Algorithmic Leadership: Dari “Know-it-All” ke “Learn-it-All” – Evolusi Kepemimpinan


Gambar diambil dari Amazon.com

Oleh: Sigit Darmawan

I.
Di banyak ruang rapat hari ini, kita masih sering melihat pemimpin yang merasa harus punya semua jawaban. Seolah menjadi pemimpin berarti menjadi pusat pengetahuan.

Tapi zaman berubah. Dan kini, yang kita butuhkan bukan lagi pemimpin yang tahu segalanya, melainkan pemimpin yang tahu cara bertanya.

Kita memasuki dunia yang semakin sunyi dari kepastian, tapi penuh oleh data. Dunia yang tidak lagi membutuhkan suara yang keras, melainkan telinga yang mampu mendengarkan—termasuk mendengarkan suara algoritma.

Dulu, kita menghormati pemimpin karena mereka pernah mengalaminya. Karena jam terbang. Karena insting. Tetapi paradigma itu mulai retak.

Hari ini, kita hidup di tengah kompleksitas yang tak terlihat. Satu keputusan bisa memicu efek berantai yang tak terduga.

Sebuah studi dari World Economic Forum (Leadership 4.0: A Call for Conscious Leadership, 2023) menunjukkan bahwa 64% pemimpin eksekutif merasa model kepemimpinan mereka tidak lagi cocok untuk menghadapi tantangan zaman—terutama yang lahir dari teknologi, geopolitik, dan ekspektasi sosial yang terus berubah.

Di tengah situasi itu, algoritma hadir. Bukan untuk menggantikan manusia, tapi untuk menawarkan perspektif baru—lebih jernih, lebih objektif, dan lebih cepat.

Namun, apakah kita cukup rendah hati untuk mendengarnya?

II.
Thomas Malone, profesor dari MIT Sloan School of Management, dalam bukunya Superminds: The Surprising Power of People and Computers Thinking Together (2018), menjelaskan bahwa masa depan bukan soal individu jenius, tapi tentang sistem cerdas yang dibangun dari kolaborasi manusia dan teknologi.

Ia menyebutnya supermind—kerja sama antara manusia dan mesin yang saling melengkapi, bukan bertentangan.

Dalam konteks kepemimpinan, ini berarti pemimpin tak lagi harus memutuskan segalanya sendiri. Ia menciptakan ruang pengambilan keputusan kolektif, dengan bantuan sistem yang mampu membaca data secara lebih utuh dan cepat.

Sementara itu, Thomas H. Davenport dan Steven Miller, dalam Working with AI: Real Stories of Human–Machine Collaboration (2022), menegaskan bahwa keberhasilan integrasi kecerdasan buatan sangat ditentukan oleh pola pikir pemimpinnya.

Mereka mempelajari banyak kasus nyata dari sektor kesehatan, keuangan, hingga logistik. Kesimpulannya: kecerdasan buatan bukan sekadar alat bantu, tapi anggota tim yang perlu diarahkan, dijelaskan, dan dipertanggungjawabkan.

Davenport bahkan memperkenalkan peran baru seperti explainer dan sustainer—orang-orang yang menjembatani dunia algoritma dengan manusia. Dan dalam konteks ini, mungkin sudah saatnya pemimpin memainkan peran itu.

III.
Banyak perusahaan membeli teknologi. Tapi tak banyak yang tahu bagaimana menggunakannya untuk memperbaiki cara berpikir.

Laporan McKinsey (The State of AI, 2023) menunjukkan bahwa lebih dari 50% perusahaan global kini menggunakan kecerdasan buatan untuk pengambilan keputusan strategis. Tapi hanya 27% yang menyatakan bahwa para pemimpinnya benar-benar paham bagaimana sistem itu bekerja.

Sementara Deloitte (Global Human Capital Trends, 2023) melaporkan bahwa hanya 21% eksekutif global yang merasa sangat siap memimpin tim yang bekerja berdampingan dengan sistem berbasis algoritma.

Masalah utamanya bukan pada teknologinya, melainkan pada kesiapan pola pikir kepemimpinan.

Dalam bukunya Self Driving (2018), Prof. Rhenald Kasali menyentil kita: “Banyak orang hari ini tidak sedang mengemudi hidupnya. Ia hanya duduk dalam mobil yang bergerak sendiri. Cepat. Tapi tak tahu arah.”

Kepemimpinan hari ini bukan tentang seberapa cepat Anda bergerak, tapi seberapa sadar Anda terhadap arah yang dituju.

Teknologi memang memudahkan banyak hal. Tapi tanpa kesadaran, ia bisa membawa kita ke tempat yang salah—dengan sangat efisien.

Prof. Kasali tidak pernah menolak teknologi. Tapi ia selalu mengingatkan: yang memegang kemudi tetap harus manusia. Pemimpin harus tahu kapan mendengarkan mesin, dan kapan menegaskan nilai-nilai.

Belajar dari Mereka yang Sudah Memulainya

Lihat Microsoft. Di tangan Satya Nadella, mereka tidak hanya mengadopsi teknologi kecerdasan buatan, tapi juga membangun budaya belajar. Nadella menggeser pola pikir korporasi dari “know-it-all” menjadi “learn-it-all”.

Perubahan kecil secara kata, tapi besar dalam dampaknya.

Di Indonesia, Telkom Indonesia telah mengembangkan sistem Decision Intelligence untuk menyelaraskan pengambilan keputusan dengan data real-time. Bank BRI menggunakan machine learning untuk mempercepat layanan kredit mikro di wilayah yang sebelumnya sulit dijangkau.

Tapi kunci keberhasilannya bukan pada perangkat lunaknya, melainkan pada siapa yang memimpinnya.

Refleksi: Apa Arti Memimpin Hari Ini?

Mungkin, menjadi pemimpin hari ini bukan tentang siapa yang paling vokal. Tapi siapa yang paling mampu mendengarkan: Data. Sistem. Manusia. Diri sendiri.

Dan mungkin tugas kita bukan mempercepat, tapi melambat sejenak—agar kita bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Maka kita perlu diam sejenak, dan bertanya: “Apakah selama ini saya benar-benar mendengar suara data?”

One response to “Algorithmic Leadership: Dari “Know-it-All” ke “Learn-it-All” – Evolusi Kepemimpinan

  1. Refleksi yang bagus.

Leave a reply to Seta Z Cancel reply