Integritas Seorang Ani


Ani, panggilan akrab Sri Mulyani, menjadi pusat perhatian masyarakat dalam beberapa bulan terakhir ini. Sejak kasus Century dibahas dalam pansus DPR, Ani tersandera secara politis oleh parlemen yang menganggap Ani sebagai pejabat yang bertanggungjawab atas kebijakan talangan bank Centrury. Oleh parlemen kebijakan tersebut dianggap sebagai kebijakan yang bermasalah. Dan karenanya Ani harus menjalani proses pertangungjawaban secara politis dan hukum.

Publik mengenal Ani sebagai seorang professional yang diakui integritasnya, tegas dalam bersikap, dan seorang reformator birokrasi di depkeu. Integritas pribadinya membuat gentar orang-orang yang tidak suka kepentingannya diusik. Dan karenanya ada upaya untuk menyingkirkannya.

 Walaupun Ani belakangan mendapatkan dukungan dari publik, namun kekuatan dukungan tersebut belum mampu menopang “ketersingkiran”nya dari jabatannya. Cepat atau lambat, Ani akan tersingkir.

Hari-hari sebelum memutuskan mundur dari jabatan sebagai Menkeu, Ani meminta kepastian hukum agar dirinya bisa bekerja dengan baik. Ia berusaha untuk bertahan terhadap terpaan badai politis dari lawan-lawannya. Namun pada akhirnya Ani tidak kuasa menolak ketika ada tawaran dari Bank Dunia. Tempat yang mungkin lebih bersahabat bagi dirinya, dibandingkan di negerinya sendiri.

Integritas Perlu Harga

Integritas Ani jelas tidak diragukan lagi. Tetapi berhadapan dengan “srigala-srigala” kepentingan, tidak cukup diperlukan kejujuran, namun juga keberanian dan pengorbanan. Daniel, Sadrakh, Mesakh dan Abednego adalah contoh pribadi-pribadi dalam Alkitab yang berintegritas dan teguh dalam keyakinan. Mereka rela mengambil resiko disingkirkan dari jabatannya. Nyawapun dipertaruhkan untuk sebuah integritas yang diyakininya. Mereka tidak mundur dari tantangan besar yang dihadapi.

 Jelas, integritas harus dilandasi dengan keberanian membayar harga. Mungkin kita akan “tersingkir” atau “disingkirkan” dalam karir profesi kita karena ketidaksukaan oleh orang-orang yang terganggu kepentingannya. Politisasi itu juga sungguh-sungguh terjadi dalam dunia kerja dan profesi kita.

Sebelumnya publik, termasuk saya, sangat berharap Ani tetap bertahan di jabatannya hanya untuk pembuktian bahwa integritas adalah segala-galanya. Politisasi dalam bentuk apapun tidak akan sanggup meruntuhkan moral orang yang memegang teguh integritas dirinya.  Jika akhirnya Ani harus menjalani pemeriksaan KPK – atas rekomendasi parlemen- maka public berharap proses hukum yang akan dijalaninya itu yang akan memperkuat integritas dirinya. Bahwa kebijakan yang diputuskannya sudah berdasarkan prinsip transparansi dan akuntabilitas yang menjadi pegangan Ani selama ini.

 Namun jika akhirnya Ani “mengalah”, tentu karena tekanan yang sedemikian besar. Bahkan Presiden, sebagai atasannyapun, tidak mampu berbuat banyak untuk menolongnya.

 Siasat

 “Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati” (Matius 10:16). Ayat ini meningatkan kita tentang kemampuan seperti apa yang seharusnya kita miliki ketika berhadapan dengan tantangan dunia sekitarnya. Kita diutus untuk berjuang dalam lingkungan yang dipenuhi oleh “srigala-srigala” yang siap untuk menerkam, memangsa dan menjadikan kita korban, meskipun kita adalah pribadi berintegritas.

 Prasyarat dasar untuk tugas pengutusan ini adalah memiliki ketulusan dan kemurnian laksana seekor merpati. Integritas adalah perpaduan antara ketulusan, kemurnian, dan tindakan. Pribadi yang berintegritas akan menggetarkan hati orang-orang di sekelilingnya. Antara rasa hormat dan kedengkian.

 Karena itu dibutuhkan kecerdikan untuk mengantisipasi bahaya dan resiko yang harus dihadapi. Bukan untuk dihindari, tetapi untuk menghitung resiko dan meminimalisirnya. Kesiapan kita untuk berhadapan dengan resiko, akan menguatkan kita jika bahaya itu benar-benar terjadi.

Ular adalah juga binatang yang berganti kulit secara periodik untuk melepaskan parasite-parasit dalam kulitnya. Kemampuan “renewel” diri sangat dibutuhkan dalam menjaga kapabilitas kita untuk tetap berjalan dalam jalur rel integritas. Jika tidak, parasit-parasit bisa menggerogoti diri kita.

Integritas adalah hal yang langka di negeri ini. Mari  kita bangun diri kita menjadi pribadi yang mampu memaknai kata itu dalam seluruh kehidupan kita.

 

Leave a comment