Good Side of Bad – Bertahan dan Hidup dengan Produktif (1)


oleh: Sigit Darmawan

I.
Di dalam keluarga, kita selalu berpikir bahwa kasih sayang adalah lem yang bisa merekatkan segalanya. Tapi bagaimana jika yang dihadapi adalah sesuatu yang tak terlihat? Sesuatu yang bahkan dirinya sendiri tak bisa lawan?

Inilah yang terjadi pada Florence—seorang fotografer muda yang dunianya mendadak runtuh terhantam diagnosis skizofrenia. Seketika ia seperti melihat dirinya di sebuah kaca—retak, rapuh, dan terpantul dalam bentuk-bentuk yang aneh, tapi tetap ada.

Film Good Side of Bad (2023) yang disutradarai oleh Alethea lRoot ini mengajak kita menyelami kompleksitas gangguan kesehatan mental dan bagaimana keluarga menghadapi badai yang tak terlihat. Film ini diadaptasi dari novel pemenang penghargaan “Best Fiction of 2010” dari KIRKUS Discoveries, karya Beverly Olevin.

Film ini berhasil memenangkan perhargaan Best Feature di Festival of Cinema NYC dan Best Director di Albuquerque Film Festival. Dalam film ini, Lexi Simonsen bermain sebagai Florence, Jules Bruff sebagai Sara, dan Alex Quijano sebagai Peter—dua saudara yang dipaksa menghadapi kenyataan pahit bahwa Florence tidak akan pernah kembali seperti dulu.

Sara dan Peter, kakaknya, tak punya pilihan selain menghadapinya. Mereka harus memilih antara menerima atau menyerah. Keduanya berjalan di atas tali tipis antara harapan dan keputusasaan. Seperti kebanyakan dari kita, mereka ingin percaya bahwa segalanya akan baik-baik saja. Tapi, siapa yang bisa menjamin?

Namun, Good Side of Bad bukan sekadar cerita tentang gangguan kesehatan mental. Ini adalah kisah tentang keluarga yang belajar memahami apa artinya mencintai tanpa syarat. Tentang bagaimana terkadang, cinta bukan hanya soal merangkul yang baik, tapi juga bertahan bersama dalam yang buruk.

Dalam hidup, kita semua punya Florence masing-masing. Entah itu saudara, sahabat, atau bahkan diri kita sendiri. Kita semua, di satu titik, pernah atau akan berada dalam badai yang sama: mencoba mencari pegangan di tengah pikiran yang berkecamuk.

Good Side of Bad bukan tentang “sehat mental” atau tidak. Ini tentang bagaimana kita tetap ada, meski dunia di dalam kepala kita tak selalu ramah. Tentang bagaimana keluarga bukan hanya tempat pulang, tapi juga tempat bertahan.

II.
Keluarga adalah sebuah rumah di mana kita bisa merasa aman, diterima, dan dicintai tanpa syarat. Tapi bagi keluarga yang salah satu anggotanya hidup dengan gangguan kesehatan mental, rumah bisa terasa seperti ladang pertempuran. Tidak selalu ada jawaban pasti, tidak selalu ada solusi yang instan.

Kisah Florence dan saudara-saudaranya dalam Good Side of Bad hanyalah sepotong realitas dari banyak keluarga yang menghadapi tantangan serupa. Skizofrenia, bipolar, depresi, atau gangguan kecemasan (anxiety) dan sebagainya bukan sekadar label medis. Ini adalah realitas yang menyusup dalam rutinitas harian– bahkan sering tersembunyi. Realitas itu mengubah cara komunikasi, menantang kesabaran, dan pada akhirnya, menuntut keluarga untuk bertahan—dengan atau tanpa panduan.

Tapi di balik semua kesulitan itu, ada harapan. Dalam satu tahun terakhir ini, saya memfasilitasi kelompok dukungan bagi keluarga-keluarga kristen terdampak kesehatan mental, melalui Family Connecting Support Group (F-CSG). Saya bisa melihat keluarga-keluarga yang berhasil menemukan ritme baru, cara hidup yang memungkinkan mereka bukan hanya bertahan, tapi juga tetap produktif. Bagaimana mereka melakukannya?

Pertama, Menerima, Bukan Mengelak. Banyak keluarga yang pada awalnya menolak kenyataan. Tapi semakin lama mereka berusaha menghindar, semakin besar beban yang mereka rasakan. Dan langkah pertama untuk bertahan adalah menerima. Bahwa ada tantangan yang nyata, bahwa gangguan kesehatan mental bukan sekadar “kurang kuat iman,” dan bahwa tak ada jalan pintas untuk menyelesaikannya.

Sara dan Peter belajar memahami bahwa Florence tidak akan serta-merta “sembuh.” Tapi mereka bisa membantunya untuk menemukan cara hidup yang lebih baik.

Kedua, Menyesuaikan Pola Hidup. Bagi banyak keluarga, kesehatan mental anggota mereka menuntut perubahan gaya hidup. Mulai dari memastikan terapi teratur, mengelola pemicu stres, hingga menyesuaikan cara komunikasi agar bisa terhubung.

Banyak keluarga yang bahkan menciptakan rutinitas harian berbasis terapi—membantu anggota keluarga mereka tetap aktif dengan cara yang sesuai dengan kondisi mereka. Ada yang membangun bisnis dari rumah, ada yang mendorong untuk terlibat dalam seni, dan sebagainya

Ketiga, Menemukan Dukungan, Bukan Menghadapi Sendiri. Tidak semua keluarga mampu menangani gangguan kesehatan mental sendirian. Dan itu tidak apa-apa.

Dukungan bisa datang dalam berbagai bentuk—terapi keluarga, komunitas pendamping, hingga konsultasi rutin dengan psikologi atau profesional kesehatan mental. Banyak keluarga yang akhirnya menemukan titik terang setelah bergabung dengan kelompok pendukung, di mana mereka bisa berbagi cerita dengan orang-orang yang mengalami hal serupa.

Keempat, Memaknai Produktivitas dengan Cara Baru. Bagi keluarga dengan anggota yang memiliki gangguan kesehatan mental, produktif bukan berarti bekerja 8-9 jam sehari, tetapi bisa berarti sesuatu yang lebih fleksibel dan adaptif.

Kisah Florence dalam Good Side of Bad menunjukkan bahwa meski terhantam skizofrenia, dia tetap bisa menjalani hidup dengan caranya sendiri. Keluarganya belajar untuk tidak menuntutnya menjadi “normal,” melainkan membantunya menemukan keseimbangannya sendiri.

Di dunia nyata, ada banyak contoh individu dengan gangguan kesehatan mental yang tetap berkarya—penulis yang melahirkan buku hebat, seniman yang melukis dunia dengan perspektif unik, bahkan pemimpin bisnis yang mengubah cara kita melihat kerja dan produktivitas.

Bertahan dengan gangguan kesehatan mental bukanlah tentang mencapai kesempurnaan. Bukan tentang memulihkan sesuatu yang seperti sedia kala, tapi tentang belajar hidup dengan itu dan menemukan tujuan (purpose) baru.

Seperti dalam Good Side of Bad, keluarga bukan hanya tempat pulang. Ia adalah tempat bertahan, tempat berjuang, dan tempat belajar mencintai, bahkan dalam kondisi yang paling sulit sekalipun.

Leave a comment