Jesus Revolution: Kebangkitan Rohani atau Euforia Sesaat?


Oleh: Sigit Darmawan

Beberapa bulan terakhir, reel IG saya dipenuhi video anak-anak muda di kota-kota Eropa yang bernyanyi lagu spiritual di ruang-ruang publik: Roma, Paris, London, Dublin, Amsterdam. Mereka menggelar Jesus March. Berjalan sembari memuji Tuhan, berdoa, dan memberikan kesaksian iman mereka.

Fenomena ini sudah muncul di 5 tahun terakhir: Jesus Revolution(JR). Aktivitas yang mengusung semangat penginjilan terbuka, penyembahan terbuka, dan (sering) disertai “pertobatan” dan pembaptisan.

Gerakan ini tidak diinisiasi oleh gereja atau institusi besar. Ia lahir dari komunitas lokal, kelompok kampus, dan para pemuda. Mereka “haus” spiritualitas di tengah masyarakat yang masih letih karena pandemi, krisis indentitas, dan sekularisasi. Para anak muda ini menyuarakan kembali iman Kristen secara terbuka.

Sejarah Gerakan JR

Gerakan JR muncul di AS tahun 2020–2021, bersamaan dengan pandemi COVID-19. Ketika gereja ditutup, anak-anak muda berinisiatif membuat pujian dan penyembahan di ruang-ruang terbuka. Salah satu pelopornya: Sean Feucht. Ia memimpin gerakan Let Us Worship yang mengadakan konser pujian di berbagai kota AS dari sejak pertengahan 2020.

Komunitas United Revival dan Jesus March Global menguatkan gerakan ini dengan gelaran “Jesus March” di kota-kota AS mulai 2022. Gerakan ini meningkat secara masif di 2023–2024 dan menjalar ke kota-kota Eropa (Prague, Dublin, Paris, Amsterdam) dan kota-kota Afrika sampai sekarang.

Momentum terbesarnya adalah “Asbury Revival” bulan Februari 2023 di kampus Universitas Asbury, Kentucky. Aktivitas ini berlangsung 16 hari non stop dengan melibatkan 280 kampus di 39 negara bagian AS, termasuk 300 universitas internasional.

Liputan yang luas dari media Christianity Today, New York Times, CNN menjadikannya viral di media sosial. Tagar #AsburyRevival meraih ratusan juta views di TikTok, sekaligus memperkuat gema JR di kalangan mahasiswa.

Film Jesus Revolution yang rilis tahun 2023 turut memperkuat masifnya gerakan ini. Ini adalah film tentang gerakan Jesus Movement (JM) tahun 1970-an di California. Gerakan JM ini menjangkau generasi hippie yang menolak sistem, kemapanan, dan mencari makna hidup baru.

Para pemimpin JM — Chuck Smith dan Lonnie Frisbee — menyadari kebutuhan mereka. Dengan pendekatan yang kasual dan khotbah yang sederhana, gerakan ini mampu merangkul ribuan anak-anak muda.

Musik-musik Kristen kontemporer juga lahir dari gerakan JM ini: Larry Norman dan Love Song. Dan pada akhirnya gerakan ini juga memberikan pengaruh kepada wajah gereja-gereja Evangelikal di Amerika dan Eropa.

Film JR menjadi inspirasi spiritual bagi generasi muda untuk menghidupkan kembali semangat spiritual revival di masa kini. Dan JR menjelma menjadi gerakan spiritual global.

Di Eropa, acara serupa Jesus March hadir di Dublin, Prague, Paris, hingga Amsterdam melalui “Every Nation Tour Europe”. Di Afrika, March for Jesus dan konser The Experience di Lagos mencatat partisipasi hingga lebih dari satu juta orang, yang sebagian besar anak-anak muda.

Globalisasi fenomena ini menandai “kehausan” spiritual generasi muda akan iman yang “hidup”, relevan dan auntetik di masa ini.

Latar Belakang Sosial dan Kultural

“Kebangkitan spiritual” ini tidak terjadi begitu saja. Generasi Z dan milenial pasca-pandemi hidup dalam tekanan sangat besar: isolasi digital, kebingungan identitas, dan peningkatan kasus depresi dan kecemasan.

Data Gallup (2021) menunjukkan hanya 47% warga AS tergabung dalam komunitas agama– terendah sepanjang sejarah. Sementara data Gallup International Association (2022): 35% penduduk global terasosiasi sebagai tidak religius hingga ateis. Dan prosentase ini membesar di negara-negara Eropa dan AS.

