Oleh: Sigit Darmawan

I.
Apa yang terjadi ketika para kardinal Gereja Katolik berkumpul dalam sebuah pertemuan tertutup untuk memilih pemimpin tertinggi mereka? Akhir pekan ini saya punya kesempatan untuk menonton Film Conclave yang baru tayang. Film ini mengungkap intrik, ambisi, dan dinamika kepemimpinan yang jarang terlihat oleh publik dalam penentuan pemimpin tertinggi gereja.
Conclave adalah film yang dirilis pada tahun 2024, disutradarai oleh Edward Berger, yang sebelumnya sukses dengan All Quiet on the Western Front (2022). Film berdurasi 120 menit ini merupakan adaptasi dari novel karya Robert Harris dan menampilkan aktor-aktor ternama: Ralph Fiennes, Stanley Tucci, dan John Lithgow.
Sejak perilisannya, Conclave telah meraih berbagai penghargaan bergengsi. Pada BAFTA (British Academy of Film and Television Arts) Awards 2025, film ini memenangkan empat kategori: Film Terbaik, Film Inggris Terbaik, Skenario Adaptasi Terbaik, dan Penyuntingan Terbaik. Conclave juga dinominasikan dalam delapan kategori di Academy Awards 2025, termasuk Film Terbaik dan Aktor Terbaik untuk Ralph Fiennes.
Setelah kematian mendadak Paus, Kardinal Thomas Lawrence (Ralph Fiennes) ditugaskan memimpin konklaf—pertemuan tertutup para kardinal untuk memilih Paus baru. Di balik pintu tertutup Kapel Sistina, berbagai kandidat muncul dengan agenda dan rahasia masing-masing. Sebuah intrik “politik” dalam keheningan.
Kardinal Aldo Bellini (Stanley Tucci) dikenal sebagai liberal progresif, Kardinal Joseph Tremblay (John Lithgow) sebagai konservatif tapi ambisius, dan Kardinal Joshua Adeyemi (Lucian Msamati) yang membawa perspektif gereja dari Afrika.
Kehadiran tak terduga Kardinal Vincent Benitez (Carlos Diehz), seorang kardinal “kuda hitam” dari gereja Afganistan, menambah dinamika pemilihan ini. Film ini menggambarkan bagaimana iman, politik, dan ambisi pribadi berinteraksi dalam proses pemilihan pemimpin spiritual bagi jutaan umat.
Conclave menyoroti dinamika kepemimpinan dalam organisasi besar: transparansi vs kepentingan pribadi. Meskipun berada dalam institusi religius, para kardinal menghadapi godaan untuk memprioritaskan agenda pribadi atau kelompok tertentu.
Kardinal Lawrence harus menghadapi berbagai tekanan dan konflik untuk memastikan proses pemilihan berjalan dengan integritas. Kepemimpinan gereja berada dalam krisis ketika terjadi konflik antara integritas dan moralitas.
Meskipun banyak pujian, Conclave juga menghadapi kritik: terlalu menekankan aspek politik dan intrik dan mengurangi fokus pada spiritualitas proses pemilihan Paus. Namun dalam pandangan saya, film ini justru memicu diskusi tentang kompleksitas kepemimpinan dalam konteks organisasi religius dan bagaimana manusia di balik jubah kardinal juga menghadapi dilema moral dan etika.
Conclave bukan hanya drama tentang pemilihan Paus, tetapi juga cerminan tentang kompleksitas kepemimpinan dalam organisasi besar. Film ini mengajak kita merenungkan bagaimana kekuasaan, iman, dan moralitas saling berinteraksi. Ada tantangan yang dihadapi pemimpin dalam menjaga integritas di tengah tekanan dan intrik. Sebuah perpektif provokatif untuk melihat dinamika kepemimpinan dan politik internal dalam institusi besar.
II.
Perubahan adalah sesuatu yang tidak terhindarkan dalam kehidupan, baik dalam organisasi, pemerintahan, maupun institusi religius. Namun, bagaimana perubahan itu dipimpin adalah sebuah aspek yang lebih kompleks. Apakah perubahan harus dipaksakan meski menghadapi resistensi? Ataukah ia harus terjadi perlahan agar dapat diterima? Bagaimana seorang pemimpin memastikan bahwa perubahan tetap berjalan tanpa kehilangan nilai-nilai inti organisasi?
Conclave menggambarkan dilema kepemimpinan dalam menghadapi perubahan dengan cara yang penuh ketegangan. Dalam ruang tertutup Kapel Sistina, para kardinal tidak hanya memilih seorang pemimpin baru, tetapi juga menentukan apakah gereja akan tetap bertahan dengan tradisi atau bergerak menuju reformasi.
Dari perdebatan dan konflik di dalam konklaf, kita akan bisa belajar tentang etika dalam memimpin perubahan—bagaimana keseimbangan antara perubahan dan warisan harus dijaga agar perubahan tidak menjadi kehancuran.
Setiap perubahan, sekecil apa pun, akan selalu menghadapi resistensi. Dalam Conclave, dua kubu besar—progresif dan konservatif—bertarung dalam menentukan arah gereja di masa depan.
Kelompok progresif ingin gereja lebih inklusif, adaptif terhadap zaman, dan membuka diri terhadap isu-isu modern. Kelompok konservatif ingin mempertahankan tradisi, nilai-nilai lama, dan memastikan bahwa gereja tetap menjadi institusi yang stabil dan tidak kehilangan identitasnya.
Dan ditengah persaingan dan konflik, Kardinal Benitez sang kuda hitam terpilih. Mengapa ia terpilih? Ia bukan ancaman bagi kelompok konservatif, tetapi juga tidak menutup pintu bagi kelompok progresif.
Ia dianggap bisa menjadi pemimpin yang akan menjaga keseimbangan. Ia tidak memaksakan kehendak, tetapi mencoba mendengar semua pihak sebelum membuat bersikap.
Seperti yang terjadi dalam Conclave, perubahan selalu menantang. Tapi dengan pendekatan yang etis, pemimpin bisa memastikan bahwa perubahan yang terjadi bukan hanya sekadar pergantian kebijakan, tetapi benar-benar membawa dampak yang baik bagi masa depan.