Oleh: Sigit Darmawan

I.
Ada satu fenomena yang mungkin terdengar asing bagi mereka yang terbiasa dengan pola hierarki tradisional: reverse mentoring. Ini adalah konsep di mana individu muda membimbing mereka yang lebih tua; karyawan junior berbagi wawasan kepada senior; dan pegawai baru membantu manajer berpengalaman memahami dunia kerja yang telah berubah cepat.
Sekilas, ini tampak seperti dunia yang dibalik. Namun di balik konsep ini, tersimpan pelajaran besar: setiap orang memiliki sesuatu untuk diajarkan, dan setiap orang memiliki sesuatu untuk dipelajari.
Jack Welch, mantan CEO General Electric, adalah salah satu tokoh pertama yang menerapkan konsep ini pada era 1990-an. Ia meminta para eksekutif senior untuk belajar teknologi digital dari karyawan muda, yang saat itu lebih akrab dengan perkembangan internet dan surat elektronik.
Konsep ini membalik tradisi. Biasanya, mentor adalah sosok yang lebih tua dan berpengalaman. Tapi dalam reverse mentoring, sebaliknya yang terjadi. Seorang eksekutif senior dapat belajar dari karyawan junior tentang cara menggunakan media sosial untuk membangun merek pribadi (personal branding), memahami tren digital, atau mendekati generasi muda secara lebih relevan.
Dalam buku The Reverse Mentoring Guidebook karya Patrice Gordon (Kogan Page, 2021), dijelaskan bahwa hubungan mentoring dua arah ini memberi keuntungan bagi kedua belah pihak. Junior menyumbangkan perspektif baru, sementara senior menawarkan panduan dan pemahaman yang lebih luas. Di era digital, relasi seperti ini sangat penting untuk menjembatani kesenjangan antar generasi serta memperkuat kapasitas inovasi organisasi.
Reverse mentoring tidak sekadar tentang belajar teknologi. Lebih dari itu, ini soal membangun empati dan pemahaman terhadap dunia yang berubah dengan cepat. Pemimpin senior sering kali kesulitan memahami apa yang memotivasi Generasi Z dan milenial. Melalui pendekatan ini, mereka dapat belajar langsung dari sumbernya.
Artikel Harvard Business Review berjudul How Reverse Mentoring Can Help Create Better Leaders (Clare Lew, 15 Oktober 2019) menyebutkan bahwa reverse mentoring membantu pemimpin memahami kebutuhan generasi muda dan menyelaraskannya dengan visi organisasi. Perspektif baru yang dibawa generasi muda sering kali menjadi sumber ide segar untuk menjawab tantangan pasar.
Studi Deloitte Insights (Leading the Social Enterprise: Reinvent with a Human Focus, Deloitte Global Human Capital Trends, 2019) menyimpulkan bahwa organisasi yang mengadopsi hubungan mentoring lintas generasi lebih cepat beradaptasi terhadap perubahan. Hubungan ini menciptakan dialog yang sehat, saling menghargai, dan memperkuat kolaborasi antar generasi dalam organisasi.
II.
Dalam konteks organisasi, reverse mentoring bekerja layaknya proses pembelajaran dua arah. Hubungan ini membantu mengurangi kesenjangan antar generasi. Para senior memperoleh wawasan baru tentang tren, teknologi, dan nilai-nilai yang dipegang generasi muda. Sebaliknya, para junior mendapatkan akses langsung pada pengalaman dan kebijaksanaan para senior.
Namun, hal ini tidak terjadi dengan sendirinya. Diperlukan kerendahan hati dari kedua pihak. Senior perlu bersedia menurunkan ego dan mendengarkan dengan pikiran terbuka. Junior juga perlu percaya diri untuk menyampaikan pandangan, tanpa kehilangan sikap hormat terhadap pengalaman dan otoritas yang lebih tua.
Julie Winkle Giulioni, dalam bukunya Reverse Mentoring: Removing Barriers and Building Belonging in the Workplace (ATD Press, 2021), menekankan bahwa keberhasilan reverse mentoring sangat bergantung pada relasi yang dibangun atas dasar saling percaya dan empati. Hubungan yang sehat akan mendorong pertukaran gagasan secara jujur, aman, dan produktif.
III.
Menariknya, reverse mentoring tidak hanya relevan di dunia kerja. Dalam kehidupan sehari-hari pun, kita semua berperan sebagai pembelajar. Seorang orang tua bisa belajar teknologi digital dari anak-anaknya. Seorang guru bisa melihat dunia dari sudut pandang muridnya. Dan generasi tua bisa merenungkan ulang nilai-nilai ketika generasi muda berbicara tentang keberlanjutan, perubahan iklim, atau keadilan sosial.
Kunci dari semua ini adalah kemauan untuk mendengar. Di tengah perubahan yang bergerak begitu cepat, tidak mungkin seseorang mampu memahami semuanya sendirian. Kita membutuhkan bantuan dan perspektif dari mereka yang hidup dan tumbuh di tengah perubahan tersebut.
Reverse mentoring mengajarkan satu nilai utama: bahwa kerendahan hati adalah fondasi pertumbuhan. Dalam dunia kerja, bisnis, bahkan keluarga, banyak hal bisa dipelajari jika kita bersedia melihat dari perspektif yang berbeda.
Ini bukan soal usia atau posisi. Ini soal kesiapan untuk mendengar, memahami, dan membuka diri. Duduk bersama mereka yang lebih muda, menanyakan pandangan mereka, dan sungguh-sungguh mendengarkan, bisa membuka cakrawala baru. Dalam setiap dialog lintas generasi, selalu tersimpan hikmah yang dapat memperkaya langkah kita ke depan.
“Tua bukan berarti tahu segalanya, muda bukan berarti tak bisa mengajarkan apa-apa. Dalam dunia yang terus berubah, kita semua adalah murid, dan kita semua adalah guru.”