Oleh: Sigit B. Darmawan

I.
Dalam dunia pelayanan Kristen, relasi antargenerasi sering kali dipahami sebagai hubungan satu arah—yang tua mengajar, yang muda mendengar. Namun jika direnungkan kembali, peran generasi muda dan tua dalam karya Allah sejatinya bisa berjalan dua arah.
Konsep reverse mentoring, yakni ketika orang muda membimbing yang lebih tua, menawarkan pendekatan baru yang berlandaskan kasih dan semangat saling belajar. Dalam praktik ini, baik mentor muda maupun mentee yang lebih tua dipanggil untuk memiliki kerendahan hati.
Keduanya perlu menyadari bahwa Allah kerap memakai generasi muda sebagai saluran hikmat-Nya. Seperti tertulis dalam 1 Timotius 4:12, “Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu, dan dalam kesucianmu.”
Reverse mentoring dalam pelayanan Kristen bukan soal siapa yang lebih tahu, melainkan tentang kesediaan untuk saling melayani dalam kasih Kristus. Kasih menjadi dasar relasi yang sehat dan membangun.
“Hiduplah dengan rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam saling membantu.” (Efesus 4:2) Kasih memungkinkan kita mendengar tanpa menghakimi dan menciptakan ruang kolaborasi antargenerasi.
Allah berulang kali memakai orang muda untuk membawa pembaruan serta menyampaikan pesan-Nya. Kisah Samuel yang menerima panggilan Tuhan saat masih muda, sementara Imam Eli menjadi pembimbingnya (1 Samuel 3), menjadi contoh nyata. Demikian pula hari ini, generasi muda menghadirkan perspektif segar yang relevan dalam pelayanan.
Prinsip utama dalam reverse mentoring adalah saling melengkapi. Generasi muda hadir dengan semangat, kreativitas, dan pemahaman atas zaman ini. Sebaliknya, generasi tua menawarkan kebijaksanaan, pengalaman, dan kedewasaan rohani.
Ketika keduanya bekerja sama, tubuh Kristus dikuatkan. Seperti dijelaskan dalam 1 Korintus 12:12–27, setiap anggota memiliki peran unik dan saling melengkapi dalam tubuh Kristus.
Alkitab mencatat banyak kisah yang dapat menjadi rujukan praktik reverse mentoring.
Pertama, kisah Samuel dan Eli. Samuel adalah anak muda yang pertama kali mendengar suara Tuhan. Ia memerlukan bimbingan Eli untuk memahami panggilan tersebut. Namun, justru melalui Samuel, Tuhan menyampaikan pesan penghakiman kepada Eli (1 Samuel 3). Ini menunjukkan bahwa pesan Tuhan dapat datang dari generasi muda kepada yang lebih tua.
Kedua, relasi Daud dan Raja Saul. Daud, seorang pemuda yang belum berpengalaman dalam militer, menunjukkan keberanian dan iman besar saat menghadapi Goliat (1 Samuel 17–24). Tindakannya bukan hanya menyelamatkan Israel, tetapi juga memberi pelajaran kepada Saul bahwa kekuatan sejati bersumber dari iman kepada Allah.
Ketiga, hubungan Paulus dan Timotius. Meskipun Paulus adalah rasul senior, ia memberi kepercayaan besar kepada Timotius, yang masih muda, untuk memimpin jemaat di Efesus (1 Timotius 1:3). Timotius membawa pembaruan bagi jemaat yang lebih tua, sambil tetap mendapatkan arahan rohani dari Paulus.
II.
Bagaimana reverse mentoring bisa diterapkan secara praktis di gereja?
Pertama, melalui program pembinaan antargenerasi. Dalam program ini, kaum muda dapat berbagi wawasan—misalnya tentang teknologi atau pendekatan baru dalam misi—kepada para pemimpin gereja senior.
Kedua, dengan membuka ruang dialog antargenerasi. Gereja dapat memfasilitasi forum terbuka agar generasi muda menyampaikan pandangan mereka terkait isu-isu sosial, budaya, dan digital yang sedang berkembang.
Ketiga, memberi ruang untuk inovasi. Generasi muda bisa dilibatkan dalam pengembangan konten digital, musik rohani modern, atau strategi penginjilan berbasis media sosial, sambil tetap diarahkan oleh generasi tua.
Keempat, pemberdayaan pelayanan digital. Dengan berkembangnya pelayanan daring, generasi muda dapat menjadi mentor dalam pengelolaan teknologi gerejawi—seperti media sosial, produksi video, dan pelayanan digital lainnya.
Reverse mentoring dalam pelayanan Kristen bukan sekadar strategi organisasi. Ini adalah wujud kasih dan kerendahan hati dalam tubuh Kristus. Generasi muda bukan hanya pewaris, melainkan rekan sekerja dalam ladang pelayanan Tuhan.
Ketika generasi muda dan tua saling belajar, saling mendengar, dan saling mengasihi, pelayanan gereja akan menjadi semakin relevan dan kokoh di tengah perubahan zaman.
Seperti tertulis dalam Amsal 27:17, “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.” Dalam semangat saling menajamkan itulah, gereja diperlengkapi untuk bertumbuh—bukan sekadar bertambah jumlah, tetapi bertumbuh dalam kedewasaan iman, sinergi lintas generasi, dan kemuliaan bagi Kristus.