😉