Pew Research Center— lembaga riset global nonpartisan berbasis di Washington– dalam risetnya di 2022: 46% generasi muda di negara Barat cenderung percaya kepada Tuhan, namun 43% enggan terikat pada lembaga keagamaan.

Di titik inilah, JR hadir sebagai alternatif spiritual bagi anak-anak muda. Ia menawarkan iman yang terasa “hidup”, komunitas yang hangat, dan ekspresi penyembahan yang terasa otentik.

Apresiasi dan Catatan Kritis

Kita bersyukur bahwa ada semangat spiritualitas baru yang hidup dalam generasi muda:

(1) Gerakan ini menunjukkan bahwa kehausan spiritual tidak pernah mati. Setiap krisis memunculkan kesempatan baru untuk mengisi kekosongan hati dan jiwa mereka.

(2) Keberanian bersaksi di ruang publik—di tengah dunia yang cenderung meminggirkan agama—adalah tanda keberanian rohani yang langka.

(3.) Bentuk gerakan yang sangat cair, lintas gereja, dan dipimpin oleh komunitas mendorong inklusivitas dan keterlibatan setiap lapisan masyarakat kristen akar rumput.

Tetapi ini juga sebuah kesempatan yang diberikan Tuhan kepada gereja untuk memenuhinya. Namun ada beberapa catatan yang perlu dipikirkan:

(1) Euforia spiritual yang tidak disertai pembinaan yang kuat bisa mengarah pada kemandegan bahkan kegagalan pertumbuhan iman.

(2) Lemahnya dasar teologi membuat sebagian anak-anak muda ini rawan terjebak dalam kebingungan iman. Tidak cukup euforia pertobatan, harus ada pembinaan dan pemuridan yang menyertainya.

(3) Dominasi gerakan di media sosial menjadikan spiritualitas itu tampak seperti pertunjukan. Bisa jadi aktif di TikTok, tapi pasif di ruang-ruang doa dan pendalaman alkitab. Sebuah tugas yang harus dipikirkan dengan serius.

Ketika gerakan Jesus Movement tahun 1970an, organisasi para-church seperti Campus Crusade, IFES, dan The Navigators berperan penting sebagai “jembatan dan rumah pertumbuhan” bagi mereka yang mengalami kebangkitan rohani saat itu. Tanpa kehadiran ketiga organisasi itu, banyak pertobatan yang mungkin tidak bertumbuh menjadi kehidupan Kristen yang matang.

Bagaimana di Indonesia?

Apakah gerakan ini bisa terjadi di Indonesia? Jawabannya: (mungkin) bisa. Tapi bisa jadi dalam bentuk berbeda. Ada kompleksitas budaya, politik, dan agama yang menuntut pendekatan kontekstual. Namun persoalan dan isu yang dihadapi anak-anak muda di barat, juga dihadapi anak-anak muda di Indonesia.

Data riset Bilangan Research Center (2024) menyebutkan 64% generasi Z di Indonesia rutin hadir di ibadah gereja. Bukti bahwa ada kehausan spiritual. Tetapi di saat yang sama, 61% merasa gereja tidak relevan dengan pergumulan dan kehidupan mereka.

Gereja-gereja yang aktif dan tanggap merespon kebutuhan mereka ini, aktivitas pelayannya hampir selalu dipenuhi oleh anak-anak muda. Gereja yang tidak tanggap dengan kebutuhan generasi muda ini, sangat rawan ditinggal.

Pengaruh dari JR ke Indonesia masih sporadis. Ada model-model yang mirip, tetapi digerakkan oleh beberapa gereja, bukan dari komunitas anak muda.

Refleksi

Revival sejati sebenarnya bukanlah soal banyaknya orang yang hadir, viralnya konten, atau ramainya acara. Tetapi pada akhirnya diukur dari pertobatan sejati, pembaruan karakter, dan dampak nyata pada masyarakat.

Jesus Revolution bisa jadi awal gelombang besar kebangunan rohani. Tapi gerakan ini hanya akan bertahan jika dijaga dengan firman, diperkuat dengan pembinaan dan pemuridan, ditopang oleh komunitas, dan difasilitasi serta diarahkan dengan hikmat oleh pemimpin yang tepat.

Apakah kita mulai melihat fenonema revival ini di sekitar kita: di kampus, di gereja, di persekutuan dan sebagainya? Maka bersiaplah untuk menyambutnya: baik lewat lembaga para-church, persekutuan-persekutuan anak muda dan mahasiswa, maupun Gereja.

Ini kairos Tuhan!

Leave a comment